Aku dimasukkan ke dalam ruangan kosong, begitu kain penutup mataku dibuka, kulihat ada meja dan dua kursi yang berseberangan dalam ruangan. Ini seperti ruang interogasi, karena ada cermin dua arah di salah satu temboknya. Pasrah, aku duduk di salah satu kursi yang ada. Aku tahu percuma saja kalau aku gedor-gedor pintu ini, jadi daripada buang tenaga, aku lebih memilih menunggu. Pikiranku berkelana, benarkah yang membawaku ke sini itu orangnya Pak Iskandar, atau Satrio? Aku udah gak bisa bedainnya, mereka berdua sama. Sekian puluh menit menunggu, kebosananku akhirnya terbayar ketika pintu ruangan ini terbuka, dan pak Iskandar masuk ke dalam. "Dwika, maaf memperlakukan kamu seperti ini, saya sebenarnya tidak mau melibatkan kamu, tapi saya terpaksa." Ucap Pak Iskandar. "Pak, saya kerja s

