Kematian Kamila yang mendadak meninggalkan sesak bagi kami sekeluarga. Terutama Ibu dan suaminya. Berkali Ibu jatuh pingsan saat putri sulungnya itu hendak dimakamkan, sedangkan Kak Sabiru terus saja meneteskan air mata. Walau pria itu sengaja memakai kaca mata hitam, tapi lelehan bening itu terlihat jelas membanjiri kedua pipinya. Kamila seorang anak dan istri yang sholeha. Wajar kalau Ibu dan Kak Sabiru sangat terpukul. Aku sendiri yang cuma sebentar hidup dengan juga mampu merasakan kelembutan wanita mungil itu. Teringat masa kecil dulu, Kamila yang lemah tetap membela setiap kali ada teman sekolah yang nakal padaku. Dia juga tidak sungkan membantu mengejarkan semua tugas sekolahku. Kamila selalu merasa bersalah jika aku merajuk marah karena perlakuan Ibu yang lebih condong padanya.

