Bab 02

1059 Kata
02 Tanashree menatap pantulannya di cermin. Dia gelisah, karena akan berhubungan intim dengan pria asing, yang baru dikenalnya pagi tadi. Tanashree mendengkus pelan. Meskipun itu bukan pengalaman pertamanya, tetapi Tanashree hanya melakukan itu di masa lampau, dengan Zack. Mengingat sosok pria blasteran Prancis itu, menjadikan Tanashree menggerutu dalam hati. Sebab kemarahannya pada Zack, menjadikan Tanashree gelap mata dan melakukan tindakan ceroboh. Yaitu menampar Samudra. Panggilan dari luar memutus lamunan Tanashree. Dia menguatkan hati, sebelum bergeser ke dekat pintu dan membuka kuncinya. Samudra memandangi perempuan bergaun marun yang tengah berdiri di lorong. Samudra nyaris tergelak, karena wajah Tanashree terlihat pucat. "Kemari," panggil Samudra, sambil menepuk sofa. Tanashree tidak menjawab. Dia menahan debaran kencang dalam d**a, lalu mengayunkan tungkai dengan lambat. Tanashree berhenti di dekat sofa tunggal dan duduk dengan punggung tegak. "Relaks, Nona," seloroh Samudra. "Bagaimana aku bisa tenang? Kamu orang asing," balas Tanashree. "Ya, kita memang baru kenal. Tapi, kamu yang memulai semua kerumitan ini. So, kamu harus mengganti kerugianku, dengan tubuhmu." Tanashree mendelik. "Jangan banyak bicara. Segera selesaikan, karena aku ingin pulang." Samudra menggeleng. "Ini sudah larut, Nona. Pengawalku pasti sudah lelah, dan tidak sanggup menyetir lagi." "Aku sudah menelepon Yori, dan dia akan datang menjemputku." Samudra kembali menggeleng. "Apa kamu pikir, semuanya selesai hanya dengan satu kali tidur bersama?" Tanashree mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu?" "Kamu sudah menamparku dua kali. Jadi, kita akan menghabiskan waktu dua hari di sini." Tanashree membeliakkan mata. "Tidak mau!" "Jangan teriak. Telingaku sensitif." Tanashree membuka highheels dan melemparkan benda itu pada lelaki bermata sipit, yang refleks berkelit. "Kamu emosional sekali," keluh Samudra. "Kamu yang memancingku marah!" desis Tanashree. "Sepertinya kamu harus terapi ke psikiater. Supaya kemarahan di masa lalu bisa ditekan." "Apa pedulimu?" "Sebetulnya aku tidak mau peduli, tapi, kemarahanmu pada Zack itu akhirnya menyeretku dalam masalah kalian. Padahal aku tidak tahu apa-apa. Kenal pun, tidak." Tanashree mendengkus kuat beberapa kali. Dia hendak membantah, tetapi lidahnya kelu, dan mulut pun seolah-olah terkunci. Tanashree mengerjapkan matanya yang mengabut. Rasa kesal, lelah, sekaligus kecewa, bercampur menjadi satu dalam benaknya. Kala rasa sakit itu membuncah, Tanashree terisak-isak sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Samudra tertegun sesaat. Dia ingin mengabaikan Tanashree, tetapi tangisan perempuan itu terdengar pilu, dan menyebabkan hatinya mencelos. Samudra bangkit berdiri dan berpindah duduk ke sandaran kursi yang ditempati Tanashree. Samudra mengusap pelan punggung perempuan tersebut, yang tengah berusaha menghentikan tangisannya. Sekian menit berlalu dalam keheningan. Tanashree akhirnya bisa menguasai diri dan berhenti menangis. Dia menyeka wajah dengan gumpalan tisu yang sejak tadi digenggamnya. Namun, tisu itu tidak cukup kuat untuk menampung cairan hidung. Samudra meraih saputangan biru dari saku celana, dan memberikan benda itu pada Tanashree. Samudra tetap diam sembari mengamati perempuan yang tengah sibuk mengeringkan wajahnya. "Ehm, saputanganmu kotor," ucap Tanashree dengan menahan malu. "Nanti kucuci dulu," lanjutnya. "Tidak usah. Ambil saja buatmu," sahut Samudra. Dia menyambar gelas di meja dan mengulurkan benda itu ke sang nona. "Minumlah. Setelah itu, kita mulai acaranya," sambungnya. Tanashree mengerucutkan bibir. Dia mengomeli pria itu dalam hati, karena Samudra ternyata tetap menagih janjinya. Tanashree terkesiap kala Samudra berdiri dan melepaskan kancing kemejanya. Tanashree seolah-olah terhipnotis dan tidak bisa mengalihkan pandangannya. Dada Samudra yang bidang, dan perutnya yang berotot, menjadikan tampilannya sangat gagah. Ditunjang dengan badannya yang tinggi, membuat pria itu nyaris sempurna. Tanashree menjengit saat Samudra mengulurkan tangan kanannya. Tanashree sempat tercenung sesaat, sebelum menggapai tangan itu dengan ragu-ragu. Samudra melangkah cepat menuju tempat tidur. Tanashree terhenyak saat pria itu memintanya berdiri di dekat ranjang. Tanashree terkejut, waktu Samudra menariknya mendekat. Dia belum sempat memprotes, ketika pria itu meminta Tanashree menduduki pahanya. Samudra mengarahkan kedua tangan Tanashree ke lehernya. Pria berponi panjang itu tersenyum tipis, sebelum menarik leher Tanashree agar wajah mereka bertemu. Ciuman lembut dilancarkan Samudra, sambil mengusap lengan Tanashree dengan pelan. Pria itu sengaja berlama-lama, agar Tanashree tidak tegang. Tanashree merutuki tubuhnya yang membantah perintah otak. Alih-alih menjauh, Tanashree justru kian merapatkan tubuhnya hingga menempel ke d**a Samudra. Gumaman yang lolos dari mulut perempuan berhidung bangir, menjadikan hasrat Samudra mencuat. Dia memperdalam pagutan, sembari menggerakkan jemarinya dengan lincah. Hingga gaun Tanashree terlepas. Samudra memutus pagutan dan beralih menciumi leher Tanashree. Samudra mempercepat gerakan tangan hingga penutup bukit kembar itu terbuka, dan menampilkan pemandangan indah. Tanashree mendesah ketika Samudra menggeser bibirnya menuju area itu. Lenguhan Tanashree menyebabkan Samudra kehilangan akal dan segera membaringkan perempuan tersebut ke kasur. Sisa penutup tubuh terlepas dan berjatuhan ke lantai. Samudra kembali menciumi bibir Tanashree yang meresponsnya dengan kehangatan yang sama, dan membuat pria itu makin tidak sabar. Jeritan tertahan meluncur dari bibir Tanashree, kala Samudra menyatukan tubuh mereka dengan cepat. Tanpa sadar Tanashree melengkungkan tubuh, sembari mengiringi gerakan Samudra yang sangat bersemangat. Seisi ruangan menjadi saksi penyatuan dua insan, yang melupakan jika mereka tidak saling mengenal. Keduanya terus bergerak, dengan diiringi lenguhan dan erangan yang nyaris tanpa henti. *** Tanashree mengedipkan mata, kala secercah sinar menerobos dan tepat mengenai matanya. Perempuan itu menempelkan telapak tangan kiri ke depan mata, untuk melindungi penglihatannya. Setelah bisa membiasakan diri dengan cahaya terang, Tanashree memindai sekitar yang terasa asing. Tanashree meringis seusai mengingat kejadian kemarin malam. Dia bangkit duduk sambil celingukan mencari pakaiannya. Pintu kamar mandi terbuka dan seorang pria keluar, dengan hanya berlilitkan handuk putih di pinggangnya. Samudra menyunggingkan senyuman, sembari melenggang menuju meja rias. Dia membuka paper bag, lalu mengeluarkan bungkusan plastik bening. "Ini titipan dari Yori," ujar Samudra sambil menyerahkan bungkusan itu pada Tanashree. "Dia, ada di mana sekarang?" tanya perempuan yang rambutnya kusut, sembari membuka kantung plastik bening dan mengeluarkan isinya ke kasur. "Di restoran. Sama Kenji." "Ehm, aku lapar." "Aku sudah memesan makanan. Kamu, mandi dulu." "Aku mau bertemu Yori." "No. Kamu tetap di sini." "Tapi ...." "Urusan kita belum selesai, Nona. Kemarin itu, baru sekali. Kamu masih utang 1." Tanashree mencebik. "Tidak bisakah ditunda? Siang nanti aku ada meeting penting." "Batalkan." "Tidak bisa. Klienku ini pebisnis besar." "Siapa namanya?" "Vong Lei Xander." Samudra mengangkat alisnya, lalu dia mengangguk. "Aku kenal. Nanti kuhungi dia dan meminta rapatnya dialihkan ke lain waktu." Tanashree terperangah. "Benarkah kamu bisa melakukan itu?" "Ya. Aku dan dia, sama-sama tergabung di PG. Kami cukup dekat, dan sering hang out bersama." "Ehm, PG itu, apa?" "Perusahaan gabungan. Disingkat PG. Anggotanya, 50 pebisnis muda berdarah Indonesia." "Aku baru dengar tentang itu." "Nanti kujelaskan. Sekarang, kamu mau mandi, atau menontonku yang mau berpakaian?" Tanashree spontan mendelik. Dia berdiri sambil membungkus badannya dengan selimut. Tanashree jalan secepat mungkin ke toilet, dengan diiringi tatapan jahil dan senyuman usil Samudra.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN