Akhirnya, hari itu pun tiba. Masa yang paling kutakutan dan sangat ingin dihindari. Namun, sayangnya aku tak kuasa melakukannya. Sehingga hati hanya bisa berpasrah dan melafadzkan nama Tuhan. Berharap semoga pernikahan ini memang memberi kebaikan kepadaku juga pada janin ini. Siang itu, Ibu menyewa seorang juru rias untuk memoles wajahku. Sebuah kebaya putih berpayet emas yang sengaja Ibu pesan pada seorang desainer telah melekat di badan. Selendang sutera putih menutupi rambut yang telah disanggul dengan ronce melati. Semua yang kukenakan tampak begitu apik dan tertata. Berkali-kali juru rias dan Ibu memuji kecantikanku. Namun, aku tak bahagia. Waktu yang cuma sebentar nyatanya tidak membuat Ibu kesusahan mempersiapkan segalanya. Tanpa campur tangan dariku nyatanya dia mampu melakukanny

