17. Pernikahan yang Gersang

1339 Kata

Ketika dia mendekat, aku beringsut menjauh dengan rasa takut yang menyergap. Bayangan malam kelam itu kembali terbayang. Senyum manis di bibir Kak Sabiru lenyap. Pria itu menghela napas dalam-dalam. "Kita sudah menjadi suami istri dari tadi siang. Wajar kalo kita berada dalam satu kamar." Aku menggeleng. "Enggak! Bukankah kamu berjanji pada Paman untuk tidak menggauliku dulu selama aku hamil?" "Benar." "Lalu kenapa kita harus sekamar? " "Bila!" Tak disangka Ibu mendengar pembicaraan kami. Ibu mendekat lantas duduk di sampingku. "Nak, Sabir sudah menjadi suamimu sekarang. Dia nanti yang akan menemani tidurmu ...." "Enggak, Bu! Aku gak mau. Bukankah ...." "Bila, biarkan ibu menyelesaikan omongan dulu," tukas Ibu sedikit kesal. Akhirnya, mau tak mau aku diam mendengarkan. "Sekarang sud

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN