Acara amal keluarga Mahardian adalah satu dari sekian banyak acara amal paling bergengsi di dunia kalangan kelas atas. Acara tahunan yang kali ini diurus secara cermat oleh anak kedua pasangan pebisnis ternama asal Surabaya itu digadang-gadang sebagai acara paling penting bagi keluarga kalangan atas. Tempat di mana bukan hanya keluarga kalangan atas yang menguasai bisnis-bisnis di tanah air, namun ada pula para pejabat dan petinggi militer. Sebuah tempat yang tepat untuk memamerkan kuasa atau menjalin hubungan dengan orang-orang yang sulit sekali ditemui.
Bagi Adelia, acara amal keluarga Mahardian bukanlah sekedar acara biasa. Sejak dirinya masih bersekolah ayahnya itu kerap mengajaknya pergi ke acara tersebut. Berbaur dan menyimak segala pembicaraan yang ada walau saat itu ia belum tau benar akan apa yang sedang terjadi. Bisa dibilang acara tersebut adalah agenda tahunan biasa yang kerap ia datangi. Sayang, tahun lalu acara itu berlangsung beberapa bulan setelah ia bertolak ke ke Zurich. Membuat dirinya resmi selama 4 tahun melewatkan acara tersebut.
“Adelia?”
Namanya yang disebutkan itu, membuat Adelia bergegas menoleh. Tersenyum tipis saat seorang perempuan berambut sebahu dengan gaun berwarna burgundy berjalan mendekat ke arahnya. Perempuan yang mengatur berlangsungnya acara amal, sekaligus putri pertama dari keluarga Mahardian. Raya.
“Malam Kak Raya.” Adelia tersenyum hangat, memajukan wajahnya bertukar cipika-cipiki yang lebih dulu dilakukan oleh sang puan. “Lama tidak bertemu.”
“Aku tidak tau kamu sudah kembali,” sahut Raya tampak bersemangat sekali akan kedatangan Adelia. “Kukira hari ini akan bertemu Alex atau Darla sebagai perwakilan Padma. Kapan kamu kembali?”
“Belum lama ini Kak.” Tanpa menolehpun, Adelia bisa merasakan pusat atensi para tamu kini berpusat padanya. Selain karena fakta tuan rumah dari acara ini berada di depannya, kemunculan dirinya sebagai perwakilan Padma jelas mengejutkan. Mengingat bahwa kabar yang beredar adalah Adelia mengalami kecelakaan serius yang merengut kemampuan berjalannya. Namun, saat ini perempuan itu muncul dengan kaki yang kuat.
“Dua hari lalu aku pergi ke Serenade d’Amore karena tertarik membeli salah satu karya dari murid studio galeri kamu untuk hotel baru suamiku di maldives. Tapi direktur galeri yang nyambut aku hari itu bukan kamu, jadi ku kira kamu belum kembali Adelia.”
Mendengar itu, Adelia membuka tas jinjingnya. Lantas memberikan sebuah kartu nama ke perempuan tersebut. “Aku sudah bukan direktur galeri lagi Kak Raya. Sekarang ini aku bekerja di RS Harapan Kasih dan ketua lembaga amal keluarga Padma. Kita akan banyak berinteraksi mulai sekarang Kak.”
Kalimat Adelia barusan diucapkan dengan nada yang tenang namun cukup lantang. Cukup lantang hingga orang-orang di sekitar mereka bisa mendengarnya dengan jelas. Membuat orang-orang mulai berbisik-bisik. Tidak mengetahui adanya pergantian kepemimpinan di dalam Padma. Tidak, mereka bahkan tidak tau kalau putri bungsu Heri Padmana sudah kembali ke tanah air.
“Wah, selamat atas posisi baru kamu Adelia. Aku akan menyimpan kartu nama ini dengan baik.” Dengan wajah riang gembira, Raya memasukkan kartu nama itu ke dalam clutch nya. Seolah teringat sesuatu, perempuan tersebut menjentikkan jari. “Karena sekarang yang jadi ketuanya kamu, itu berarti aku bisa berasumsi kalau kamu terbuka akan segala undangan amal ke depannya kan?”
Sudut bibir Adelia terangkat semakin tinggi, menunjukkan senyuman penuh ketulusan. “Tentu, silahkan undang aku ya Kak. Mulai sekarang Padma akan berpartisipasi secara aktif akan segala acara undangan amal yang datang ke kami. Selain itu rumah sakit keluarga kami kebetulan sedang merencanakan program amal perbaikan gizi dan penyediaan sarana medis di beberapa daerah tertinggal. Aku akan kirim proposalnya ke Kakak kalau Kakak berminat bergabung.”
“Tentu saja aku berminat. Tolong kirimkan proposalnya ke aku segera ya Del.” Kini Raya menepuk bahu perempuan tersebut “Selamat menikmati acara amal ini ya. Aku mau menyapa tamu lainnya.”
Setelah mengatakan hal ini, Raya lantas pergi dari hadapan Adelia. Sungguh-sungguh menemui para tamu lainnya. Awalnya hanya sapaan biasa, sebelum para tamu itu tidak bisa menutupi rasa penasaran mereka lebih lama lagi. Mulai bertanya-tanya secara diam-diam akan apa saja yang Raya perbincangkan dengan si bungsu dari keluarga Padma tersebut. Ini bahkan belum ada sejam sejak Adelia tiba di tempat acara. Namun, tampaknya ia sudah berhasil mencuri atensi para tamu lain.
“Sekarang saya paham kenapa Pak Haidar sangat menyarankan kakaknya dalam rencana ini. Aktingnya sangat bagus.”
Fakta bahwa Rafi bisa berbicara dengan gerakan bibir yang minim, membuat orang-orang akan kesulitan untuk memprediksi apa yang sedang ia bicarakan dengan Nona Muda yang ia layani. Itulah juga alasan Adelia tidak pernah melarang Rafi untuk mengatakan apa yang ada di dalam kepalanya saat itu juga, sebab ia tau kalau pria itu tidak bisa menahan rasa penasarannya terlalu lama.
Benar, perbincangan yang dilakukan oleh Adelia dan Raya barusan bukan sekedar basa-basi atau topik yang muncul dengan sendirinya. Perbincangan itu sudah dipersiapkan, sebagai cara untuk membuat publik penasaran akan apa saja yang sedang disiapkan oleh Padma saat Adelia kembali. Fakta bahwa Adelia diberi posisi untuk memimpin lembaga amal keluarga besarnya, sama saja dengan menunjukkan bahwa mulai sekarang Padma akan aktif pula dalam kegiatan sosial. Sesuatu yang jelas jarang sekali Padma lakukan.
Kebetulan sekali Raya adalah kakak dari salah satu petinggi WijayaKusuma Group. Haidar. Perusahaan distribusi yang beraliansi dengan keluarga Padma baru-baru ini. Para petingginya menjalin hubungan akrab dengan Adelia bersaudara, sebab perbedaan usia yang tidak terlalu jauh. Membuat rencara ini berhasil direncanakan dengan matang.
Adelia meneguk minuman di tangannya, membuat catatan di dalam kepala bahwa pulang dari sini nanti dia harus berterima kasih dengan para ‘petinggi’ WijayaKusuma dan tentu saja Raya. Merasakan sedikit nyeri di salah satu kakinya, Adelia menghela napas. “Mari kita cari tempat duduk sebelum acaranya benar-benar di mulai.”
Baik Rafi maupun Elisa mengangguk. Mengarahkan sang Nona ke sisi lain bangunan yang dijadikan tempat acara. Menepi dari keramaian, memberi ruang istirahat untuk Adelia agar tidak terlalu membebani kakinya yang belum pulih total. Tanpa tau bahwa ketika mereka meninggalkan aula utama, kegemparan lain terjadi di aula tersebut.
***
Ini kali kedua? Atau ketiga? Sebenarnya Emi tidak terlalu ingat ini kali keberapa ia datang ke acara amal tahunan yang diselenggarakan keluarga Mahardian. Keluarga tersebut bisa terbilang berada di dalam jajaran yang sama dengan keluarganya dalam urusan pengaruh dan kekayaan. Apa yang membedakan adalah, keluarga tersebut lebih individual. Tidak begitu mempedulikan konflik antar keluarga yang sedang terjadi dan jarang sekali melakukan keberpihakan. Mungkin itulah kenapa, acara amal tersebut menjadi tempat di mana musuh bebuyutan sekalipun dapat bertemu.
Sebenarnya Emi tidak begitu senang datang ke acara amal yang digelar oleh keluarga Mahardian kali ini. Selain akan fakta bahwa tahun ini penyelenggara utamanya adalah putri pertama keluarga tersebut, yang santer terdengar memiliki hubungan sangat akrab dengan keluarga Padma. Alasan lainnya adalah konsep acara amal di keluarga Mahardian yang sedikit unik dan merepotkan bagi Emi.
Bagaimana tidak, jika acara amal lain konsepnya tak jauh dari acara pelelangan atau bahkan pengumpulan donasi diselingi makan malam. Maka acara amal keluarga Mahardian berbeda. Setiap tamu akan mengirimkan benda yang dijadikan ‘representatif’ seberapa besar donasi yang ingin diberikan dari masing-masing tamu. Lantas benda-benda itu akan dipamerkan dan telah dilabeli harga, sesuai dengan harga pasar dan pengamatan dari keluarga Mahardian. Uang tersebut kemudian akan menjadi token, yang memungkinkan para tamu untuk membawa pulang benda-benda yang dianggap menarik bagi mereka.
Kasarnya sama saja seperti mereka membeli barang yang diberikan oleh tamu lain secara anonim, dengan seluruh keuntungan diberikan untuk amal. Merepotkan bukan?
Berbeda dengan Emi yang tidak begitu tertarik akan acara kali ini, sepertinya suaminya tidak berpikir demikian. Sejak jauh hari Januar tampak sekali bersemangat memilihkan objek apa yang akan mereka berikan sebagai bentuk amal ke acara tersebut. Membuahkan hasil berupa sebuah satu set cangkir teh mahal yang baru-baru ini galeri mereka menangkan dalam sebuah lelang internasional, menjadi objek dari pemberian mereka. Membuat mereka mendapatkan token dengan nilai yang cukup fantastis. Sepertinya Januar cukup percaya diri bahwa apa yang mereka persembahkan adalah objek paling mahal dalam pelelangan.
“Kamu sepertinya senang sekali.”
Ucapan itu mengalihkan perhatian Januar dari pemandangan di luar sana. Menoleh ke arah istrinya yang memasang ekspresi datar. Tampak tidak antusias mendatangi acara yang akan mereka datangi malam ini. Pria itu menghela napas, lantas menggeser posisi duduknya semakin merapat pada istrinya itu. “Kamu tau? Aku udah cek list tamu-tamu dan apa aja yang mereka kasih buat acara amal ini.” Januar merendahkan kepalanya lantas berbisik. “Barang yang kita kasih adalah barang termahal di acara ini.”
Mendengar itu mata Emi jadi berbinar-binar. “Kamu serius?”
Sebuah anggukan diberikan oleh Januar seraya tersenyum lebar. Bagaimana tidak, di acara seperti ini biasanya keluarga Mahardian akan mengumumkan di akhir siapa pemilik barang donasi termahal di acara tersebut. Selain mendapat sebuah kebanggaan tersendiri, itu artinya Emi tidak perlu merasa resah tidak bisa membeli barang yang ia inginkan karena tokennya tidak cukup untuk membeli banyak barang di acara tersebut. Mengingat terakhir kali mereka ke sana, barang donasi yang mereka berikan tidak berjumlah terlalu besar. Alhasil Emi harus pulang sambil gigit jari karena tidak bisa membeli perhiasan yang menarik matanya saat itu. Secara itu kali pertama ia dan Januar yang mengurus sendiri segala keperluan untuk berpartisipasi dalam acara tersebut.
Januar lantas mengeluarkan sebuah kartu akrilik yang berwarna silver dengan kedua nama mereka terukir di sana dengan warna keemasan. Token yang akan mereka gunakan selama acara berlangsung. “Beli apapun yang kamu mau ya sayang.”
“Terima kasih ya sayang!” Dengan cepat Emi langsung maju dan memeluk erat suaminya itu. Tampak tidak sabar untuk segera sampai dan melihat apa saja yang bisa ia bawa pulang malam ini.
Tak lama mobil yang membawa Januar dan Emi tiba di depan pintu utama kediaman Mahardian. Tentu setelah berpuluh-puluh menit menunggu dan mengantri panjang di antara barisan mobil-mobil mewah sesama tamu. Kedua pintu penumpang di bukakan dan Januar turun terlebih dahulu. Bergegas berjalan menuju sisi lain mobil, lantas menyodorkan tangan. Membantu istrinya itu keluar dari dalam mobil.
Pasangan itu mengira malam ini mereka akan kembali menjadi pemeran utama. Menjadi pusat perhatian setiap orang yang ada di sana, seperti apa yang terjadi selama beberapa bulan terakhir. Fakta bahwa Kendra Sukma melengserkan diri dari kursi kepemimpinan dan mempercayakan penuh perusahaan keluarganya ke putri dan menantunya. Menjadi sebuah tanda bahwa menantu baru Kendra Sukma itu memiliki ‘nilai’ yang sukses menarik atensi para keluarga kelas atas untuk menjalin hubungan baik dengan pria itu.
Sayangnya, Januar dan Emi tidak mengira bahwa malam ini adalah awal dari bagaimana permainan akan mulai berbalik.
Keduanya tertegun, ketika tak lama sebuah mobil rolls-royce berwarna hitam mengkilat tiba di area depan kediaman keluarga Mahardian. Siapa pun tau di negara ini hanya ada beberapa orang saja yang memiliki mobil mewah tersebut. Harganya yang gila-gilaan dan kelangkaan persediaan, membuat hanya segelintir orang yang memiliki mobil tersebut. Dan yang mereka tau, selama ini satu-satunya orang yang kerap kedapatan menggunakan mobil jenis tersebut setiap menghadiri acara publik hanya satu orang. Alex Padmana. Masalahnya adalah, mobil milik Alex itu berwarna putih mengkilap. Sukses membuat orang bertanya-tanya siapa pemilik mobil tersebut?
Ketika pintu penumpang belakang dibuka, dan seorang pria keluar dari sana dengan ekspresi datarnya. Seluruh orang menahan napas. Bukan hanya karena terpesona akan parasnya yang rupawan, namun juga fakta siapa orang yang turun dari mobil tersebut. Pria yang seolah menghilang selama satu tahun ini. Menghilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak, dan hanya meninggalkan tanda tanya besar kenapa dan ke mana pria dan keluarga pria itu pergi.
Pewaris dari penguasa dunia ‘gelap’ negeri ini. Sang mafia terbesar.
Dikta Natawirya.
Pusat dari segala rumor dan konflik berat yang terjadi selama setahun belakangan. Kini kembali terlihat di dalam sebuah acara yang sama. Membuat siapa pun diam-diam mengantisipasi. Penasaran apa yang akan terjadi malam ini.