Manajemen rumah sakit dan lembaga amal. Dua hal tersebut, adalah pekerjaan yang melibatkan publikasi dengan publik paling banyak di antara bidang bisnis milik keluarga Padma lainnya. Fakta bahwa posisi manajemen rumah sakit diisi oleh sang kakak yang sedang menjalani pendidikan spesialisnya, membuat pria itu harus menolak beberapa undangan acara yang melibatkan rumah sakit mereka. Sesuatu yang menjadi kesalahan fatal, sebab ketidak hadiran itu membuat orang-orang bertanya-tanya seberapa berkembang rumah sakit keluarga mereka dibandingkan rumah sakit lainnya.
Ketika diberitahu bahwa ia akan mengurus dua hal tersebut, Adelia langsung paham tujuan kenapa para tetua memintanya untuk segera kembali. Apalagi kalau bukan mengambil alih kembali d******i publik di antara kalangan kelas atas yang sepertinya sedikit terpengaruh oleh isu-isu tidak benar yang berkaitan dengan keluarga Padma. Belum mulai saja Adelia sudah merasa bersemangat.
“Cuman kamu yang merasa senang dikasih tanggung jawab sebanyak ini.”
Perhatian Adelia teralih, menurunkan berkas yang ia baca dengan begitu serius hingga menutupi wajah. Tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum ke arah Alex. Kakak tertuanya itu mengatakan bahwa dia memiliki banyak sekali pekerjaan hari ini. Ia bilang Bima salah memperkirakan kapan Adelia tiba di tanah air, namun Adelia tau betul kalau asisten pribadi kakaknya satu itu tidak mungkin melakukan kesalah tersebut. Jelas sekali Alex tidak mau langsung dirundung pertanyaan oleh sang adik akan penawaran yang 'Natawirya' berikan sebelum mereka menghilang.
“Kakak nggak tau seberapa bosan aku di Zurich selama pengobatan.” Adelia menghela napas, menyingkirkan berkas yang ia bawa ke kursi kosong di sebelahnya. Kemudian meraih sendok, mulai melahap sup jagung yang sudah mendingin karena terlalu lama ia abaikan. “Pekerjaan yang para tetua kasih, lebih seperti mainan baru buat aku sekarang.”
Alex tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Menatap dengan penuh kasih sayang bagaimana adiknya itu bergerak. Merasa senang karena adiknya pulih dengan begitu cepat. “Tapi urus dua bidang, nggak terlalu berlebihan?”
“Aku nggak papa Kak,” jawab Adelia tenang. Menatap tumpukan berkas di kursi sebelahnya, berkas-berkas awal yang harus ia pelajari sebelum menjalankan dua tugas bagus tersebut. Tatapannya ikut teralih ke meja lain, di mana Rafi dan Elisa makan. Melihat bagaimana dua orang kepercayaannya itu saling bahu membahu, mempelajari jadwal dan pertemuan yang harus mulai mereka susun. Mengingat Adelia akan secara efektif mengambil alih dua posisi itu besok. “Mas Andri udah habisin waktu satu tahun penuh buat perhatiin aku selama pengobatan. Sudah sewajarnya aku balas dia dengan ikut urus manajemen rumah sakit. Mas Andri lebih mau menekuni urusan teknis di dunia medis, jadi sebagai gantinya aku yang bakal urus di bagian bisnis.”
“Setelah Mas pikir-pikir ya, dari dulu kamu memang lebih dekat sama Andri.” Alex meletakkan piring berisi daging steak yang sudah ia potong kecil-kecil ke hadapan Adelia. Menu makan siang utama sang puan. “Wajar kalau kamu lebih nyaman buat kerja sama dia, dibanding sama kakak-kakak kamu yang lain.”
Nada bicara Alex entah kenapa terdengar aneh di telinga Adelia. Perempuan itu mengerjap, berpikir sesaat sebelum terkekeh. Sadar ke mana arah pembicaraan mereka saat ini. “Kakak nggak lagi ngambek karena aku lebih mau bantuin Mas Andri daripada bantu Kakak sama Mas Fedri kan?”
“Kenapa kamu nggak mau bantuin kita untuk ambil tanggung jawab induk perusahaan? Tetua bahkan kasih kamu pilihan untuk pilihan itu. Kalau kamu pilih itu, bukannya citra dan kuasa yang kamu miliki akan lebih kuat dibanding sekarang?” tanya Alex masih tidak paham kenapa adiknya menolak tawaran sebesar itu dari para tetua. Tawaran yang bahkan ia dan Fedri tidak menyangka akan diberikan.
“Karena aku nggak mau jadi orang yang serakah lagi Kak.” Seolah mengingat apa yang terjadi selama dua tahun terakhir, Adelia berujar dengan tenang. Perempuan itu meletakkan kembali alat makannya sebelum menatap kakaknya itu serius. “Tujuan ku bukan kembali menjadi Adelia yang dianggap ‘pantas’ sebagai pewaris keluarga, bersanding dengan kalian berdua. Tujuan ku adalah memperkuat kembali nama Padma di lingkungan sosial kita. Dan memastikan tidak ada yang akan mempertanyakan masa depan keluarga kita, siapa pun orang yang duduk di kursi kepemimpinan nanti.”
Alex tersenyum, lantas memutuskan untuk duduk di samping sang adik. Meraih salah satu tumpukan kertas, membaca apa saja yang sedang dipelajari oleh si bungsu. Bagaimanapun walau Adelia dikenal sebagai perempuan cerdas yang selalu tau apa yang harus di lakukan bahkan di saat terdesak. Manajemen rumah sakit dan lembaga amal, adalah dua bidang bisnis yang penerapannya jauh berbeda dari bidang-bidang lain yang pernah Adelia jajaki. Untuk rumah sakit, keuntungan jelas menjadi tujuan utama namun siapapun tau strategi bisnis yang terlalu keras hanya akan membuat nama baik dari bisnis itu tercemar. "Untuk rumah sakit, kamu tidak seharusnya fokus dalam mengejar keuntungan saja."
Ucapan sang pria menarik perhatian Adelia, kini mendengarkan nasihat sang kakak dengan sangat cermat. "Inti dari bisnis rumah sakit adalah bagaimana kamu membuat perawatan yang ada bisa dijangkau oleh setiap kalangan. Namun satu sisi tetap eksklusif bagi mereka yang mencari kenyamanan dan nilai pantas akan perawatan yang seharusnya mereka dapat."
"Aku tau." Adelia membalas tenang. "Ada batasan jelas antara pasien biasa dan eksklusif, namun perawatan yang mereka dapat jelas harus sama-sama yang terbaik. Aku udah belajar kok Kak."
Keheningan melanda kembali ruang tengah kediaman Padma tersebut. Tak ada satupun yang berbicara sampai Alex merasa jengah sendiri. "Kamu nggak mau nanya apapun ke Kakak?"
Mata Adelia mengerjap, nampak bingung akan maksud dari pertanyaan Alex. Sampai ia akhirnya sadar kemana pembicaraan saat ini mengarah. "Soal pernikahan kakak?"
"Kakak kira kamu akan menentang segala hubungan dengan Natawirya?"
"Masalahku cuman sama Dikta. Suka nggak suka, aku sadar kalau kita butuh Natawirya sebagai sekutu. Mereka adalah orang yang terbiasa menangani segala hal kotor di balik layar. Mereka akan mengetahui lebih dulu marabahaya apa yang akan datang ke kita."
"Adel."
"Kak," panggil Adelia menunjukkan wajah lelahnya. "Udahan ya bahas ini."
Alex terdiam.
***
Hujan turun dengan teramat deras malam ini.
Adelia mengernyitkan dahi, menatap derasnya hujan dan kilat petir yang sekali-kali muncul disusul suara gemuruh yang memekakan telinga. Angin yang berhembus terasa lebih dingin dari biasanya, namun Adelia tidak berminat beranjak dari balkon. Membiarkan percikan air hujan sekali-kali menampar wajahnya.
Semenjak kejadian jatuh dari tebing malam itu. Entah kenapa Adelia tidak lagi merasa takut ataupun resah ketika langit sedang berkecamuk. Seolah apa yang ia takuti sebelumnya tidak lagi terasa menakutkan. Mungkin karena kejadian hari itu menjadi apa yang menghantuinya selama ini.
Suara ketukan di pintu mengalihkan lamunan Adelia. Bergegas sang puan meraih jubah satinnya, menutupi piyama yang sudah ia kenakan sebab seharusnya saat ini ia sudah tertidur. Tak butuh waktu lama sampai Adelia bergegas membuka pintu, mengira orang yang mengetuk pintu adalah salah satu kakaknya. Benar saja, Andre sudah berdiri di ambang pintu membawa sebuah baki berisi s**u hangat dan piring berisi beberapa potong kue kering. Sebuah pemandangan yang sukses membuat si bungsu tergelak.
“Bang, aku bukan anak kecil lagi kali.”
“Siapa bilang ini buat kamu? Buat Abang ini.” Andre terkekeh lantas tersenyum kecil. “Belum tidur kan? Nonton film sama Abang yuk?”
Dahi Adelia mengernyit akan ajakan tidak biasa itu. “Sekarang? Tumben. Kenapa Abang nggak nonton sendiri aja sih?”
“Soalnya film horor.”
Jawaban Andre membuat Adelia mengerjapkan mata beberapa saat sebelum terkekeh kecil. Lantas dengan tenang menutup pintu kamarnya kembali. Mengekori Andre berjalan menuju home teater yang memang tersedia di rumah mereka. Sebuah bioskop kecil-kecilan dengan teknologi audio dan visual yang tidak kalah dengan bioskop-bioskop besar. Ruangan yang dibuat oleh sang ayah sebagai hadiah karena dua kakak kembarnya itu untuk kali pertama berhasil memenangkan kompetisi di bidang keahlian mereka masing-masing.
Setelah dipikirkan, Adelia cukup lama tidak menyambangi ruangan itu. Dulu, sebelum ia dan keempat kakaknya disibukkan oleh urusan pekerjaan masing-masing. Setiap akhir pekan mereka akan berkumpul di sana, menonton film yang sedang ramai ditonton orang-orang seraya membuat cemilan dalam jumlah banyak.
Ketika pintu menuju home teater terbuka. Adelia tidak bisa menahan senyumnya, ruangan itu tidak berubah banyak dari apa yang ia ingat. Deretan kursi-kursi empuk yang hanya berubah warna, lantai kayu yang masih terlihat berkilau serta lampu yang bersinar sedikit redup. Tanpa disuruh Adelia bergegas berjalan menuju kursi di deretan tengah. Kursi yang selalu ia duduki setiap berada di ruangan ini.
“Tadi Abang udah mau ajakin Andri buat ikut nonton juga. Tapi ternyata dia masih di rumah sakit ya. Kak Alex juga udah pergi ke bandara karena ada urusan bisnis di luar.” Walau mengatakan kue kering dan s**u yang dibawanya untuk diri sendiri, Andre terlihat tetap meletakkan piring dan gelas yang ia bawa ke pegangan yang tersedia di sisi kursi Adelia. “Abang kira karena kalian baru pulang, kalian nggak akan langsung sesibuk ini”
“Mungkin karena dia tetap urus urusan operasional, jadi sebenarnya Mas Andri tetap aja sibuk tau Bang.” Adelia mulai mencomot satu keping biskuit cokelat di atas piring. Mulai memusatkan fokus pada layar yang sudah memulai menampilkan film yang katanya sang kakak hendak tonton bersamanya. "Pembagian dua kepemimpinan, buat Mas Andri benar-benar harus memisahkan urusan kita biar di masa depan nggak jadi clash satu sama lain."
Tak butuh waktu lama sampai ruangan itu hening. Hanya diisi oleh suara dari film dan sesekali dua bersaudara itu berteriak kecil ketika adegan mengagetkan muncul. Untuk sesaat melupakan bahwa di luar sana langit sedang berkecamuk dan banyak hal yang harus mereka hadapi keesokan hari.
Ketika film berakhir jam menunjukkan pukul 1 malam. Itu artinya mereka sudah menonton selama hampir 3 jam lebih. Ketika Andre bangun. Berniat membawa adiknya ke kamar, karena mengira Adelia sudah tertidur. Ia dikejutkan akan fakta Adelia masih membuka matanya lebar. Perempuan yang ia kira sudah tertidur itu nyatanya sedang termenung. Entah memikirkan apa.
“Loh Abang kira kamu udah tidur?”
Kaget karena mendadak ditegur, Adelia bergegas melirik ke arah layar. Menyadari bahwa layar sudah menampilkan deretan nama pembuat film yang ia dan Andre tonton tadi. Tidak sadar bahwa film sudah berakhir entah sejak kapan. “Hah? Filmnya udah selesai?”
Andre yang memang sejak awal menjadikan film sebagai alasan saja untuk membantu Adelia tertidur, mengernyitkan dahi. Biasanya setiap menonton film horor, beberapa menit sebelum film selesai adiknya itu akan merasa mengantuk dan akhirnya tertidur. Jadi sangat mengejutkan karena Adelia masih terjaga. “Kamu mikirin apa?”
“Hm? Nggak mikirin apa-apa kok.” Seperti biasa, adiknya itu jarang sekali berbagi apa yang sedang mengusik isi pikirannya. Sesuatu yang sebelumnya hanya dibiarkan sebab menghormati privasi adiknya satu itu. Namun, setelah apa yang terjadi selama ini. Andre tidak mau adiknya membebani dirinya sendiri dengan isi pikirannya yang pasti semrawut.
Tak butuh waktu lama sampai Andre kembali mendudukan dirinya kembali. Merasa ini waktu yang tepat untuk berbicara empat mata dengan Adelia. “Del, Abang mau ngomong sesuatu sama kamu.”
Merasa bahwa suasana di ruangan berubah menjadi begitu serius. Adelia meneguk ludahnya sendiri, sedikit gugup sebelum mengangguk. “Mau ngomong apa Abang?”
“Abang tau para tetua bilang kalau kamu harus bisa mengembalikan kesan keluarga kita di publik kembali seperti sebelumnya. Abang juga paham kalau ini cara kamu untuk menunjukkan setelah melalui kejadian buruk waktu itu, kamu bisa kembali dan berdiri tegap dan siap melawan.” Andre terdiam sesaat. “Tapi jangan forsir diri kamu. Jangan terbutakan oleh amarah yang ada di dalam diri kamu. Entah amarah pada orang-orang atau amarah pada diri kamu sendiri. Kamu tau betul yang bisa memenangkan semua ini hanyalah mereka yang bisa berpikir paling tenang di antara yang lain.”
Tak biasanya Andre berucap sedemikian serius. Berbeda dari kakak-kakaknya yang lain. Andre adalah tipikal orang yang santai dan cenderung jarang bersikap serius. Mungkin itulah kenapa dialah yang ditunjuk untuk meneruskan bisnis keluarga mereka di bidang hiburan dan media, mengingat kepribadiannya yang ceria dan bersahabat akan mempermudah terjalinnya koneksi dari satu media ke media lainnya. Secara bisnis di bidang itu lebih mengedepankan koneksi dan hubungan baik alih-alih strategi memusingkan nan licik seperti apa yang ia dan ketiga kakaknya yang lain lakukan.
Jadi, mendapat nasihat dari Andre jelas bukan sebuah hal yang Adelia sangka. Adelia terdiam sesaat, sebelum mengangguk. “Iya Bang, aku paham.”
“Tidak perlu merasa terburu-buru. Seperti bagaimana singa mengintai mangsanya untuk waktu yang cukup lama sebelum menyerang. Kamu juga harus bersikap tenang, dan menunggu sampai kesempatan itu datang. Sembari menunggu kumpulkan senjata yang bisa kamu pakai, senjata yang bukan hanya paling ampuh untuk menyerang tapi juga senjata yang bisa kamu percaya.”
Adelia tidak tau bahwa ketika Andre mengatakan hal itu. Sesungguhnya sudah ada orang yang memperhatikannya dari jauh. Seseorang yang mengasah dirinya sendiri untuk menjadi sebuah senjata yang bisa ia gunakan sesuka hati.