Bab 07

1032 Kata
07 Frans Adhitama tercenung, sesaat setelah mendengar penuturan putra sulungnya, yang menelepon dari Bangkok. Frans menatap istrinya yang tampak penasaran, sebelum pria tua itu menekan tombol pengeras suara, supaya Liliyana bisa ikut mendengarkan ocehan Samudra. Seperti halnya sang suami, Liliyana juga kaget dengan berita itu. Namun, sekian detik berikutnya, perempuan tua tersebut menyunggingkan senyuman bahagia. "Siapa tadi namanya, Sam?" tanya Frans. "Tanashree Punprede. Panggilannya, Ree," jelas Samudra dari seberang lautan. "Umurnya?" "30." "Kerja apa?" "Direktur keuangan di hotel milik papanya." "Dia anak keberapa?" "Bungsu, dari 3 bersaudara. Kakak tertuanya perempuan, yang nomor 2, laki-laki." "Pendidikan terakhir?" "Pa, dia mau jadi menantu. Bukan lagi melamar kerja." "Papa cuma ingin tahu, Sam. Bukan mau interview dia." "Hmm. Dia S2 jurusan keuangan." "Tempat tanggal lahir?" "Bangkok, 19 Desember." "Loh, cuma beda 1 hari dengan tanggal lahirmu." "Keren, kan? Dia memang jodohku." "Papa mau ketemu dengannya." "Ke sinilah. Bantu aku, supaya ortunya terima lamaranku." "Apa?" pekik Liliyana. "Sam, kamu sudah melamarnya?" desaknya. "Sudah, Ma," jelas Samudra. "Aduh! Harusnya ajak kami. Kalau cuma kamu sendiri yang datang, kesannya nggak sopan." "Ini darurat, Ma. Aku mesti yakin dulu, Ree terima lamaranku. Baru aku ngomong ke kalian." "Kamu bikin Mama kaget." "Sorry." "Sam, pesankan hotel. Lusa kami berangkat," sela Frans. "Oke, tapi jangan pengumuman dulu ke keluarga kita, Pa," jelas Samudra. "Kenapa?" "Aku ngeri ditolak, tapi keluarga sudah heboh duluan." "Papa nggak akan biarkan kamu ditolak. Kalau perlu, culik aja dia." Cubitan Liliyana mendarat di perut suaminya yang spontan meringis. "Papa, otak kriminal!" desisnya. "Ini kesempatan bagus, Ma. Cewek itu mau. Padahal banyak cewek lain nolak Sam dengan berbagai alasan," kilah Frans. "Iya, tapi jangan nyaranin Sam buat nyulik anak orang." "Yang penting dia nikah dan kita punya menantu. Lalu bisa nambah cucu. Beres perkara." Gelakak Samudra terdengar dari seberang lautan. Frans turut terkekeh, sedangkan Liliyana hanya tersenyum sembari menggeleng pelan. Sementara itu di mansionnya, Tanashree tengah mencurahkan kegundahannya pada Arthit. Pria berkacamata itu manggut-manggut, sembari sekali-sekali membetulkan letak kacamatanya. Yori muncul dari pintu depan sambil mendorong troli. Dia berhenti di dekat sofa panjang, lalu menyajikan hidangan ke meja. Setelahnya, Yori duduk di sebelah kiri sang nona, dan turut mendengarkan percakapan itu sambil mengunyah keripik kentang. "Menurutku, dia sangat berbeda dari Zack, Dear," tutur Arthit. "Saat kamu pingsan itu, kami berbincang lama, dan aku bisa merasakan jika dia pria berhati baik, cerdas, dan powerfull. Sifat minusnya, keras kepala, pemaksa, dan kadang lost control saat bicara," lanjutnya. "Hmm, ya. Kamu benar," sahut Tanashree. "Jawab dengan jujur. Apa kamu mencintainya?" Tanashree tertegun sesaat, lalu dia menggeleng. "Belum sampai tahap itu." "Lalu, apa yang membuatmu menerima lamarannya?" "Karena dia memaksa." "Seperti apa?" "Dia ... ehm ... aku tidak bisa cerita." Arthit mengangkat alisnya. "Kutebak. Dia memaksamu saat kalian sedang bercinta. Betul?" Tanashree meringis. "Bagaimana kamu bisa menebaknya?" "Pria dengan karakter pemaksa itu, caranya akan sama dengan dia. Senang mengintimidasi, sampai lawannya kalah dan menuruti keinginannya." Tanashree mendengkus pelan. "Jalan hidupku benar-benar buruk. Semua pria yang dekat denganku, sifatnya begitu semua." Arthit mengulum senyuman. "It's okay, Dear. Setidaknya dia sangat jantan dan berani menemui Paman serta Bibi. Itu menunjukkan jika dia serius padamu." "Ya, harus kuakui itu salah satu kelebihannya. Beda dengan si du-ngu itu." "Jangan diingat lagi. Kamu fokus ke Bang Sam." "Kenapa kamu memanggilnya dengan sebutan Bang?" "Dia jauh lebih tua dariku, dan aku juga hanya mengikuti panggilan Kenji dan Kairav, serta Xander, padanya." *** Ruang rapat di kantor cabang VCAZ di Kota Bangkok, siang itu tampak ramai orang. Mereka tengah mendengarkan penjelasan Xander, tentang proyek baru yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Setelah Xander duduk, giliran Samudra yang berdiri. Pria jangkung itu menjelaskan mega proyek yang dipimpin 4 klan, yang hendak dibangun di Chengdu dan Shenzen, pada awal bulan April tahun depan. Dua orang pria yang matanya sama-sama sipit, mengamati Samudra dengan saksama. Mereka beberapa kali saling melirik, lalu kembali fokus memerhatikan pria bersetelan jas biru tua tersebut. Puluhan menit terlewati. Rapat telah usai. Hampir semua orang sudah meninggalkan ruangan dan hanya tersisa segelintir orang di sana. Samudra dan Xander terlibat perbincangan serius tentang bisnis properti di China, pada kedua pria tadi. Setelahnya, Calix Punprede dan Alvredus alias Somchai Kittisak, mengalihkan percakapan ke hal yang lebih pribadi. "Ya, aku sangat menyukai Adik kalian," ujar Samudra. "Kami memang baru kenal sebulan lebih, tapi dari beberapa kali pertemuan dan komunikasi yang intens, aku tidak ragu untuk menjadikannya istri," akunya. "Maaf, Sam. Aku masih syok," papar Calix, Kakak kedua Tanashree. "Tidak apa-apa. Aku paham," jawab Samudra. "Jika aku berada di posisimu, aku juga pasti kaget," sambungnya. "Aku sebetulnya tidak masalah. Siapa pun yang dipilih Ree, akan kuterima jadi ipar. Hanya saja, aku khawatir, kejadian buruk di masa lalunya akan terulang." Samudra mengangguk mengerti. "Itu wajar. Aku punya Adik perempuan. Waktu dia bilang mau menikah, refleksku sama denganmu. Walaupun aku sudah kenal lama dengan suaminya itu, tetap saja aku cemas jika nantinya adikku tidak bahagia." "Ya, itulah yang kurasakan saat ini. Apalagi, kamu orang asing dari negara lain pula. Keluargaku harus sangat berhati-hati sebelum mengambil keputusan." Samudra manggut-manggut. "Apa orang tuamu sudah ada kepastian?" "Belum." "Orang tuaku akan datang sore ini. Tolong sampaikan ke orang tuamu. Besok sore, kami akan berkunjung." "Baik. Akan kusampaikan." "Sekarang, apa kalian punya acara lain?" "Aku, free." "Aku juga sama," sela Alvredus. "Ikut dengan kami. Kita lunch di restoran milik kerabat. Mereka baru buka cabang. Lokasinya tidak jauh dari sini." Keempat pria itu berdiri dan jalan keluar ruangan. Kenji dan Kairav, serta kedua asisten lainnya, segera berdiri dari sofa ruang tamu. Mereka mengekori langkah para bos yang bergerak menuju lift. Sementara di kantornya, Tanashree tengah membaca detail beberapa konsep pernikahan, yang diajukan tim wedding organizer hotel. Walaupun belum dipastikan waktunya, tetapi Tanashree mulai mempersiapkan detail acara pernikahannya. Perempuan berhidung bangir itu menengadah ketika Yori memasuki ruangan seraya memasang raut wajah tegang. Setelah mendekati sang bos, Yori menerangkan situasi di luar yang mengejutkan Tanashree. "Di mana dia?" tanya perempuan bersetelan blazer biru muda. "Di ruang VIP, restoran 3 " terang Yori. "Ayo, kita temui dia." Yori mengangguk. Dia menyambar tas kerja sang bos dari meja, lalu menyusul Tanashree yang telah jalan terlebih dahulu ke pintu. Akan tetapi, lawang itu perlahan terbuka dan seorang pria berkemrja marun muncul. Dia berhenti di depan pintu, lalu memerhatikan Tanashree yang sontak terpaku di tempat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN