“Bilaaa!” Teriakan Ibu kembali bergema. “Ya, Buuu ....” Kemudian tanpa sepatah kata lagi, kutinggalkan pria itu ke luar. Dengan sedikit mengangkat gamis warna kuning pastel ini aku melangkah menemui Ibu yang sudah menunggu dari tadi. “Lama amat ngapain aja?” tegur Ibu begitu melihat kemunculanku. Wajahnya tampak begitu bosan. Belum sempat kujawab Ibu sudah bertanya lagi, “Kok sendiri? Mana Sabir?” “Kok Kak Sabir sih, Bu?” Aku balik tanya dengan heran. “Ya dia yang akan nganterin kamu. Kalo ibu biar ikut bonceng motornya Bu Yuli saja,” jawab Ibu sambil menyebut nama tetangga lima langkah kami. “Kenapa kita gak jalan kaki saja, Bu? Biasanya juga gitu kok.” Aku memprotes dengan sedikit kesal. Bahkan bibir ini sengaja kumanyunkan agar Ibu tahu aku merajuk. “Hari ini cuacanya p

