Bab 08

1102 Kata
08 Tanashree memelototi pria berparas blasteran di hadapannya. Perempuan berbibir penuh itu mengeraskan rahang, sembari mengepalkan kedua tangannya. Tanashree tidak menyangka bila pria itu berani muncul di hadapannya, setelah kekacauan yang terjadi setahun silam. Tanashree menyipitkan mata saat melihat pria tersebut mengeluarkan amplop putih, dan memberikan benda itu padanya. "Apa ini?" tanya Tanashree. "Surat terakhir dari Merry," jelas Zack Louis. "Dia sudah pergi, Ree," lanjutnya. "Pergi?" "Ya. Dia meninggal, sesaat setelah melahirkan putra kami." Tanashree membulatkan mata. Begitu pula yang dilakukan Yori. Tanashree mundur beberapa langkah dan segera dipegangi asistennya. "Kapan kejadiannya?" tanya Tanashree dengan suara pelan. "Hampir 3 bulan lalu," jelas Zack. "Aku harus menenangkan diri dulu. Baru bisa ke sini, buat mengantarkan surat ini," lanjutnya. Selama beberapa saat suasana hening. Semua orang masih berdiri di tempat semula, sebelum Tanashree tersadar. Dia berpindah duduk ke sofa bersama Yori, kemudian dia mempersilakan sang tamu duduk. Zack meletakkan amplop ke meja dan mendorong benda itu ke depan. Dia memandangi Tanashree yang terlihat jauh lebih cantik dibandingkan dulu. "Aku mau minta maaf, Ree. Waktu itu, aku bingung dan panik, karena ditekan teman-teman kakakmu. Aku memang salah sudah membohongimu, tapi aku tidak berniat buruk, seperti yang mereka duga," ujar Zack. "Aku tidak mau dengar apa pun alasanmu. Bagiku itu sudah tidak penting," jawab Tanashree, sebelum dia meraih amplop dari meja dan membuka benda itu dengan cepat. "Pesankan minuman," pintanya yang segera dikerjakan Yori. Tanashree membuka lembaran kertas dan membaca halaman demi halaman itu dengan teliti. Tanashree mengerjapkan mata, seusai membaca surat terakhir mantan sahabatnya tersebut. Kendatipun masih kecewa pada Merry, tetapi Tanashree merasa sedih, karena kepergian perempuan itu yang mendadak. Tanashree menarik napas panjang dan mengembuskannys perlahan. Kemudian dia meletakkan surat ke meja, dan beralih memandangi pria yang balas menatapnya dengan saksama. "Dia dimakamkan di mana?" tanya Tanashree. "Di kota kelahiranku," jelas Zack. "Aku tidak bisa membawa jasadnya ke sini, karena prosesnya rumit dan butuh biaya besar," sambungnya. "Putramu, di mana?" "Dia diasuh keluargaku. Apa kamu mau melihat fotonya?" Tanashree mengangguk mengiakan. Dia menunggu Zack yang tengah mengutak-atik layar ponsel, sebelum memberikan benda itu padanya. Yori turut mendekat guna melihat foto bayi bermata besar, yang tengah berbaring di tempat tidur. "Dia tampan dan sangat lucu," ucap Tanashree sembari terus mengamati foto itu. "Ya. Banyak yang bilang, dia mirip aku," cakap Zack. "Hu um. Siapa namanya?" "Valerio." Tanashree memberikan ponsel itu pada Yori, yang meneruskannya ke Zack. Tanashree melipat lembaran kertas di meja dan memasukkan benda itu ke amplop. "Aku terima permintaan maaf Merry," tutur Tanashree. "Bagaimana denganku?" desak Zack. Tanashree terdiam sejenak. Lalu dia berkata, "Aku juga sudah memaafkanmu." Zack spontan tersenyum. "Terima kasih." Tanashree mengangguk. Dia hendak mengucapkan sesuatu, tetapi diurungkan. Pintu terbuka dan seorang pegawai hotel memasuki ruangan sambil membawa nampan. Seusai menyajikan minuman di meja, pelayan itu segera keluar. Tanashree meraih cangkirnya dan menyeruput teh hangat dengan santai. Hal serupa juga dilakukan Zack dan Yori. Tanashree meletakkan cangkir ke tatakan, lalu meraih ponselnya yang tengah bergetar, dari saku blazer. "Ya, Kak," ujar Tanashree. "Aku, Calix, Sam dan Xander, ada di kafe M. Ke sinilah," ajak Alvredus. Tanashree membeliakkan mata. "Sam bersama kalian?" "Ya. Cepatlah ke sini. Makanan sudah disiapkan." "Okay. Aku segera berangkat, sama Yori." "Ditunggu." Tanashree menutup sambungan telepon seraya mengulum senyuman. "Ri, kita berangkat," lontarnya yang dibalas anggukan sang asisten. "Mau ke mana?" tanya Zack. "Menemui kedua kakakku, dan ... calon suamiku." Zack terhenyak. "Calon suami?" "Ya." "Siapa dia?" "Bukan urusanmu." "Tidak ada yang boleh menikahimu, kecuali aku!" Tanashree mengangkat alis. Dia berdiri dan jalan ke pintu dengan diikuti Yori. Zack mengejar dan menarik tangan kiri Tanashree yang spontan menghempaskan tangannya. "Ree, tunggu!" seru Zack. "Aku belum selesai bicara!" jeritnya. "Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi!" tegas Tanashree sembari mendelik tajam pada pria yang pernah membuatnya tergila-gila, di masa lampau. "Aku masih mencintaimu, Ree." Tanashree tersenyum miring. "Kamu pikir aku percaya? Kamu hanya membual!" Zack menggeleng. "Aku benar-benar mencintaimu. Aku baru menyadari itu setelah pergi, dan aku sangat menyesalinya." "Aku tidak peduli!" "Ree, aku jauh-jauh datang untuk meneruskan rencana pernikahan kita." Zack memaksa memegangi tangan Tanashree. "Kumohon, Ree. Aku sangat mencintaimu," bujuknya. Tanashree kembali menghempaskan tangannya, lalu mengacungkan jari tengah kanan yang mengejutkan Zack. "Aku tidak mau kembali padamu. Kamu dengar? Aku tidak mau!" tegasnya, sebelum melangkah keluar dengan tergesa-gesa. "Ree, aku tahu, kamu masih mencintaiku!" pekik Zack. Tanashree tidak menyahut, melainkan membanting pintu ruang kerja dengan keras. Kemudian dia bergegas menuju lift sambil mengumpat. Setelah memasuki lift, Yori menekan tombol agar pintu segera menutup, karena Zack tengah mendekat. Yori bergeser untuk memegangi lengan kanan Tanashree yang sedang gemetaran akibat konfrontasi tadi. *** Calix langsung menelepon anak buahnya untuk mencari Zack, sesaat setelah Yori menerangkan peristiwa yang belasan menit lalu terjadi di kantor hotel. Tanashree kesulitan untuk bicara dan tengah ditenangkan Alvredus. Sedangkan Samudra terus memandangi calon istrinya, sembari memikirkan sesuatu. Sekian menit berlalu. Tanashree sudah lebih tenang. Dia bersantap dengan gerakan lambat, sembari menunduk. Tanashree menengadah ketika dipanggil Samudra. Dia terkesiap ketika pria itu mengusulkan rencananya. "Aku tidak mau!" kukuh Tanashree. "Ini hanya untuk sementara, Ree. Supaya si bren-gsek itu tidak bisa mendekatimu lagi," ungkap Samudra. "Aku tidak mau lari dan bersembunyi. Aku akan menghadapinya sendiri." "Bagaimana kamu bisa menang berhadapan dengannya? Sekarang saja, kamu gemetaran dan sempat tidak bisa bicara." "Ehm ... aku hanya kaget, karena dia muncul tiba-tiba. Nanti, hatiku akan lebih siap menghadaoinya." Samudra menggeleng. "Aku tidak yakin kamu bisa melakukan itu." "Kamu meremehkanku?" "Nope. Aku hanya ingin memastikan duniamu tenang dan nyaman. Hal itu tidak akan terlaksana, jika dia masih beredar di sekelilingmu." Tanashree tercenung. Dia terharu, karena Samudra ternyata mengkhawatirkan kondisi mentalnya. "Aku hargai niat baikmu, tapi, sorry, aku akan tetap di sini." Samudra mendengkus kuat. "Kamu keras kepala." "Sama denganmu." Xander terbahak. Begitu pula dengan Kenji dan Kairav. Mereka meneruskan gelakak, tanpa memedulikan pelototan Samudra. Calix dan Alvredus turut tersenyum. Sedangkan Yori menutup mulutnya dengan tangan kanan, tetapi sedetik kemudian bahunya berguncang. Pertanda jika Yori tengah tertawa. "Menurutku, sarannya Sam bisa dilakukan," cetus Alvredus setelah tawanya lenyap. "Ya, aku setuju," timpal Calix. "Tapi, tidak perlu ke Indonesia. Ree bisa pindah ke kota lain di sini," lanjutnya. "Aku ingin Ree bisa akrab dengan keluargaku. Supaya tidak canggung lagi," beber Samudra. "Di sana, banyak yang bisa Ree kerjakan. Misalnya, menata interior rumah kami. Jadi, saat ditempati setelah menikah nanti, perombakan itu sudah selesai," sambungnya. "Aku tidak mau tinggal di sana," tolak Tanashree. "Kita tidak bisa tinggal di sini, Ree. Tanggung jawabku sangat besar di sana," jelas Samudra. "Tapi, aku juga punya pekerjaan di sini." "Itu bisa dilakukan dari jarak jauh. Kita juga akan bolak-balik ke sini, karena aku masih harus mengurus proyek resor baru." "Aku ...." "Tidak ada bantahan!" tegas Samudra yang menyebabkan Tanashree mencebik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN