Bohong kalau Emi bilang dia tidak tertegun ketika melihat keberadaan Adelia tadi. Kabar terakhir yang ia dengar soal mantan istri suaminya itu adalah kabar bahwa perempuan itu kehilangan kemampuan berjalannya karena sebuah kecelakaan. Kabar terkait kesehatan Adelia sangat disimpan rapat-rapat. Lebih rapat dari kabar kesehatan petinggi keluarga itu sendiri. Apa yang orang-orang tau hanyalah bagaimana perempuan itu pergi ke Eropa untuk memulihkan diri.
Emi mengigit bibirnya gelisah, diam-diam meraih ponsel di dalam clutchnya. Berniat menghubungi sebuah nomor yang belakangan ini tidak memberi kabar apa pun padanya. Namun, niat itu urung ketika Januar menyadari ada orang lain yang berdiri di ujung lorong sepi tersebut. Perempuan itu berbalik, ekspresinya berubah datar ketika menyadari siapa orang tersebut. “Berdiri diam-diam di belakang seseorang seperti itu bukan hal yang sopan, Pak Dikta.”
Ucapan Emi tersebut tidak dihiraukan oleh Dikta. Pria itu berjalan mendekat, seorang diri tanpa pria yang selama ini mengikutinya kemanapun. “Lama tidak bertemu Emi,” sapanya singkat seraya menatap pria itu datar. “Ah tidak, mungkin Nyonya Besar Sukma? Mengingat lo udah ditunjuk menjadi pemimpin keluarga itu kan?”
“Apa mau lo?”
“Tidak ada.” Suara kekehan terdengar dari Dikta yang kini mengeluarkan sebuah korek dan memain-mainkannya di tangan. “Lo dan Januar adalah penguasa baru keluarga Sukma, itu berarti ke depannya gue akan lebih banyak melihat kalian berdua di lingkungan sosial ini. Anggap aja gue lagi ngucapin selamat ke kalian?”
Merasa tidak mau mendengar ucapan Dikta lebih lama, Emi mendengkus kasar. Menjejalkan ponselnya kembali ke dalam clutch, dan bergegas pergi dari lorong tersebut. Berniat menghampiri Januar yang pasti sudah berkeliaran menyapa para kolega dan orang-orang penting di antara para tamu. Namun, langkahnya terhenti begitu saja ketika Dikta dengan malas merentangkan kakinya. Menghadang perempuan itu berjalan lebih jauh.
“Apa-“
“Gue punya hadiah buat lo.”
Tumpukan foto-foto Dikta lemparkan ke arah Emi begitu saja. Membuat foto-foto itu berserakan di lantai. Emi meneguk ludah, sedikit merasa gemetar akan foto yang mengabadikan pemandangan menyeramkan tersebut. Potret orang-orang tak dikenal yang berada dalam kondisi yang sama. Babak belur, dan dari sorot matanya terlihat sekali sudah tidak bernyawa. Emi meneguk ludah. “Ke-kenapa lo kasih semua foto ini ke gue? Gue nggak kenal sama mereka.”
Dikta mengerjap, lantas tertawa kecil. “Benar juga, lo pasti nggak tau siapa mereka. Karena mereka hanyalah hama-hama kecil yang tak sengaja terseret.” Kini pria itu kembali merogoh saku dalam jasnya. Mengeluarkan sebuah foto yang sukses membuat Emi tertegun. Dikta menyeringai. “Tapi lo pasti tau siapa orang ini.”
Tanpa sadar keringat mulai mengalir di sepanjang punggung Emi, berkat adrenalin yang mendadak muncul. Bohong kalau Emi tidak tau siapa orang di dalam foto itu. Siapa lagi kalau bukan Banyu, anak laki-laki dari Ben yang sudah tidak menghubunginya cukup lama. Pria yang selalu membombardir dirinya setiap ia telat mengirimkan uang selama pria itu bersembunyi. Berbeda dari foto-foto sebelumnya Banyu tampak lebih hancur dan babak belur, dan Emi tidak sebodoh itu untuk tidak menyadari kalau pria itu sudah kehilangan nyawanya.
“Lo tau sebelum pria itu kehilangan nyawanya, dia sempat mengatakan sesuatu yang membuat gue tertarik” Dikta bersedekap d**a, menatap Januar dingin. “Katanya lo yang menyarankan dia dan keluarganya untuk turut menculik Adelia hari itu. Apa ini cara lo mengadu domba Padma dan Natawirya?”
Tenggorokkan Emi merasa kering, namun perempuan itu cepat-cepat menyahut. “Lo percaya omongan orang itu?” tanyanya tenang. “Ben dan keluarganya mendekati keluarga Sukma karena ingin mendapat dukungan ketika mereka menculik adik lo. Sebagai gantinya mereka akan melindungi kami dari kalian. Hanya itu.”
Tak ada sahutan apapun dari Dikta, jadi Emi bergegas menyahut kembali. “Lo juga pasti tau kalau keluarga Sukma diperas sama keluarga mereka selama pelarian. Kami juga kesulitan di sini.”
Baru satu tahun berlalu sejak Emi terakhir kali melihat pria di depannya ini. Namun, aura yang dipancarkannya sudah cukup membuat Emi merinding. Seolah ia sedang berhadapan dengan predator yang merasa terganggu karena telah diusik. Kesan menakutkan yang sama selama Emi berhadapan dengan ayah pria itu.
“Dengar-“
“Januar!”
Percakapan keduanya terhenti begitu saja. Dikta menoleh, mendapati Januar sudah berlari cepat ke arah sang istri. Tatapannya menyipit penuh ketidak sukaan dan kebencian yang ditujukan pada Dikta secara penuh. “Ada yang bisa saya bantu, Pak Dikta?”
Sudut bibir Dikta terangkat, merasa geli akan cara Januar memanggilnya dengan penuh rasa hormat. Padahal ia teramat tau kalau di antara semua orang ini, kedua orang inilah yang sangat menantikan kejatuhannya. “Tidak ada, saya baru saja memberikan hadiah pernikahan kalian yang terlambat saya berikan.”
Setelah berucap demikian, Dikta langsung berjalan pergi. Meninggalkan pasangan suami istri itu begitu saja. Sampai ia tiba-tiba berhenti dan berbalik. Menatap keduanya bergantian dengan senyum mengejek. “Emi, saya harap kamu akan segera sadar kalau permainan yang kamu masuki sudah terlalu jauh.”
“Pergilah selama kamu masih bisa, karena ketika giliran saya bermain tiba. Tidak ada satupun yang saya ampuni.”
***
Tempat duduk di mana Adelia berada, berada tak jauh dari panggung utama. Dari tempatnya ia bisa melihat dan mendengarkan secara jelas kata sambutan Raya Mahardian yang begitu elegan dan hangat. Tak jauh dari mejanya, Adelia juga melihat bagaimana suami dan keluarga Mahardian hampir semuanya hadir. Tampak sekali bangga melihat Raya menyampaikan kalimat sambutannya. Mengingatkan Adelia akan ekspresi ayah dan kakaknya setiap ia melakukan sesuatu yang membanggakan.
Mengingat acara amal ini difokuskan pada penjualan barang-barang donasi yang ada. Di layar sana mulai terlihat deretan barang-barang yang terjual, dan siapa saja yang berhasil mendapatkan barang tersebut. Suara tepuk tangan tak henti terdengar setiap nama-nama tamu tertera di layar sana. Sukses membangkitkan rasa penasaran Adelia, yang akhirnya mencondongkan diri untuk berbisik ke arah Elisa yang duduk di sebelahnya. “Kakak sama Mas Rafi beli apa tadi?”
“Kamu lihat saja nanti,” balas Elisa seraya tersenyum penuh teka-teki.
Adelia mengernyitkan dahi, lantas menoleh ke belakang di mana Rafi bersiaga di dalam kegelapan ruangan. Menatap fokus layar yang menunjukkan deretan barang dan nama orang yang telah membeli. Adelia semakin merasa penasaran benda apa yang membuat keduanya sepakat untuk dibeli.
“10 set lukisan Tara Serenade, telah terjual kepada Emilia Sukma dan Januar Handika.”
Tak butuh waktu lama sampai seruan kagum dan tepuk tangan keras terdengar memenuhi seisi ruangan. Sebagian melirik ke arah Emi dan Januar yang disinari lampu sorot sebagai pusat perhatian. Sementara sebagian lainnya melirik ke arah Adelia dan berbisik-bisik. Bagaimana pun semua orang tau keluarga Padma adalah pemilik koleksi utama karya-karya Tara Serenade. Mudah bagi mereka mengetahui bahwa lukisan-lukisan itu pasti telah dijual oleh keluarga Padma. Mereka mulai bertanya-tanya apa yang terjadi di dalam keluarga itu hingga mereka menjual seluruh koleksi dari seniman terlangka tanah air.
“Cincin Pink diamond 32 karat, telah terjual kepada Dikta Natawirya.”
Nama itu sukses membuat Adelia tertegun. Bergegas menolehkan kepala ke mana lampu sorot mengarah. Menemukan sosok pria yang menghilang dari hidupnya satu tahun lalu, tanpa pamit itu duduk di salah satu meja yang jauh dari tempatnya duduk. Ekspresinya datar dan tatapannya tertuju pada satu titik. Dirinya.
Tanpa sadar Adelia meremas gaunnya. Perasaan marah dan kecewa naik memenuhi hatinnya, hingga tanpa sadar giginya mulai bergemeletuk. Ia sudah mau pergi meninggalkan tempat tersebut, sebelum tiba-tiba lampu sorot terarah padanya.
“Dan untuk barang terakhir yang terjual malam ini, dua pasang jam tangan langka darii Graff telah terjual pada Adelia Padmasari.”
Suara riuh tepuk tangan dan sorotan kagum yang tertuju padanya membuat Adelia mau tak mau tersenyum tipis. Lantas melirik ke arah Elisa yang hanya tersenyum puas. Tatapan Adelia teralih ke layar, memperhatikan bentuk dua jam tangan yang dibeli oleh kedua Elisa dan Rafi. Jam itu berbentuk besar dan kecil, dan jelas sekali merupakan jam yang dikhususkan untuk pasangan. Namun, Adelia mengerti mengapa kedua orang itu memilih membelikan barang ini untuknya. Apalagi kalau bukan untuk diberikan kepada ayahnya yang sedang di rumah sakit. Hadiah kecil untuk menghibur sang ayah di tengah-tengah pengobatannya.
“Pilihan yang bagus, Kak Elisa, Terima kasih ya.” ujar Adelia menatap Elisa tulus. Ia melihat bagaimana lampu-lampu di aula telah dinyalakan dan para pelayan mulai menghidangkan makan malam untuk mereka nikmati. Menandakan bahwa acara amal kali ini telah resmi berakhir setelah mengumumkan berapa banyak uang yang dikumpulkan malam ini. Sukses membuat orang-orang mengernyitkan dahi, termasuk Adelia. “Tidak ada pengumuman siapa pemberi donasi terbanyak?”
“Mulai saat ini, keluarga Mahardian memutuskan untuk tidak mengumumkan hal seperti itu Adelia.” Elisa lantas mencondongkan tubuhnya ke samping, berniat untuk berbisik. “Tapi setelah berkeliling aku rasa keputusan ini diambil karena ada dua orang yang memberikan donasi terbanyak. Jadi mereka tidak mau terjadi konflik.”
“Dua orang?” Diam-diam Adelia melirik ke arah Januar dan Emi yang ekspresinya tampak keruh. Mungkin mereka sudah berangan-angan bahwa nama mereka akan dipanggil sebagai pemberi barang donasi termahal. Tanpa tau bahwa Adelia diam-diam memberikan barang donasi yang bernilai lebih besar. Padahal Adelia sudah berharap bisa melihat wajah pucat keduanya ketika sadar ia lah yang memenangkan acara amal kali ini.
“Jam yang aku dan Rafi beli buat kamu, harganya sama dengan barang yang kita berikan.”
***
“Selamat beristirahat Tuan.”
Dikta hanya mengangguk kecil, segera menutup pintu kamar hotelnya itu. Pria itu menghela napas, menarik lepas dasi dan membiarkannya terserak begitu saja di lantai. Ia bergegas meraih ponsel dan menghubungi seseorang. Menunggu cukup lama sampai panggilan tersebut terhubung.
“Halo-“
“Kenapa kamu nggak bilang ke Kakak, kalau keluarga Padma ikut acara ini?” Hening. Tak ada balasan apapun dari Fira, namun samar terdengar adiknya itu sedang berbisik-bisik dengan seseorang. Entah membicarakan apa. “Fira, kamu yang merencanakan ini?”
“Aku juga nggak tau kalau keluarga Padma ikut, Kak.” Tak ingin disalahkan Fira dengan cepat menyahut. “Mungkin seperti kita, Padma baru memutuskan bergabung dalam acara ini di detik-detik terakhir?”
Alasan yang sebenarnya tidak masuk akal. Dari semua informasi yang Dikta ketahui, meski keluarga Mahardian tidak melakukan keberpihakan dengan keluarga manapun. Salah satu adik Raya, adalah petinggi dari perusahaan yang berhubungan erat dengan perusahaan induk keluarga Padma. Padma tidak akan pernah melewatkan kesempatan untuk datang ke acara ini.
“Kakak ketemu dia.”
Hening. Cukup lama Fira terdiam sebelum ia menyahut lebih antusias, “Serius? Terus gimana Kak? Akhirnya kalian ngobrol? Kamu akhirnya bisa jelasin alasan kenapa kita pergi setahun yang lalu?”
Dikta tak menjawab, mengeluarkan kotak cincin berisi pink diamond yang ia beli dalam acara amal tadi. Menatap perhiasan itu dengan perasaan campur aduk. “Nggak. Kakak nggak deketin dia sama sekali.”
“Kok gitu? Kak kamu baru aja menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa ketemu dan jelasin-“
“Ini rencana kamu kan?” Berpikir sesaat, Dikta lantas terkekeh kecil. “Atau ini akal-akalan Alex yang sedang sama kamu sekarang?”
“Kamu tau darimana aku lagi sama Mas Alex, Kak?”
Sudut bibir Dikta terangkat, membentuk senyuman mengejek yang jelas tak bisa adiknya itu lewat. “Nggak ada yang Kakak nggak tau.”
Sepertinya Fira masih suka lupa kalau Dikta tidak lagi sama seperti sebelumnya. Pria itu sudah mengukuhkan posisinya sebagai pewaris satu-satunya keluarga Natawirya. Itu berarti apa yang pria itu ketahui, segala rahasia dan informasi yang ada. Pria itu tau semuanya. Sebanyak apa yang ayah mereka ketahui selama ini. Mengetahui bahwa adiknnya beberapa hari terakhir diam-diam menemui Alex, hanyalah hal kecil dalam kesehariannya.
“Kak, aku-“
“Kita bicarakan ini lagi ketika Kakak sudah pulang.”
Panggilan itu terputus. Dikta menghela napas, menatap cincin pink diamond yang terpampang nyata di depannya. Tak ada yang pernah bilang padanya bahwa rasa rindu yang selama ini berhasil ia redam, akan meledak riuh ketika akhirnya sosok yang ia rindukan dia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
Adelia tampak lebih baik. Menjelang akhir acara, Dikta bisa melihat bagaimana Adelia tidak lagi menggunakan tongkatnya. Berjalan dengan begitu kokoh dan tegap, mengitari ruangan. Menyapa tamu-tamu lain seraya menyunggingkan senyum hangatnya yang tidak pernah berubah. Jenis senyuman yang membuat hati Dikta teremas, sebab senyuman itu akan langsung menghilang ketika mata mereka tak sengaja bertabrakan.
Perkembangan pemulihan Adelia memang menjadi hal yang paling dirahasiakan oleh keluarga Padma. Namun, bagi keluarga Natawirya itu hanyalah informasi yang begitu mudah ia dapatkan. Setiap harinya akan ada map yang Daren letakkan di atas mejanya. Map-map yang tak pernah ia buka sama sekali, meski penasaran setengah mati akan apa yang tertulis di dalamnya. Informasi terkait Adelia selama berada di Zurich. Meski sempat memandangi Adelia dari jauh, menjelang persiapan kembali ke tanah air. Tetap saja, rasanya pertemuan kali ini lebih berbeda. Sebab tidak seperti sebelumnya, mereka menyadari keberadaan satu sama lain.
Tidak, sampai Dikta bisa membereskan semua orang yang telah menyakiti perempuan itu. Meski Adelia sudah baik-baik saja saat ini. Rasanya Dikta tidak bisa membuat kakinya melangkah untuk menemui perempuan tersebut.
Sebab hingga hari ini, setiap melihat mata Adelia. Apa yang Dikta ingat adalah tubuh perempuan itu yang berlumuran darah dan berangsur-angsur kehilangan kehangatannya dalam pelukannya hari itu.