Suasana masih hening, Pak Iskandar tidak menyauti ucapan Satrio tadi, dan sekarang Satrio pun sudah berdiri. "Nikmatin hidup Anda selagi bisa, Pak Iskandar. Hanya sekali Anda bisa lolos!" Ucap Satrio lalu ia berbalik. "Apa itu sebuah ancaman pembunuhan?" Ujar Pak Iskandar. Satrio berhenti, ia berbalik lagi, memandang Pak Iskandar tenang. "Yeah, bisa diartikan seperti itu." "Kamu tahu ada kamera di ruangan ini, rapat saya kali ini direkam, dan ancaman barusan bisa saya jadikan alat bukti." Pak Iskandar mengancam balik. "Silahkan!" Satrio mengembangkan senyum manisnya lalu berbalik kembali, berjalan menuju pintu keluar. Jantungku berdegup kencang ketika Satrio berhenti di jejeran bangku yang kududuki, ia menoleh dan mata kami beradu. "Ayo Dwika, ikut!" Aku diam. Semua yang ada di ru

