20. Pertengkaran

1280 Kata

Kami semua segera beralih menghadap mimbar. Siap mulai mendengar ustazah menuangkan ilmunya. Namun, omongan ibu tadi begitu mengganggu hati. Sehingga ilmu yang disampaikan pembicara tidak sepenuhnya kuserap. Bahkan begitu acara usai aku lekas pamit pada Ibu untuk undur diri. Tidak menunggu acara selanjutnya. “Kenapa, La? Kok buru-buru gitu? Apa karena terganggu dengan omongan ibu tadi?” tanya Ibu heran. “Aku gak enak badan, Bu,” kilahku datar. “Ya sudah cepat hubungi Sabir biar lekas menjemputmu!” Aku mengangguk. Setelah menyalami Ibu dan teman-temannya, aku beranjak ke luar masjid. Saran Ibu untuk menghubungi Kak Sabiru tidak kugubris. Dari pada berboncengan dengan Kak Sabiru, lebih baik aku naik angkot saja. Sayangnya semesta tidak mendukung keinginanku. Kak Sabiru datang mend

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN