Tiga Belas

1587 Kata
Bekerja di rumah sakit, itu berarti Adelia memiliki kebebasan untuk bisa bolak balik menjenguk sang ayah. Kantornya memang berada di gedung terpisah, namun tak begitu banyak hal yang harus ia urus. Berbanding terbalik saat berada di galeri. Mungkin karena sejak awal urusan operasional dan bisnis telah dibagi menjadi dua kepengurusan. Membuat Adelia murni hanya mengerjakan segala urusan terkait bisnis. Itulah kenapa Adelia memiliki waktu untuk mencari tau apa saja yang terjadi selama ketidak adaannya di tempat ini. Semenjak kembali, ada hal aneh yang Adelia baru sadari. Katanya selama ia pergi ke Zurich, dalam tubuh kepemimpinan keluarga Sukma terjadi perubahan besar-besaran. Kendra Sukma lengser dan kursinya diteruskan begitu saja oleh Emi, namun apa yang membuat dahinya mengernyit adalah fakta bahwa Kendra menambahkan klausal hukum bahwa Januar yang waktu itu baru beberapa minggu resmi menjadi bagian keluarga itu. Akan ikut memegang kendali segala keputusan keluarga Sukma. Membuat keduanya duduk di kursi strategis induk perusahaan Sukma Corp. Sejauh yang Adelia ketahui, Om Kendra bukanlah orang yang begitu mudah melepas apa yang selama ini ia miliki. Meski pria itu selalu tampak lembut dan bersahaja ketika berinteraksi dengan dia dan kakak-kakaknya. Jika berkaitan dengan bisnis, Om Kendra adalah orang yang keras kepala. Ia selalu percaya akan intuisinya seorang. Itulah kenapa meski beberapa anak perusahaan keluarga Sukma dipimpin oleh saudara-saudara pria itu yang lain. Pada dasarnya orang-orang itu tidak pernah memimpin. Hanyalah boneka yang menuruti segala keputusan dari Om Kendra sendiri. Itulah kenapa lengsernya Kendra dari kursi kepemimpinan keluarga Sukma sungguh sangat terasa janggal. “Om Kendra tidak lagi bisa dikunjungi sejak ia turun dari jabatannya.” Ucapan Alex mengalihkan atensi Adelia dari kertas-kertas berisi kegiatan keluarga Sukma selama setahun terakhir. Mulai dari kerja sama bisnis yang terjalin hingga konflik internal yang terjadi di dalam keluarga tersebut. “Tidak bisa dihubungi atau keberadaannya sengaja disembunyikan?” Kakak sulungnya itu tampak mengernyitkan dahi, tidak setuju akan pendapatnya tersebut.. “Om Kendra masih sering terlihat sesekali di area publik, entah di lapangan golf, hotel di beberapa tempat wisata. Tapi…” Melihat kakaknya itu tampak meragu, Adelia meletakkan kertas-kertas itu ke atas meja. Menatapnya teramat serius. “Beliau jadi lebih sering mengunjungi makam keluarga Sukma dan menghabiskan banyak waktu di makam Tante Harini. Lebih sering daripada mengunjungi ibunya Emi.” Sudut bibir Adelia terangkat membentuk senyuman sinis. “Mungkin akhirnya beliau dihantui rasa bersalah. Walaupun Tante Harini meninggal karena overdosis obat, tidak bisa dielak beliau lah yang mendorong Tante melakukan itu.” Alex tak berucap apa-apa. Menatap adiknya itu sendu. Bagaimanapun segala konflik yang melibatkan keluarga Sukma jelas membuat batin ia dan saudara-saudaranya berkecamuk. Sama seperti Harini, kehadiran Kendra di hidup mereka jelas begitu bermakna. Banyak hari-hari yang mereka habiskan bersama dengan pasangan itu, dicintai dan disayangi seolah anak sendiri. Jika ia dan ketiga adik laki-lakinya saja merasa dilema bukan main, apalagi Adelia yang menjalin hubungan teramat akrab dengan pasangan itu. Bermusuhan dan menyerang keluarga Sukma rasanya seperti menusuk menggunakan pisau bermata dua, mereka menyakiti namun satu sisi bilah lain menusuk mereka pula. “Adel, ada hal penting yang Kakak mau omongin sama kamu.” Meninggalkan sofa panjang yang menjadi tempatnya duduk sedari tadi. “Ada banyak hal di hari itu yang nggak Kakak ceritakan ke kamu.” Dahi Adelia mengernyit saat Alex akhirnya meletakkan amplop coklat yang selama ini ia pegang sejak datang ke ruangannya. Dengan penuh tanda tanya, mengeluarkan isinya yang ternyata berisi beberapa kertas dan foto. Hanya butuh waktu beberapa detik sampai Adelia membanting dokumen itu ke atas meja dengan posisi terbalik, lantas menatap si sulung horor. “Kak-“ “Di tengah-tengah pengejaran Kakak sama Dikta ke titik penculikan kamu. Kami menemukan Bu Ira yang sudah tidak bernyawa.” Tak mempedulikan bagaimana ekspresi adiknya itu berubah menjadi pucat pasi, Alex kembali melanjutkan ucapannya. “Dari hasil otopsi dia baru meninggal beberapa jam sejak tubuhnya ditemukan. Tapi luka penyiksaan yang ada menunjukkan dia sudah disiksa berhari-hari, kemungkinan besar sejak dia menghilang dari penjagaan keluarga kita.” “Kenapa Kakak nggak kasih tau aku soal ini waktu itu?” tanya Adelia tampak sedikit kecewa. “Ini insiden fatal kak, Bu Ira menghilang di kompleks perumahan kita dan orang yang menyebabkan beliau lepas dari pengawasan kita adalah orang-orang bagian dari Padma itu sendiri. Ini pasti jadi alasan kenapa Natawirya berpaling dari kita, selain karena aku lumpuh-“ “Natawirya tidak pernah berpaling dari kita dek.” Informasi itu membuat Adelia menghentikan kalimatnya yang begitu menggebu-gebu. “Natawirya tidak pernah berpaling dari kita. Tidak satu detik pun.” Lembar-lembar itu diraih Alex kembali, menarik beberapa foto yang dirasa terlalu menyeramkan untuk dilihat si bungsu. Lantas menyodorkannya kembali ke hadapan Adelia. “Alasan kenapa Natawirya menghilang begitu saja hari itu adalah baik Fira maupun Dikta menyadari bahwa mereka belum siap untuk menghadapi semua ancaman ini.” Alex menghela napas. “Kakak tau kamu kecewa karena Dikta pergi begitu saja tanpa berpamitan, dan kondisi kamu hari itu buat kamu berpikir yang tidak-tidak. Tapi kamu harus tau kalau Natawirya pergi bukan untuk berpaling dari kita, namun sebaliknya. Mereka pergi untuk memperkuat hubungan mereka dengan kita.” “Apa yang terjadi pada Bu Ira, adalah masalah besar yang akan memperkeruh hubungan dua keluarga. Sampai masalah ini diungkap tuntas, di antara dua keluarga akan terus menyimpan keraguan dan ketidak percayaan. Itulah kenapa Fira dan Dikta pergi. Mereka pergi untuk membuktikan kalau bukan Padma di balik semua masalah ini, menyelesaikan apa yang terjadi di dalam kelompok mereka, sekaligus menyiapkan Fira dan Dikta sepenuhnya.” Cukup lama Adelia terdiam, sebelum ia akhirnya menarik dokumen rumah sakit lainnya yang harus ia periksa hari ini. “Kenapa Kakak tiba-tiba bahas ini sama aku?” “Kamu udah ketemu Dikta kan?” Pertanyaan itu sukses membuat Adelia mendengkus. “Udah ku duga Kakak pasti tau kalau dia akan datang ke acara itu juga.” “Keluarga Natawirya sudah resmi kembali dan itu berarti mereka akan semakin aktif muncul di publik dengan citra baru yang mereka siapkan selama menghilang. Adelia, Kakak cuman mau kamu nggak berpikir terlalu buruk soal Dikta yang tiba-tiba ninggalin-“ Suara derak laci meja yang dibuka kasar, disusul selembar kertas yang Adelia lemparkan begitu saja ke atas meja membuat Alex mengernyitkan dahi. “Ada jeda 11 hari antara jarak aku yang sadar dari koma dengan kepergian keluarga Natawirya secara keseluruhan dari sini. Dalam jeda waktu itu seharusnya Dikta bisa nemuin aku dan jelasin semua hal yang Kakak sampaikan ke aku hari ini. Tapi, dia nggak lakuin itu kan? “ “Dek, Dikta ninggalin kamu surat-“ “Kalau Fira aja bisa ceritain semua rencananya dan berhasil buat kamu nunggu hingga detik ini. Kenapa Dikta nggak bisa lakuin itu? Kenapa dia nggak hadapin aku dan ngelakuin hal yang sama? Kenapa dia cuman ninggalin aku satu surat dan berharap aku akan puas sama penjelasan yang bahkan aku nggak yakin dia sendiri yang tulis.” Tampak sekali kakak sulungnya itu hendak kembali menyahut, namun Adelia cepat menghela napas keras-keras. Secara jelas memberi tanda kalau dia tidak ingin membahas hal ini lebih jauh. “Kak aku nggak akan larang kamu berhubungan sama Natawirya, baik itu soal hubungan kamu sama Fira atau rencana kamu sama Mas Fedri buat mereka bantu kita sekali lagi. Bagaimana pun aku tau kalau saat ini kita memang butuh sokongan keluarga itu untuk melindungi diri.” “Tapi jangan pernah minta aku buat kembali menjalin hubungan akrab dengan Dikta.” Adelia adalah perpaduan sempurna seluruh sifat yang dimiliki oleh kakak-kakaknya. Kecerdikannya jelas meniru Alex, kepintarannya siapa lagi kalau bukan seperti sosok Arkana, ketenangan dan rasa empati terpupuk karena ia banyak sekali menghabiskan waktu dengan Andri, sementara kemampuannya bersosialisasi baik dengan anak-anak hingga para lansia jelas terpengaruh akan bagaimana Andre berkomunikasi. Itulah kenapa si bungsu selalu dianggap sebagai perempuan serba bisa. Masalahnya meski memiliki segudang sifat yang mengagumkan, ia tetaplah manusia biasa. Salah satu kekurangan perempuan itu adalah, ketika ia sudah terluka oleh sesuatu maka tidak akan ada yang bisa mengubah sudut pandangnya. Selama kata ‘maaf’ itu tidak datang dari hatinya sendiri, maka tidak akan ada siapapun yang bisa mengubah pendapat Adelia. Alex bukannya tidak tau soal ini. Ia sangat tau bahwa Adelia akan seperti ini sejak malam itu. Sejak Fira datang padanya dan mengatakan sebuah rencana mengejutkan. Sebuah rencana yang begitu tiba-tiba dan terkesan tergesa-gesa namun malam itu, Alex tau bahwa ini adalah langkah terbaik untuk mereka semua. Berbanding dengan Fira yang menjelaskan keadaannya dengan sangat gamblang malam itu. Dikta hanya memberikan adiknya penjelasan dalam bentuk sebuah surat yang langsung adiknya musnahkan di detik pertama diberikan. Wajar adiknya marah. Pantas jika adiknya merasa terkhianati. Bagaimanapun hari itu Adelia baru saja mendengar kabar bahwa ia kehilangan kemampuan berjalannya, terpaksa harus pergi dan meninggalkan segala posisinya untuk kesekian kali. Dan orang yang ia kira menjadi penyokong terbaiknya, orang yang akhirnya bisa ia percaya untuk berbagi isi kepala, pria yang ia dukung dari bukan siapa-siapa menjadi dirinya yang sekarang. Pergi begitu saja tanpa berpamitan langsung dengannya. “Baiklah, mulai sekarang Kakak nggak akan bahas soal Dikta lagi sama kamu,” ujar Alex benar-benar tidak bisa mengubah isi pikiran adiknya itu tentang Dikta. “Tapi satu hal yang Kakak minta sama kamu untuk diingat.” “Natawirya adalah sekutu kita. Sekesal apapun kamu sama Dikta, ketika kalian bertemu di satu acara yang sama. Jangan tunjukkan perselisihan kalian. Mengerti?” Adelia tak menjawab. Pura-pura sibuk membaca berkasnya, sampai kakaknya itu memanggil namanya dengan nada begitu dingin. “Adelia Padmasari.” “Baiklah.” Tau kalau ia tidak setuju, Alex akan menunjukkan kemarahannya dengan berat hati Adelia mengangguk. “Lagipula komoditi bisnis yang aku ambil alih berbeda dari fokus bisnis keluarga Natawirya. " “Kita akan jarang bertemu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN