Adelia tidak mengerti, kenapa malam ini kakinya seolah tidak mau bekerja sama dengannya. Kakinya terasa ngilu, meski dirinya sudah beristirahat untuk waktu yang lama. Ia bahkan mengurangi beban pekerjaannya beberapa hari sebelum acara ini di mulai. Dengan kata lain tubuhnya berada dalam kondisi paling prima dari hari-hari lainnya. Namun, entah kenapa kakinya itu tetap terasa ngilu. Seolah tubuhnya sedang memberi peringatan bahwa ada sesuatu yang akan terjadi di tempat ini.
“Adel.”
Namanya yang disebutkan dengan takut-takut itu jelas bukan suatu alasan. Elisa yang melihat bahwa dia jauh dari kata baik, jelas ingin sekali mengajukan saran agar mereka pulang saja. Namun, asistennya itu juga tau betul bahwa acara ini adalah acara paling penting bagi dirinya. Itulah kenapa, ia hanya bisa memanggil nama Adelia berkali-kali. Kata-katanya tertahan begitu saja di ujung lidah dan hanya bisa menyorotkan pandangan khawatir.
Sadar bahwa bukan keputusan yang tepat, jika ia hanya berdiam diri di salah satu lorong acara. Suka tidak suka, Adelia harus mengakui bahwa dia tidak bisa menunjukkan secara ‘penuh’ pemulihannya. Perempuan itu menghela napas, lantas menyodorkan tangan pada Rafi. “Tongkat ku Mas.”
Dengan cepat Rafi menyodorkan tongkat berjalan berwarna hitam yang selama ini ia pegang di balik punggung. Elisa sendiri dengan cepat membantu Adelia membenahi bentuk gaunnya di bagian belakang yang sedikit terlipat. Memastikan bahwa gaun tersebut tidak akan menjadi penghalang selama Adeli melangkah nanti.
Sebuah helaan nafas lolos dari celah bibir Adelia, menatap tongkat berjalan yang sudah beberapa bulan tidak ia gunakan sebab sensasi nyeri itu biasanya akan langsung hilang setelah ia beristirahat untuk beberapa menit. Adelia lantas menoleh ke belakang, menatap tenang kedua tangan kanannya itu. “Ayo.”
Baik Rafi maupun Elisa mengangguk, mengikuti Adelia berjalan kembali ke area aula utama. Menemani sang puan berkeliling, entah untuk menyapa tamu-tamu lain atau mengamati barang-barang yang dipamerkan malam ini. Mulai dari karya seni, perhiasan hingga otomotif. Berbagai barang dipamerkan, namun tidak ada satu pun yang menarik minat Adelia. Setidaknya itu yang ia pikirkan, sampai tanpa sengaja matanya tertuju pada sebuah kotak kaca. Kotak yang diletakkan tak jauh dari deretan meja-meja bundar di mana para tamu bercengkerama seraya menikmati makanan kecil yang tersedia.
Kotak itu berisi perhiasan berupa cincin. Sebenarnya bentuk cincin itu tampak biasa saja dan tidak terukir rumit. Namun, apa yang menarik mata Adelia adalah apa yang berada di tengah cincin tersebut. Sebuah berlian merah muda dengan ukuran cukup besar yang jelas membuat siapa pun termasuk para kaum hawa terpana. Tak ada yang tidak tau berapa harga berlian merah muda itu. Harga pecahan terkecilnya saja sangat menguras dompet, apalagi dengan ukuran sebesar itu.
Membuat Adelia bertanya-tanya, siapa orang gila yang menjadikan perhiasan seindah ini sebagai bahan donasi alih-alih warisan turun temurun.
Suara hentakan sepatu hak tinggi yang terdengar mendekat, disusul dengan bulu kuduknya yang entah kenapa mulai meremang. Membuat Adelia menelan ludah. Bisa merasakan bahwa ada hal buruk yang menghampiri. Perempuan itu terdiam sesaat, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk berbalik. Ekspresinya berubah menjadi datar. Firasatnya memang tidak pernah salah.
Berbanding terbalik dengan Adelia yang berekspresi datar. Perempuan yang berdiri beberapa meter darinya itu tampak tersentak dengan mata perlahan melebar. Tangannya mulai meremas erat clutch dan kartu di tangan. Ekspresinya yang riang gembira lenyap begitu saja. Persis seperti seolah ia baru saja melihat hantu.
“Adelia, mari kita pergi ke arah lain,” gumam Elisa menatap tajam perempuan di hadapan mereka itu. “Tidak ada yang menyenangkan jika anda pergi ke arah sana.”
Cukup lama Adelia terdiam, sebelum sudut bibirnya terangkat. Memberi senyuman tipis. “Kamu benar Kak, pemandangan di sebelah sana hanya merusak mata saja,” ujarnya lantas berniat untuk pergi lebih dulu dari tempat tersebut. Secepatnya sebelum orang-orang mulai menyadari keberadaan mereka.
“Bukankah setidaknya kamu harus menyapa karena kita sudah terlalu lama tidak bertemu?”
Perempuan itu tidak pernah berubah. Bodoh seperti biasa. Adelia menghela napas, menoleh ke arah Emi yang tampaknya sudah memulihkan keterkejutannya. Terbukti dari bagaimana perempuan itu kini tersenyum penuh ejekan padanya. Terlebih ketika ia menyadari ada tongkat berjalan di salah satu tangan sang puan. “Sepertinya kondisimu sudah lebih baik. Benar kata orang kalau bagi Padma keajaiban adalah sesuatu yang bisa mereka kejar.”
“Terima kasih karena Anda menganggap keluarga saya sehebat itu,” balas Adelia tenang. “Saya dengar Anda sudah menikah. Selamat atas pernikahan Anda.”
Emi mengerjap beberapa kali sebelum ia mulai tertawa. “Kenapa resmi sekali Adelia? Kedua ayah kita berteman sejak kecil, itu berarti kita seharusnya bersahabat bukan? Yang lalu biarlah berlalu, sudah waktunya kita melangkah ke depan tanpa terjebak di masa lalu kan?”
Samar Adelia bisa mendengar suara gertakkan gigi dari belakang, siapa lagi kalau bukan dari kedua tangan kanannya yang menahan kesal akan ucapan Emi tersebut. Walaupun di dalam pikiran, ingin sekali Adelia menjambak rambut Emi dan meluapkan amarahnya. Akal pikiran Adelia masih bisa menang dari apa yang dibisikkan oleh egonya. Jadi meski harus menahan rasa nyeri yang teramat sangat dari kedua kakinya, Adelia memutuskan untuk berjalan mendekat. Tidak tampak malu akan fakta ia membutuhkan tongkat untuk menopangnya selama berjalan.
“Jangan melewati batas Emi. Keluarga saya sudah memutus segala hubungan dengan keluarga anda. Mungkin anda merasa di atas angin karena selama setahun ini anda berhasil membuat keluarga-keluarga lain berbalik melawan kami.”
Jeda sesaat, samar terdengar suara bisik-bisik. Tampaknya para tamu sudah menyadari bahwa Adelia sedang berhadapan dengan Emi. Memancarkan aura ketegangan yang begitu terasa, mengingat tidak ada satupun orang di ruangan tersebut tidak tau akan apa yang terjadi di keduanya.
“Tapi saya tidak akan membiarkan Anda melangkah lebih jauh dari apa yang anda dapat sekarang. Bagaimana pun hubungan yang dibangun karena niatan tidak baik adalah hubungan terapuh di dunia ini.” Adelia terkekeh. “Saya harap Anda tidak akan dikhianati oleh orang-orang itu.”
Puas melihat bagaimana ekspresi Emi berubah suram, Adelia tersenyum kecil. Lantas tanpa mengatakan apa-apa bergegas pergi. Tidak mau menjadi pusat perhatian lebih lama lagi. Berjalan menuju deretan meja-meja kosong. Tak lagi berminat membawa pulang apapun dari pameran kali ini. “Mbak Elisa, Mas Rafi.”
Kedua orang itu bergegas mendekat, ketika Adelia memanggil nama mereka. Adelia menghela napas, lantas mengeluarkan token yang ia simpan baik-baik di dalam tas. Memberikannya pada kedua orang itu. “Berkelilinglah, dan pilih apa saja yang menurut kalian menarik.”
“Tapi-“
“Aku butuh waktu sendiri.” Adelia memberi senyuman tipis. “ Lagi pula semua orang sedang memperhatikanku, tidak akan ada yang berbuat macam-macam di sini.”
Baik Elisa maupun Rafi saling bertukar pandang, menyadari bahwa nada bicara Adelia sedikit terdengar berbeda. Rafi menelan ludah, memperhatikan keadaan sekitar. Menyadari bahwa tamu-tamu lain tak henti mencuri pandang ke arah atasannya tersebut. Rafi menghela napas, lantas mengangguk mengerti. “Saya akan tetap memperhatikan anda dari jauh.”
Setelah berujar seperti itu, keduanya bergegas pergi. Adelia sendiri hanya memperhatikan keramaian di depannya dalam diam. Awalnya ia berniat untuk menegur beberapa tamu lain, namun rasa nyeri di kakinya semakin menjadi-jadi. Sepertinya dia memang harus beristirahat lebih lama sebelum menyapa koleganya yang lain.
“Adelia?”
Panggilan itu membuat Adelia menoleh, mendapati seorang pria tinggi berkacamata berdiri di depannya. Ekspresi sang puan berubah menjadi semakin lebih cerah. “Pak Aldi,” ujarnya seraya bangkit dan menyodorkan tangan untuk berjabat tangan pria tersebut.
Pria di depannya ini adalah Aldi Pradana. Keluarganya termasuk salah satu penguasa bisnis kesehatan di tanah air. Hubungan keakraban antara keluarga Pradana dan Padma bisa terbilang cukup baik, terutama di lini bisnis kesehatan mereka. Walau pria itu termasuk deretan orang-orang yang jarang ia temui sebelumnya, namun tak berarti ia tidak akrab dan tak mengetahui apapun terkait pria tersebut.
“Saya dengar kamu bergabung dengan lini bisnis kesehatan, kenapa tiba-tiba berubah haluan Nak?” tanya Aldi murni karena penasaran.
Adelia tertawa kecil. “Kakak saya mengeluh merasa kesulitan mengurus rumah sakit sendiri, jadi ya kami membuat kesepakatan. Dia sudah menemani saya selama satu tahun ini untuk terapi, jadi sebagai balasannya saya memutuskan untuk membantunya mengurus rumah sakit.” Mendadak Adelia teringat wajah Andri yang tampak lebih cerah setelah ia memutuskan bergabung dalam manajemen rumah sakit keluarga Padma. Sukses membuatnya terkekeh. “Mas Andri lebih suka mengurus segala urusan teknis di sana, jadi saya yang akan mengurus segala urusan bisnis nantinya.”
“Saya akui memang sulit sekali mengurus manajemen rumah sakit, sembari bekerja sebagai dokter.” Aldi ikut mengangguk setuju. “Sekarang saja keponakan saya membantu urusan bisnis.”
Tak butuh waktu lama sampai seorang perempuan yang tak asing di mata Adelia berjalan mendekati mereka. Seolah sudah terbiasa, Aldi dengan tenang meletakkan tangannya di pinggul perempuan tersebut. “Adelia saya tau kamu pasti sudah kenal. Tapi biar saya kenalkan lagi, ini istri saya Naya.”
“Senang bisa bertemu lagi dengan Bu Naya.”
Naya adalah satu dari sedikit banyaknya pengusaha perempuan yang dihormati oleh Adelia. Setelah ditinggal mati suaminya yang meninggal dalam kecelakaan. Perempuan itu memastikan bahwa bisnis teknologi yang telah dibangun sang mendiang suami tidak kehilangan pijakan. Ia bukan hanya membuat bisnis suaminya itu sekedar bertahan namun juga berkembang menjadi raksasa bisnis teknologi yang namanya besar di luar negeri.
“Senang bertemu denganmu lagi juga Adelia.” Perempuan itu tersenyum lebar. “Saya senang melihat kamu sudah baik-baik saja. Bagaimana pun saya tau proses pemulihan dari kecelakaan adalah hal yang sulit, saya senang kamu bisa melaluinya dengan baik.”
“Terima kasih Bu Naya, kalau tidak sibuk mungkin kita bisa sekali-kali minum teh di luar? Membicarakan apa pun selain pekerjaan? Itupun kalau anda tidak keberatan,” tawar Adelia.
“Tentu, saya akan senang bisa menghabiskan waktu bersama kamu Adelia. Atur saja kapan kamu bisa.” Seolah teringat sesuatu, Naya lantas menunduk sedikit. “Selain itu saya mau menyampaikan terima kasih pada keluarga Padma. Terima kasih sudah memberi kesempatan pada anak kedua saya, Hanan untuk mencoba tampil di Paris Fashion Week mewakili brand pakaian keluarga kalian.”
Ah, benar juga. Adelia jadi teringat kalau sepupunya, Darla sedang disibukkan dengan banyak sekali persiapan untuk acara Paris Fashion Week yang akan digelar dalam beberapa minggu lagi. Itulah kenapa sampai sekarang ia belum sempat bertemu dengan sepupunya tersebut.
“Tidak perlu terlalu berterima kasih Bu Naya. Justru harusnya kami yang berterima kasih karena anda mempercayai kami untuk menyalurkan bakat anak anda satu itu.” Tak butuh waktu lama sampai Adelia mengeluarkan kartu nama barunya dari dalam tas dan memberikannya pada dua orang tersebut. “Ini kartu nama saya yang baru, silahkan hubungi saya kalau anda berdua butuh apapun.”
“Kalau begitu kami juga harus memberikan kartu nama,” balas Aldi dengan cepat menyodorkan kartu namanya kepada Adelia begitupun Naya. “Sepertinya kamu akan lebih banyak bertemu dengan saya sekarang Adelia.”
“Mohon bimbingannya Pak Aldi.”
Ucapan Adelia barusan sukses membuat pasangan itu tertawa, lantas mulai membicarakan hal lain. Melihat interaksi itu, orang-orang mulai menaruh minat. Tidak lagi dihantui perasaan segan apalagi takut. Beberapa tamu bahkan memberanikan diri untuk ikut bergabung dalam pembicaraan. Tak butuh waktu lama sampai Adelia berhadapan dengan banyak sekali tamu yang ada. Orang-orang yang memang sudah ia rencanakan untuk dekati agar mempermudah jalan karir dan citra sosialnya. Tak perlu menghampiri satu persatu, orang-orang itu datang sendiri padanya.
Sementara itu di sisi lain ruangan, lebih tepatnya di balik deretan barang-barang yang sedang dipamerkan. Seorang pria berjas hitam memperhatikan kerumunan itu dalam diam. Tangannya memegang gelas berisi anggur merah yang belum ia sesap sedikit pun. Tatapannya tampak sendu dan hatinya meronta-ronta untuk menuntaskan rindu yang selama ini terpendam.
“Tuan-“
“Nanti saja kita duduk,” ucap Dikta seraya menghela napas. “Kalau dia tau ada saya di tempat ini, sepertinya dia akan merasa tidak nyaman.”
Tangan kanannya itu mengangguk, tak lagi mengatakan apa-apa. Tatapan pria itu lantas teralih pada kotak kaca yang tak jauh dari sana. Tertarik akan cincin yang dipamerkan di sana.
“Pink diamond. Salah satu perhiasan paling mahal,” gumamnya mengenali perhiasan tersebut. “Kira-kira siapa orang yang menjadikan perhiasan langka ini sebagai bahan donasi alih-alih pusaka keluarga?”
“Kalau tidak salah, perhiasan ini diberikan oleh keluarga Kusuma.” Daren menjawab dengan tenang. Melirik ke arah perempuan yang duduk sendirian di sisi paling pinggir meja-meja yang ada. “Yang memberikan adalah putri termuda keluarga itu. Setelah kedua kakaknya masuk penjara karena tuduhan perencanaan pembunuhan kakaknya yang lain. Putri termudanya yang mewarisi perusahaan tidak berniat mempertahankan perusahaan itu lebih lama. Mungkin ini caranya untuk menghabiskan semua harta kekayaan keluarga, dan keluar dari lingkungan sosial kalangan kelas atas.”
Dikta mengangkat gelas di tangannya, dan pura-pura minum sebelum bergumam kecil. “Bukannya dia yang memiliki anak di luar nikah dengan salah satu pejabat negeri ini?”
Tanpa bisa menahan diri Daren tersenyum tipis. “Anda benar tuan. Hanya menunggu waktu sampai hal ini terbongkar ke publik.”
Tatapan Dikta teralih pada deretan angka di plakat yang terpasang di pinggir kotak tersebut. Terdiam cukup lama, sebelum ia mengeluarkan tokennya dari dalam saku. Memberi kode pada salah satu pekerja di sana mendekatinya. “Saya akan membeli ini.”
“Sudah ada orang lain yang membeli perhiasan ini, Pak.”
Dikta menaikkan sebelah alisnya. “Oh ya? Tapi peraturannya sebuah barang bisa ditawar oleh siapa pun bukan, dan mereka yang memiliki nilai token tertinggi berhak mendapatkannya?”
“Anda benar Pak, tapi yang membeli perhiasan ini adalah Bu Emi dari keluarga Sukma.”
Mendengar nama keluarga Sukma, Dikta terdiam sesaat. Berbeda dengan Emi dan Januar yang sepertinya sudah akrab di mata para pekerja di rumah ini. Sepertinya pekerja satu ini tidak mengenal siapa Dikta. Wajar saja kalau pekerja itu meragukan kalau nilai tokennya akan jauh lebih tinggi dari keluarga tersebut. Dikta lantas terkekeh, semakin menyodorkan kartunya. “Saya yakin, token saya memiliki harga lebih tinggi dari perempuan itu. Silahkan kamu cek saja nanti.”
Walau terlihat ragu, pekerja itu mengangguk menerima token milik Dikta dan bersiap mendatangi para broker acara di dekat panggung. Sampai Dikta menahannya untuk mengatakan sesuatu.
“Tapi jika Adelia Padmasari menginginkan perhiasan ini, maka saya akan menarik penawaran.”