Tidur Denganku
01
"Kamu, jahat!" pekik seorang perempuan bergaun ungu.
Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Samudra Adhitama, yang disusul tamparan di pipi kanan, tanpa sanggup dicegah pria tersebut.
Tanashree Punprede hendak menampar kembali, tetapi seorang pria berbadan tegap menghalanginya, dan mencekal pergelangan tangan kanan perempuan tersebut.
"Pergi kamu!" sentak Tanashree sambil memelototi lelaki muda yang balas menatapnya dengan tajam. "Kubilang, pergi!" jeritnya dalam bahasa Thailand.
"Maaf, Nona. Saya tidak paham maksud Anda. Tapi, saya tidak akan membiarkan Nona memukuli bos saya sekali lagi!" tegas Kenji Ardaman Jayastu, ajudan Samudra, dalam bahasa Inggris fasih.
Tanashree mengerutkan dahinya. "Bos?" tanyanya.
"Ya."
"Sejak kapan Zack menyewa bodyguard?"
"Zack, siapa, Nona?"
"Bosmu itu. Zack."
Kenji melirik ke kanan. "Abang ganti nama?" tanyanya menggunakan bahasa Indonesia.
"Enggak," sahut Samudra sambil mengusap pipinya. "Namaku, Samudra, Nona. Bukan Zack," terangnya sembari memandangi perempuan berambut panjang, yang tengah termangu.
"Samudra?" ulang Tanashree.
"Nona, dia bukan Zack," sela Yori, asisten Tanashree, yang baru tiba di tempat itu, setelah dipanggil resepsionis hotel.
Tanashree mengerjapkan mata. Dia masih terpana hingga tidak menyadari bila tangannya telah dilepaskan Kenji.
"Mohon maafkan nonaku, Tuan." Yori merunduk dua kali di depan pria berkemeja hitam. Lalu dia berkata dalam bahasa Inggris. "Sekali lagi aku minta maaf atas kesalahpahaman ini." Yori menegakkan badan, dan mengatupkan kedua tangan di depan d**a.
Samudra mengangguk. "Okay. Pastikan dia tidak salah orang lagi dan bertindak kasar seperti tadi," ungkapnya dalam bahasa serupa.
"Baik, Tuan."
Samudra melirik Tanashree yang masih terpaku. Tanpa mengucapkan apa pun, Samudra mengayunkan tungkai menuju lift. Kenji hendak menyusul, tetapi dicegah Tanashree.
"Siapa tadi nama bosmu?" tanya perempuan berkulit putih tersebut.
"Samudra Adhitama," terang Kenji.
"Kalian berasal dari mana?"
"Indonesia."
Tanashree hendak kembali bertanya, tetapi Kenji telanjur menjauh, karena dipanggil bosnya. Tanashree terus mengamati lift hingga pintu benda itu menutup.
"Nona sudah melakukan kesalahan," keluh Yori. "Bagaimana Nona bisa mengira dia adalah Zack?" desaknya.
Tanashree meringis. "Aku melihatnya masuk dari pintu utama. Otakku langsung terkoneksi ke si jahat itu. Akhirnya aku lepas kontrol dan ... ehm, menamparnya," jelasnya.
"Padahal dari jarak dekat saja sudah terlihat perbedaan mereka. Mata Zack besar, dan kulitnya lebih putih. Tuan Samudra, matanya sipit dan kulitnya khas Asia. Postur tubuhnya juga beda, Tuan Samudra lebih tinggi."
"Hmm, ya, kamu benar."
"Nona harus meminta maaf padanya. Apalagi Nona sudah menamparnya dua kali."
Tanashree kembali meringis. "Aku bingung, bagaimana caranya?"
"Undang dia makan malam dan sampaikan permintaan maaf."
"Hmm, baiklah. Kamu cari tahu dia menginap di kamar yang mana. Nanti kirim undangan ke sana."
***
Samudra mengusap pipi kirinya yang masih terasa panas, akibat tamparan perempuan tadi. Samudra menggeleng pelan, lalu dia menoleh ke kanan.
"Ken, aku nggak jadi ke acara nanti sore," cakap Samudra.
"Kenapa?" tanya Kenji yang sedang menggantungkan beberapa setelan jas milik sang bos ke lemari.
"Malu. Ada bekas jari cewek gi-la itu."
Kenji berhenti beraktivitas dan berpindah duduk ke dekat bosnya. Dia mengamati pipi Samudra, lalu dia berujar, "Bisa ditutupi alas bedak."
"Jangan coba-coba mendandaniku! Nanti jadi kayak wayang orang."
"Enggaklah. Aku perias profesional." Kenji berpura-pura menyibakkan poninya sembari melentikkan jemari kiri.
Samudra berdecih. "Dosa apa aku? Dapat ajudan mantan ben-ces gini."
"Abang jangan menyebutkan masa laluku."
"Sampai kapan pun akan kusebut. Biar pacarmu ilfil."
"Abang, tuh, iri. Aku punya pacar. Abang, bujang lapuk."
"Se-tan!"
Bunyi bel mengagetkan keduanya. Kenji bangkit berdiri dan jalan untuk membuka pintu. Dia mendengarkan penuturan petugas hotel, lalu Kenji menerima nampan yang diulurkan pria itu.
Kenji menutup pintu, lalu memutar tumit dan jalan menuju sofa. Dia meletakkan piring besar berisi cake cokelat ke meja.
"Dari mana ini?" tanya Samudra sambil menerima piring kecil dan sendok yang diberikan ajudannya.
"Nona Tanashree Punprede," jawab Kenji sembari memotong cake dan memindahkannya ke piring sang bos.
"Siapa dia?"
"Perempuan gi-la yang nampar Abang, tadi." Kenji menunjuk kartu kecil di nampan. "Dia ngajak Abang dinner," lanjutnya.
"Kapan?"
Kenji mengambil kartu itu dan membaca deretan kalimat yang tertera di sana. "Malam ini. Di restoran R. Sekitar 700 meter dari sini."
"Kok, kamu tahu letaknya?"
"Ada denahnya ini, Bang."
"Kirain kamu pintar. Kayak Abang sepupumu."
"Tolonglah, jangan membandingkanku dengan dia. Aku selalu kalah."
"Jelas itu. Zikria itu ganteng, sangat cerdas, gesit dan alim. Makanya disayang Wirya dan para bos PBK."
"Cukup, Bang. Aku tersungging."
"Bodo amat."
Matahari bergerak cepat meluncur ke senja. Langit kian menggelap, seiring dengan perubahan waktu.
Tepat jam 8 malam, Samudra tiba di restoran R. Dia mengikuti langkah pegawai restoran menuju lantai 2, sedangkan Kenji menunggu di meja terdekat dengan pintu.
Pelayan restoran menggeser pintu abu-abu dan mempersilakan Samudra memasuki ruangan. Seorang petugas lainnya bergegas menyajikan hidangan, kemudian kedua pelayan itu keluar sambil menutup pintu dengan pelan.
Tanashree memaksakan senyuman. Dia mengarahkan tangan kanan untuk mempersilakan Samudra duduk di kursi seberang.
"Terima kasih sudah mau datang, Tuan," ucap Tanashree memulai percakapan dalam bahasa Inggris berlogat unik.
"Aku ke sini, karena penasaran. Bagaimana kamu bisa mengiraku sebagai Zack?" tanya Samudra.
"Ehm, itu karena ... wajah kalian cukup mirip."
"Dia itu, siapa?"
"Mantan tunanganku."
Samudra mengerutkan dahi. "Kutebak, dia meninggalkanmu."
"Betul."
"Hubungan kalian berakhir kacau, dan kamu membencinya."
"Yes, you're right."
"Dan aku kena si-al. Hanya karena mirip dia."
"Pardon, me. Si al, apa itu?"
"Umpatan dalam bahasa Indonesia. Artinya, menderita nasib buruk."
Tanashree menggigit bibir bawah. Dia benar-benar malu, karena bertindak gegabah, hingga berani menampar pria berkemeja hitam pas badan di hadapannya.
"Aku minta maaf, Tuan. Aku terbawa emosi, hingga tidak melihat perbedaan kalian," ungkap Tanashree.
Samudra tidak langsung menjawab. Dia mengamati perempuan yang harus diakuinya cantik, sambil memikirkan ide untuk mengerjai Tanashree.
"Aku akan memaafkanmu, tapi kamu harus melakukan sesuatu buatku," jelas Samudra dengan santai.
"Apa itu, Tuan?" tanya Tanashree.
"Tidur denganku."
Tanashree membulatkan matanya. "Tidak mau!"
Samudra melengos. "Kalau begitu, aku mau melaporkanmu ke polisi, karena telah menamparku dua kali, dan dilakukan di depan umum. Itu membuatku sangat malu."
Tanashree mengeraskan rahang. Dia tidak mengira jika pria di hadapannya itu ternyata berniat tidak baik. "Aku akan melakukan hal yang lain, tidak yang itu."
"Aku tidak membutuhkan yang lainnya. Aku hanya mau itu."
"Begini saja. Aku akan menyewakan perempuan cantik buatmu."
Samudra menggeleng. "Aku tidak mau orang lain. Kamu yang menamparku. Jadi kamu yang harus bertanggung jawab."
"Tapi ...."
"Kita makan dulu, sambil kamu memikirkannya dengan tenang."
Tanashree hendak membantah, tetapi Samudra mengabaikannya dan justru sibuk bersantap.
Selama beberapa saat suasana hening. Hanya bunyi peralatan makan yang terdengar. Selebihnya sunyi.
Samudra mengecek arloji di tangan kirinya. "Bagaimana?" tanyanya sembari menatap Tanashree lekat-lekat.
"Aku tidak mau," sahut Tanashree.
Samudra mengangkat bahunya. "Okay. Aku pergi, dan sampai bertemu di kantor polisi."
Samudra berdiri sembari merapikan kemejanya. Pria berbadan jangkung itu berbalik dan jalan ke pintu sambil menghitung dalam hati.
"Tunggu!" seru Tanashree sembari berdiri.
Samudra tetap diam dan berpura-pura mengabaikan perempuan yang tengah menghampirinya.
"Baik. Aku setuju," tutur Tanashree sembari berpindah ke depan Samudra. "Tapi, tidak di kota ini," pintanya.
"Kenapa?" tanya Samudra.
"Aku cukup terkenal di sini. Akan timbul berita tidak nyaman jika ada yang melihat kita bersama."
"Lalu, kamu mau di mana?"
"Hua Hin."
"Okay. Kita berangkat sekarang."
"Aku tidak bawa pakaian ganti."
"Tidak perlu, karena kamu akan terus polos, bersamaku."