Pukul delapan malam. Nadira melangkah gulai memasuki ruang tamu rumahnya yag dulu penuh kehangatan, namun kini terasa dingin dan asing. Belum sempat ia melepas sepatu, suara cempreng dan tajam sudah menggelegar dari arah sofa. "Baru pulang? Bagus! Cepat ganti baju, malam ini kamu harus ke klub. Bos di sana tanya kenapa 'bintang' mereka sudah dua hari absen," ucap Ibu Mega sambil asyik mengikir kukunya. Di sampingnya, Ratna, anak kandung Mega, menatap Nadira dengan tatapan meremehkan sambil memainkan ponsel mahal yang dibeli dari uang sisa tabungan almarhum Pak Reno. "Aku sudah dapat pekerjaan tetap, Bu. Di Devano Group. Aku nggak mau kembali ke klub itu lagi," jawab Nadira pelan namun tegas. Mega berdiri, mendekati Nadira dengan mata melotot. "Pekerjaan kantoran itu gajinya berapa? Ngg

