Memikirkannya

475 Kata
Rei berjalan dengan cepat, ia sedang mengejar Rania yang telah lebih dulu keluar kelas. "Astaga... Cepet banget tuh cewek jalannya!" gumam Rei sambil berjalan menuju arah parkiran, mata pria itu pun menangkap sosok Rania yang sedang berjalan menuju halte bus. Rei pun segera berlari pelan menghampiri Rania. "Lo jalan cepet banget sih!" kata Rei dengan napas yang sedikit tersengal-sengal, pria itu pun memegangi lututnya. Sedangkan Rania hanya terdiam memandang aneh ke sebelahnya. "Gue nyari lo karna mau ajak bahas masalah tugas kelompok bu Diana, gimana jadinya? Kita mau buat kerajinan apa?" tanya Rei lagi. "Gak tau." balas Rania pelan kemudian menatap ke arah sisi jalan. "Nih cewek emang beneran aneh!" batin Rei bermonolog. "Mau gue antar pulang? Sekalian kita diskusi masalah ini, kita cuma dikasih waktu 3 minggu!" balas Rei mengingatkan, Rania pun sepertinya mulai berpikir. Sejujurnya ia juga ingin membahas tentang itu tapi, tak ada keberanian dalam dirinya. "Kenapa diam? Ngomong dong!" ucap Rei sambil menyenggol lengan Rania. "Gak perlu, makasih!" Satu bus pun berhenti di depan halte, Rania pun langsung masuk ke dalam meninggalkan Rei yang masih bingung dengan sejuta pertanyaan di otaknya. "Ya allah, gue punya temen unik-unik semua!" gumamnya kemudian kembali lagi menuju parkiran sekolahnya. Sesampainya di rumah Rania langsung masuk ke dalam kamar nya, tak lupa ia juga segera mengganti seragam sekolahnya. Setelah mengganti pakaiannya Rania pun duduk di tepi ranjang, ia jadi mengingat kembali saat ia bertemu dengan Rei. "Dia lucu juga." gumam Rania mengingat-ingat kembali saat di halte bus way tadi. "Ya ampun... Kenapa jadi mikirin cowok itu sih!" kata Rania sambil menggelengkan kepalanya, gadis itu pun membuka tas nya dan meraih benda pipih itu. Ia hanya mengecek ponsel yang memang jarang ia gunakan, kemudian ia kembali menaruhnya di atas meja. Dari balik pintu kamarnya, Hermawan pun mengajak Rania untuk keluar menemaninya membeli sesuatu di supermarket. "Nia! Kamu sibuk?" tanya Hermawan. "Enggak, ada apa?" jawab Rania. "Temani ayah belanja di supermarket mau?" "Iya, mau yah." "Bagus! Ayah tunggu di mobil." Rania pun segera memakai sweater kesayangannya, kemudian ia memakai sepatu ketsnya dan mulai berlalu meninggalkan kamar tidurnya itu. Dalam perjalanan menuju supermarket seperti biasa, tak ada pembicaraan yang lama antara ayah dan anak ini. Padahal dulunya Rania adalah wanita yang begitu cerewet, tapi sekarang gadis itu terlihat begitu pendiam. "Rania, ayah mau tanya sama kamu." kata Hermawan sesekali melirik ke arah anak gadisnya itu. "Tanya apa yah?" jawab Rania. "Apa di sekolah ada siswa atau siswi yang suka menjahati kamu?" tanya Hermawan. "Emm.. enggak ada kok yah, emangnya kenapa?" tanya Rania lagi sambil melirik ke arah ayahnya itu, Rania tampak bingung tak biasanya Hermawan bertanya seperti itu padanya. "Gak apa-apa, kalau ada yang jahati kamu segera lapor ke ayah ya? Kamu jangan diam aja, jangan di pendam sendiri." balas Hermawan memberitahu. "Iya yah, tenang aja." jawab Rania dengan seulas senyuman, yang terukir indah di kedua sudut bibirnya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN