28. Marah

1597 Kata

Aku menggenggam erat tangan Satrio ketika beberapa polisi datang menjemputnya untuk membawanya kembali ke penjara. Air mataku sepertinya sudah kering karena aku bahkan sudah tak bisa menangis lagi. "Jangan sedih, kasian ih anak aku." Bisik Satrio lalu menarik tangannya yang kugenggam agar terlepas. Aku diam, ingin sekali memeluknya dan menahannya untuk tidak pergi, tapi aku malu, bukan hanya kami berdua yang ada di sini. Ada Bi Ipeh, Kiran, Bran, beberapa polisi dan di luar juga ada beberapa orangnya Satrio. Gak enak kalau aku bikin drama kaya gitu. Kupandangi wajah sedih Satrio, terlihat betapa ia berusaha memaksakan senyum tetap mengembang di bibirnya, tapi ia tidak bisa menipuku. Aku gak bisa sok tegar kaya dia. Aku sedih dia pergi. Berbalik, aku berjalan ke kamar tanpa mengucapkan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN