Aku sampai di rumah kontrakanku, sudah ada Pram menunggu, ia duduk di kasur memandangku garang. "Kamu kalau mau marah nanti aja ya? Aku capek!" Kataku sebelum Pram buka suara. "Jelasin dari awal, Satrio siapa? Aku tahu kamu bohong sebelumnya!" Aku menarik napas panjang, tak menghiraukan Pram. Kepalaku sedari pagi sudah ricuh karena Satrio, aku gak mau di rumah, tempat seharusnya aku merasa aman dan nyaman malah harus bahas hal yang bikin pusing. "Jawab aku, Kika!" Pram menahan tanganku ketika aku hendak ke kamar mandi. "Kenapa kamu tiba-tiba nanya dia?" Aku bertanya balik. "Orang kantor kamu, Maria, dia cerita ke temenku soal kamu yang dibawa Satrio. Kenapa kamu mau? Siapa dia?" "Kamu kurang baca berita, makanya kamu gak tau dia siapa!" Kutarik tanganku yang ditahan Pram lalu masuk

