Kali ini suara Paman bertanya dengan suara yang setengah berbisik. Mungkin takut bila Kak Sabiru terbangun. Ketika aku menggeleng lemah, lelaki paruh baya itu mengucap kalimat syukur. Pria berwajah bijak itu meletakan bawaannya di meja kecil. "Mana ibu?" tanyaku penasaran. "Satu jam yang lalu baru saja pulang," jawab Paman tenang dan mulai duduk di sofa. Tiba-tiba Kak Sabiru menggerakkan kepalanya. Tampak matanya mengerjap-erjap perlahan. Lelaki itu terbangun dari lelapnya. "Bila," sapanya begitu iris hitam itu memindaiku. "Bagaimana keadaanmu? Sudah mendingan kan? Atau masih sakit?" Aku menggeleng pelan menanggapi pertanyaan beruntunnya. "Sabir, Paman bawakan makanan untukmu. Makanlah!" ujar Paman Hasan membuat Kak Sabiru menoleh padanya. "Paman. Kenapa belum pulang?" Kak Sabi

