Pagi di Surabaya selalu punya cara sendiri untuk menunjukkan kekuatannya. Udara panas yang mulai menyengat sejak pukul delapan pagi tak menyurutkan langkah orang-orang di kawasan perkantoran protokol. Di lantai teratas gedung Devano Group cabang Surabaya, Candra duduk tegak di balik meja kerja jati yang dulu ditempati oleh Revan. Candra berbeda dengan kakaknya, Cakra. Jika Cakra adalah pedang yang tajam dan taktis, Candra adalah perisai yang penuh perhitungan. Namun pagi ini, konsentrasinya sedikit terganggu. Kursi sekretaris pribadinya masih kosong setelah ia memecat asisten lama yang terindikasi menjadi mata-mata Kenzo. "Mas Can, ini berkas kandidat terakhir buat sekretaris sampeyan," ucap seorang staf HRD sambil meletakkan map biru di meja. Candra hanya mengangguk tanpa menoleh. "Iya

