Bab 03

1051 Kata
03 Bunyi televisi mengiringi acara bersantap pagi itu. Tanashree yang benar-benar kelaparan, menghabiskan semua bagiannya. Perempuan itu bahkan mengambil salad buah milik Samudra, dan menghabiskan makanan itu dengan cepat. Samudra mengamati perempuan bersetelan ungu di samping kirinya. Sudut bibir pria itu mengukir senyuman, karena merasa lucu dengan tingkah Tanashree yang seolah-olah sangat kelaparan. Bunyi ponselnya menjadikan Samudra mengalihkan tatapan. Dia menggapai benda itu dari meja guna membaca nama pemanggil, lalu dia menekan tanda hijau pada layar dan menempelkan ponsel ke telinga kanan. "Ya, Xan," sapa Samudra dalam bahasa Indonesia. "Aku baru baca chat Abang," balas Vong Lei Xander. "Beneran dia sama Abang lagi holiday?" tanyanya. "Hu um." "Jangan bilang, kalian tinggal sekamar." "Begitulah." "Astaga!" "Biasa aja. Kamu, kan, tahu, aku sangat memesona." "Huek!" "Jorok!" "Baiklah. Abang memang memesona, tapi kalau ada Koko Dante dan Bang Zulfi di situ, Abang kelibas. Sama Bang W aja, level Abang di bawahnya." "Cukup membanggakan mereka. Aku sudah kebal." Tawa Xander terdengar dari seberang telepon, sedangkan Samudra mengulum senyuman. Setelah gelakak Xander berhenti, dia meminta untuk berbicara dengan Tanashree. Perempuan itu mengambil ponsel dari Samudra. Tanashree berdeham sembari menempelkan ponsel ke telinga kiri. Sebelum dia menyapa Xander dalam bahasa Thailand. "S̄wạs̄dī txn chêā khrạb phī̀ chāy," tukas Tanashree. "Selamat pagi, Nona," sahut Xander dalam bahasa serupa. "Rapat kita tunda ke Rabu pagi," lanjutnya. "Baik, dan terima kasih atas pengertiannya." "Kembali kasih." Xander berpikir sesaat, lalu dia berkata, "Abangku itu, memang sedikit gila, tapi sebenarnya dia baik." "Abang?" "Ya, Bang Samudra itu Kakak sepupuku. Orang tua kami bersaudara." Tanashree menatap tajam pria berkaus hitam, yang balas memandanginya sambil mengedipkan mata kiri. Tanashree memaki Samudra dalam hati, yang telah membohonginya. Seusai menutup sambungan telepon, Tanashree meletakkan ponsel ke meja. Dia meraih gelas dan meneguk minumannya, lalu meletakkan benda itu ke tempat semula. "Ternyata, kalian bersaudara," cakap Tanashree menggunakan bahasa Inggris. "Ya. Ibunya Xander adalah Adik papaku," terang Samudra. "Margamu, berarti Vong juga?" "Bukan. Aku, Bun. Dalam bahasa Indonesia, jadi Adhitama." "Kenapa bisa berbeda?" "Marga itu diturunkan dari garis laki-laki. Ayahnya Xander bermarga Vong. Anaknya juga begitu." Tanashree mengangguk paham. "Aku lupa silsilah dalam keluarga China." "No problem, Dear." "Ehm, kamu ke sini, untuk apa?" "Aku dan Xander, ditugaskan semua saudara kami, untuk membuka bisnis baru di sini." "Bisnis apa?" "Macam-macam. Terutama bidang properti." "Kakak iparku, Alvredus, juga pengusaha properti." "Xander pernah menyebut namanya." "Apa kamu pernah bertemu kakakku?" "Belum pernah, tapi setelah berbincang denganmu, aku jadi ingin berjumpa dengannya." Tanashree manggut-manggut. "Mungkin nanti kalian akan bertemu." "Ya." "Berapa jumlah saudaramu?" "Yang kandung, cuma 1. Namanya Sabrina." "Apa dia sudah menikah?" "Yups, dan anaknya sudah 3." "Kamu, apa sudah menikah?" "Belum." "Kenapa?" "Aku menunggumu menjawab iya." Tanashree melengos. Dia menggerutu dalam hati, karena Samudra ternyata pandai merayu. Perempuan itu kaget, kala Samudra bergeser ke kiri dan mengamatinya lekat-lekat. "Ayo, kita tuntaskan janjimu. Setelah itu, kita pulang," ucap Samudra. "Aku baru selesai makan," tolak Tanashree. "Nanti saja," lanjutnya. Samudra tidak menjawab. Pria itu justru mengulurkan tangan kiri untuk memegangi tengkuk Tanashree. Samudra menarik perempuan itu hingga terpaksa maju, lalu dia menyatukan bibir mereka dan memulai cumbuan. *** Lembayung senja telah menggelap, saat Tanashree tiba di mansionnya, yang berada di roof top hotel milik keluarganya. Tanashree berbaring di ranjang, sembari memerhatikan Yori yang sedang berbincang dengan seseorang, melalui sambungan telepon. Tanashree memejamkan mata. Dia mengeluh dalam hati, kala paras Samudra berkelebat dalam benaknya. Tanashree seakan-akan masih bisa merasakan pelukan erat pria itu, saat mereka mencapai puncak kemesraan secara bersamaan. Tanashree menggeleng pelan, ketika terbayang kembali percintaan kedua mereka, yang jauh lebih panas dari yang pertama. Tanashree tidak memahami, bagaimana Samudra bisa memancing sisi liarnya, yang bahkan belum bisa digugah Zack. Mengingat sosok mantan kekasihnya itu, menjadikan Tanashree kesal. Dia membuka mata sambil mengeraskan rahang. Masih marah pada Zack yang telah membuat dunianya hancur. Tanashree mengalihkan pandangan ke dekat lemari, di mana gaun pengantinnya terpasang di manekin. Dia sengaja menyimpan gaun itu, karena akan membuatnya teringat sosok pembuatnya, yang juga telah mengkhianatinya bersama Zack. Merry, merupakan salah seorang desainer khusus gaun pengantin. Mereka bertemu di pagelaran fashion 4 tahun silam, dan sejak saat itu mereka berteman cukup akrab. Tanashree memercayakan semua rahasianya pada Merry, karena yakin bila perempuan itu dapat dipercaya. Tanashree tidak mengetahui, bila Merry telah menceritakan hal itu pada Zack, yang ternyata merupakan kekasihnya. Kedua orang tersebut membuat rencana untuk menguras harta Tanashree, dengan Zack berpura-pura mencintai perempuan itu, hingga berhasol membujuk Tanashree untuk menikah. Rencana mereka nyaris berhasil, sebelum kebusukan mereka terbongkar oleh detektif sewaan Calix, Kakak kedua Tanashree, tepat beberapa hari sebelum pernikahan Tanashree dan Zack dilangsungkan. Orang tua Tanashree melaporkan Zack dan Merry ke polisi. Namun, saat didatangi ke apartemen Zack, pria itu telah kabur. Begitu pula dengan Merry. Kabar terakhir menyebutkan jika kedua orang tersebut telah berada di Prancis, negara asal keluarga Zack. Panggilan Yori memutus lamunan Tanashree. Dia mendengarkan penuturan Yori, lalu Tanashree mengangguk mengerti. "Nona mau makan sekarang?" tanya Yori sembari berpindah duduk ke tepi ranjang. "Tidak, nanti saja. Sekarang, aku mau tidur," sahut Tanashree. "Baik. Aku kembali ke kamar." Sekian menit berlalu, Tanashree masih melamun sembari memandangi dinding kamar. Tiba-tiba dia memiliki ide untuk membalas dendam pada Zack, dengan cara yang tidak melanggar hukum. Tanashree meraih tasnya dari meja kecil sebelah kanan ranjang. Dia mengambil ponsel untuk menghubungi Samudra, yang langsung menyahut pada deringan ketiga. "Apa kamu sudah merindukanku?" tanya Samudra. Tanashree mendengkus pelan. "Tidak," jawabnya. "Aku kecewa. Harusnya kamu jawab iya, dan aku akan langsung naik ke mansionmu." Tanashree memutar bola mata. "Aku butuh bantuanmu." "Jadi partner ranjang?" "Kenapa pikiranmu selalu ke sana?" "Karena aku suka bercinta denganmu." "Tolong, ini serius." "Hmm, tentang apa?" "Aku butuh bantuanmu, untuk memberi pelajaran pada Zack." "Pelajaran apa? Matematika? Fisika? Kimia? Atau ilmu bumi?" Tanashree mengumpat pelan, sedangkan Samudra justru terbahak. Tanashree menguatkan diri untuk menuntaskan ucapannya, yang seketika menghentikan tawa Samudra. "Kalau aku setuju, kamu mau membayarku?" tanya Samudra. "Ya, sebutkan jumlahnya," balas Tanashree. Samudra berpikir sejenak. "Aku tidak meminta uang, Dear, karena aku sudah kaya." "Lalu, kamu minta apa?" "Kamu jadi istriku." "Tidak bisa." "Harus bisa." "Kita baru kenal. Benar-benar asing." "Kita sudah berbagi peluh, Nona. Bukan orang asing lagi." "Tapi ...." "Menjadi istriku, dijamin bahagia." "Aku sudah kaya dan tidak perlu hartamu." "Bukan tentang harta, Nona, tapi kebahagiaan batin," ungkap Samudra. "Aku akan menjadikanmu ratu di istanaku. Aku juga akan menjagamu, baik dalam keadaan sadar, ataupun tidak," akunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN