Tanpa menunggu balasan darinya, segera kutinggalkan kamar menuju meja makan. Tampak Ibu dan Paman sudah menunggu untuk sarapan. Lekas kubuka piring yang menelungkup di meja. Tak lama berselang Kak Sabiru datang. Roman mukanya tenang. Seperti tidak terjadi apa-apa antara aku dan dia barusan. Syukurlah. Ketika dia mulai duduk di samping kanan, kusodorkan padanya piring yang telah berisi makanan. Kak Sabiru menerima dengan pelan. Tidak ada ucapan terima kasih dari mulutnya. Hanya sebuah senyuman yang ia berikan. Namun, itu sudah cukup membuat hati Ibu menjadi senang. Kuduga demikian, karena senyum Ibu selalu merekah melihat tingkah kami sepanjang makan. Pagi yang mulai beranjak siang, membuat ketiga orang kesayangan bergegas menyelesaikan sarapan. Kak Sabiru dan Paman siap berangkat beke

