(Pov Sabiru) Jatuh dari tangga. Kakak cepat ke mari!" "Apaaah?!" pekikku terkejut. Rekan kerja yang tengah sibuk menoleh semua padaku. "Iya. Kakak lekas ke mari!" Tuts! Belum sempat aku bertanya lagi sambungan sudah terputus. Aku menghela napas dalam-dalam. Mengisi rongga paru-paru dengan oksigen yang banyak agar otakku bisa berpikir jernih. Teman-teman dekat seperti Doni, Reza, dan Heri segera mendekat. Mereka sepertinya penasaran melihat wajahku yang menjadi pias setelah menerima telepon. "Ada apa, Bro? Sepertinya ada hal yang tidak beres dengan keluargamu," terka Reza yakin. Aku mengangguk lemah. "Mila ... dia jatuh dari tangga," sahutku getir. "Innalillahi ...." Ketiga kawanku berseru sedih. "Ya udah ... lekas kamu pulang! Lihat kondisi istrimu," suruh Heri perhatian. "Iya

