Bertemu Rei

865 Kata
Rei berjalan dengan cepat, ia sedang mengejar Rania yang telah lebih dulu keluar kelas. "Astaga... Cepet banget tuh cewek jalannya!" gumam Rei sambil berjalan menuju arah parkiran, mata pria itu pun menangkap sosok Rania yang sedang berjalan menuju halte bus. Rei pun segera berlari pelan menghampiri Rania. "Lo jalan cepet banget sih!" kata Rei dengan napas yang sedikit tersengal-sengal, pria itu pun memegangi lututnya. Sedangkan Rania hanya terdiam memandang aneh ke sebelahnya. "Gue nyari lo karna mau ajak bahas masalah tugas kelompok bu Diana, gimana jadinya? Kita mau buat kerajinan apa?" tanya Rei lagi. "Gak tau." balas Rania pelan kemudian menatap ke arah sisi jalan. "Nih cewek emang beneran aneh!" batin Rei bermonolog. "Mau gue antar pulang? Sekalian kita diskusi masalah ini, kita cuma dikasih waktu 3 minggu!" balas Rei mengingatkan, Rania pun sepertinya mulai berpikir. Sejujurnya ia juga ingin membahas tentang itu tapi, tak ada keberanian dalam dirinya. "Kenapa diam? Ngomong dong!" ucap Rei sambil menyenggol lengan Rania. "Gak perlu, makasih!" Satu bus pun berhenti di depan halte, Rania pun langsung masuk ke dalam meninggalkan Rei yang masih bingung dengan sejuta pertanyaan di otaknya. "Ya allah, gue punya temen unik-unik semua!" gumamnya kemudian kembali lagi menuju parkiran sekolahnya. Sesampainya di rumah Rania langsung masuk ke dalam kamar nya, tak lupa ia juga segera mengganti seragam sekolahnya. Setelah mengganti pakaiannya Rania pun duduk di tepi ranjang, ia jadi mengingat kembali saat ia bertemu dengan Rei. "Dia lucu juga." gumam Rania mengingat-ingat kembali saat di halte bus way tadi. "Ya ampun... Kenapa jadi mikirin cowok itu sih!" kata Rania sambil menggelengkan kepalanya, gadis itu pun membuka tas nya dan meraih benda pipih itu. Ia hanya mengecek ponsel yang memang jarang ia gunakan, kemudian ia kembali menaruhnya di atas meja. Dari balik pintu kamarnya, Hermawan pun mengajak Rania untuk keluar menemaninya membeli sesuatu di supermarket. "Nia! Kamu sibuk?" tanya Hermawan. "Enggak, ada apa?" jawab Rania. "Temani ayah belanja di supermarket mau?" "Iya, mau yah." "Bagus! Ayah tunggu di mobil." Rania pun segera memakai sweater kesayangannya, kemudian ia memakai sepatu ketsnya dan mulai berlalu meninggalkan kamar tidurnya itu. Dalam perjalanan menuju supermarket seperti biasa, tak ada pembicaraan yang lama antara ayah dan anak ini. Padahal dulunya Rania adalah wanita yang begitu cerewet, tapi semenjak kepergian ibunya Rania pun berubah. "Nia!" "Apa yah?" "Kamu mau beli apa?" "Mmm... Makanan aja deh." Tak berapa lama mobil yang di kendarai Hermawan pun tiba di depan Supermarket, mereka pun lantas bergegas turun dari mobil. "Ayo kita masuk!" Rania dan Hermawan pun melangkahkan kakinya masuk, tak lupa ia juga mengambil keranjang belanjaan itu. "Ayah, Nia cari mie instan ya?" kata Rania. "Oke, nanti ayah menyusul." sahut Hermawan yang sedang memilih-milih makanan, setelah izin Rania segera menuju rak di mana di situ telah berjejer begitu banyak mie kesukaannya. "Pilih yang mana ya?" batinnya bermonolog, Nia pun mengambil beberapa mie instan, tak lupa juga sambal dan kecapnya. Gadis itu pun berniat ingin kembali menyusul Hermawan namun tak sengaja ia menabrak seorang pria dan membuat belanjaan mereka pun jatuh. Bruugghhh.. "Sorry!" "Maaf!" Nia dan orang itu sibuk membereskan belanjaan mereka masing-masing, hingga orang itu pun mengenali Rania. "Rania?" ucapnya membuat Rania mengangkat wajahnya dan menatap pria itu. "Sorry ya, gue gak sengaja. Tadi gue buru-buru." kata pria itu kemudian memberikan belanjaan milik Rania, tak lama Hermawan pun datang. "Ada apa Nia?" tanya Hermawan pada anak gadisnya itu. "Siang om, maaf ya tadi gak sengaja saya nabrak Rania." "Kamu kenal anak saya?" "Saya Reigan om, siswa baru di kelas Rania." "Oh temannya Rania dong?" tanya Hermawan lagi. "Benar om." "Wah kebetulan sekali ya bertemu di sini, kamu belanja juga?" tanya Hermawan. "Iya om, iseng aja beli cemilan buat di rumah. Om juga kayaknya belanja banyak banget." sahut Rei. Rania pun hanya diam, memandang cuek ke arah Hermawan dan Rei yang sedang asik mengobrol. Sesekali ia melirik ke arah Rei, pria itu sangat tampan jika dari dekat. "Kapan-kapan main ke rumah ya? o*******g bisa kenal sama temannya Rania." "Siap om, nanti kapan-kapan saya mampir. Ya udah om saya duluan ya, maaf atas kejadian tadi." "Nia, gue duluan ya?" pamit Rei pada Rania, gadis itu pun hanya mengangguk. "Hati-hati Rei" kata Hermawan. **** Sesampainya di rumah Hermawan terus saja membahas tentang Rei, maklum lah selama ini Nia memang di kenal jarang dekat dengan laki-laki. Ia memiliki teman pun hanya bisa di hitung jari saat itu. "Nia, kamu kok gak cerita sama ayah kalau punya teman baru, cowok lagi." "Untuk apa juga Nia cerita ke ayah? Emang ayah kenal?" tanya Rania sambil menyusun barang belanjaannya di dapur. "Ya seenggaknya ayah bisa kenal sama dia, Ayah suka tuh pemuda macam Rei, anaknya sopan, tutur katanya baik." "Ayah jangan macem-macem deh!" jawab Nia lagi. Hermawan duduk di kursi, wajahnya kini tampak serius. "Ayah cuma pengen kamu seperti dulu lagi, ayah gak mau kamu terus-terusan seperti ini. Kamu harus ingat, ayah sudah tua gak selamanya ayah bisa temani kamu terus." "Ayah cuma pengen kamu punya pasangan, punya teman banyak." "Nia tau kok soal itu, Nia juga pengen kayak dulu. Tapi kasih Nia waktu buat sembuhin luka Nia ini yah." Rania tersenyum ke arah Hermawan, ia juga tak ingin menjadi seperti ini. Tapi pengalaman itu membuatnya takut untuk membuka hati dan mempercayai lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN