Delapan

1759 Kata
“Mari saya antar.” Dua pria itu hanya mengangguk, berjalan mengikuti Bakti menyusuri koridor rumah sakit. Suara langkah kaki mereka menggema, dan beberapa pengawal keluarga Padma tidak bisa menahan diri untuk tidak terperangah. Mengerjapkan mata beberapa kali, kalau-kalau mereka salah lihat. Namun, rupa pria itu tetap sama. Reaksi yang sukses membuat rekan-rekan mereka mengernyitkan dahi, tak sabar untuk bertanya kenapa teman-teman mereka bereaksi demikian akan kehadiran ‘tamu’ tersebut. Bakti berhenti sesaat di depan pintu kamar rawat Heri. Memeriksa jamnya sebelum berbalik dan menatap salah satu pria itu serius. “Hanya 25 menit. Sebentar lagi Andre akan tiba di sini, dan saya tidak yakin kalau suasana akan kondusif kalau dia tau anda datang ke sini.” Pria itu menghela napas, lantas mengangguk kecil. “Tidak masalah.” Ia kemudian menoleh ke pria lain yang datang bersamanya. Mengambil alih amplop coklat tebal yang berada di tangannya. “Biar saya saja yang masuk ke dalam sana. Kamu tunggu sini.” Setelah memastikan bahwa pria itu mengerti bahwa waktu kunjungannya terbatas, Bakti lantas menggeser pintu seraya menyingkir. Memberi ruang kepada pria tersebut untuk masuk ke dalam sana. Ketika pria tersebut melangkah masuk, ia langsung disambut pemandangan Heri yang menatapnya lurus dari ranjang. Kedua tangannya saling mengenggam di atas pangkuan, seolah sudah menanti kedatangannya sejak lama. Tak ada senyuman seperti apa yang biasa pria itu perlihatkan padanya dulu. “Malam Pak Heri.” Pria itu tidak membalas, menatap dirinya lamat-lamat sebelum berucap dengan nada pelan. “Saya tidak mendapat kabar apapun dari mu selama satu tahun ini, Dikta.” “Maafkan saya Pak Heri.” Dikta berjalan maju, meletakkan amplop tebal yang ia bawa ke ujung ranjang Heri. “Saya tidak punya muka untuk muncul di depan anda sebelum apa yang saya janjikan pada anda tuntas.” Heri menghela napas, lantas menunjuk kursi di sampingnya menggunakan dagu. “Duduklah Nak,” ujarnya seraya meraih amplop tersebut. “Bagaimana kabarmu?” “Tidak ada yang spesial.” Cukup lama Dikta terdiam, sebelum menatap Heri ragu. “Bagaimana dengan Anda?” “Fakta bahwa kita bertemu di tempat seperti ini, saya jelas tidak bisa dengan bangga bilang bahwa saya baik-baik saja kan?” jawab Heri seraya terkekeh. Tangannya bergerak membuka amplop tersebut yang ternyata berisi lembar-lembar kertas berisi data pribadi dan foto dengan pemandangan mengerikan. Potret dari orang-orang yang telah melukai putrinya. “Paling atas adalah dalang utama dari apa yang terjadi satu tahun lalu.” Dikta berujar dengan begitu tenang. ”Banyu, anak dari Pak Ben. Saya sudah mengurus mereka semua.” “Bagaimana dengan Ben?” Hening. Dikta terdiam dan mulai meremas celananya, entah kenapa merasa resah padahal pertanyaan itu diajukan Heri dengan nada teramat tenang. “Setelah anaknya telah ‘di urus’, sekali lagi saya kehilangan jejaknya. Yang saya tau dia dan istrinya berada di Cebu.” “Lalu kenapa kamu memutuskan untuk menetap di sini seperti adikmu?” “Ada indikasi orang itu telah kembali ke kota ini.” Ekspresi Dikta memang tampak tenang, namun jangan lupa kalau Heri sudah berpengalaman dalam urusan menutupi ekspresi. Walaupun pria di hadapannya itu tampak tenang, Heri dapat menangkap sedikit keresahan yang ada di dalam kedua bola mata pria itu. “Saya dengar pengaruh keluarga Sukma di sini semakin kuat. Semakin banyak keluarga yang beraliansi dengan keluarga itu untuk melawan Padma. Maka semakin besar peluang mereka bersembunyi dan luput dari penglihatan anda.” Heri tidak bisa menampik. Ia tidak pernah meragukan seberapa luas dan dalamnya jaringan informasi yang keluarganya bangun selama bertahun-tahun. Tidak ada informasi yang luput sedikit pun dari pengamatannya. Namun, satu sisi ia juga harus mengakui. Dalam kondisi di mana lebih banyak keluarga yang mengintai kehancuran keluarganya daripada bersekutu dengannya. Heri sadar bahwa akan ada tempat-tempat yang luput dari jangkauan informasinya. Dia sudah pernah kecolongan sekali, dan dia tidak mau mengalami itu lagi. “Baiklah, saya akan memberitahukan ini dengan Alex.” Untuk kali kesekian, hening melanda. Menyadari bahwa ada hal lain yang ingin disampaikan oleh pria itu. Heri terkekeh. “Kamu ingin bertemu dengannya?” Pertanyaan itu membuat Dikta tertegun. Lantas perlahan sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum tipis. “Tidak. Saya tidak merasa pantas meminta hal tersebut.” “Saya juga berpikir demikian. Walaupun apa yang terjadi satu tahun adalah sebuah musibah, namun tidak bisa ditampik itu terjadi karena kelalaian dan ketidak mampuan saya maupun kamu dalam melindungi Adelia dan Fira. Kamu sudah melanggar janji dengan saya.” Heri menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang. Sempat melirik ke arah pintu, saat menyadari bahwa Bakti memberi kode agar mereka bergegas mengakhiri pembicaraan. Menandakan bahwa salah satu putranya sebentar lagi akan tiba. “Sebaiknya kamu segera pulang Nak. Saya tidak tau siapa yang akan datang, tapi kalau salah satu putra saya tau kamu berada di sini. Saya tidak yakin kamu akan disambut hangat. Saat ini saya sedang tidak mau melihat pertengkaran.” “Saya mengerti. Saya akan pastikan menemukan Ben lebih dahulu sebelum dia melukai keluarga anda lagi.” Dikta mengangguk seraya beranjak dari kursi. “Seperti apa yang saya janjikan pada anda setahun yang lalu. Saya akan membalas tuntas apa yang terjadi pada Adelia malam itu, semuanya tanpa terkecuali.” Heri tersenyum. Menatap bagaimana Dikta dengan tenang berjalan keluar dari kamarnya. Berbeda dari satu tahun lalu, punggung pria itu tidak lagi merendah akibat dirundung perasaan bersalah. Tatapannya tidak lagi menyorotkan kehangatan, melainkan ambisi nan dingin. Persis seperti bagaimana Heri mengingat seperti apa keluarga Natawirya sebenarnya. Entah apa yang pria itu lakukan selama satu tahun ini, tapi Heri yakin bahwa pria itu benar-benar sudah terbentuk sebagai seorang ‘Natawirya’ sesungguhnya. “Adelia sekarang mengurus manajemen rumah sakit dan lembaga amal keluarga kami.” Kalimat itu membuat Dikta berhenti melangkah. Urung meraih gagang pintu. Tidak menoleh sama sekali akan informasi baru tersebut, namun jelas gelagatnya menunjukkan bahwa ia menginginkan informasi lebih. Tanpa bisa menahan diri Heri terkekeh. “Saya memang tidak akan memberi langsung kesempatan kamu untuk menemuinya. Jadi kamu harus mencari sendiri cara untuk kembali mendekatinya.” Mengingat bisa seberapa keras kepala putrinya itu, Heri menghela napas. “Ya walau sepertinya kamu harus berusaha lebih keras untuk melunakkan hatinya?” Dikta berbalik dan mengangguk dengan ekspresi tetap tenang. “Terima kasih atas informasinya Pak Heri.” “Sampaikan salam saya pada Julian. Katakan padanya penawaran kalian hari itu baru bisa saya jawab setelah Adelia menemui para tetua lainnya. *** Adelia bisa merasakan tubuhnya mulai pegal dan letih, ketika samar-samar rumah mewah milik Mayang Padmasari mulai terlihat di depan sana. Sudut bibirnya terangkat, menyadari bahwa rumah itu tidak banyak berubah. Masih menjadi rumah dengan cat berwarna paling lembut namun tetap berwarna. Rumah yang menjadi bagian dari masa kecilnya, meski seiring berjalannya waktu frekuensi Adelia datang ke rumah itu semakin berkurang. Dahi Adelia sempat mengernyit, menyadari sebuah mobil mewah baru saja meninggalkan gerbang utama kediaman sang nenek. Kaca jendela yang teramat gelap, membuat ia tidak bisa melihat isi mobil itu. Ia terdiam cukup lama, sebelum memutuskan mengabaikan hal tersebut. Tidak butuh waktu lama sampai mobil yang dikendarai oleh Rafi tiba di pekarangan depan. Pria itu dengan cekatan keluar dan membukakan pintu penumpang. Ketika Adelia menginjakkan kaki keluar, di saat yang bersamaan air hujan mulai jatuh. Menitik tepat di pipi sang puan, membuatnya tampak seolah tetesan air mata yang baru saja jatuh. Adelia menarik sudut bibirnya, membentuk seulas senyum tipis. Melangkah mendekati sang Nenek yang duduk di kursi roda karena tulang-tulangnya sudah terlalu lemah untuk bergerak kesana dan kemari, memeluk singkat perempuan renta itu. "Apa kabar Oma? Adelia harap Oma sehat ya." "Melihat kondisi kamu sekarang, membuat keadaan Oma jadi semakin baik Nak." Mayang Padmasari tersenyum hangat, lantas tak butuh waktu lama sampai ia melirik putranya. Memberi kode untuk langsung saja masuk ke dalam rumah, mengingat rintik hujan semakin turun deras. Bau khas cendana yang menguar, menjadi apa yang menyambut Adelia ketika ia masuk ke dalam kediaman tersebut. Susunan-susunan furniture dan pajangan yang ada tidak jauh berubah. Apa yang membuatnya terlihat sedikit berbeda adalah beberapa pigura lukisan buatan anak-anak yang lebih pantas disebut sebagai coret-coretan memenuhi beberapa sisi dinding. Mahakarya anak, cucu atau bahkan cicitnya sendiri. Adelia yakin, kalau ayahnya sudah memiliki cucu. Mungkin rumah besar mereka juga akan diisi oleh benda-benda kekanak-kanakkan seperti itu. Adelia adalah satu dari beberapa orang yang tidak merasa tegang ketika berhadapan dengan para tetua keluarga. Kakaknya sendiri, Andri, bahkan tidak bisa menutupi fakta bahwa ia merasa gugup. Pria itu beberapa kali hanya tersenyum canggung, dan menggenggam erat cangkir tehnya. Berdoa dalam hati semoga tingkah lakunya tidak sedikitpun menarik perhatian para tetua untuk dikritisi. Di generasi mereka, orang-orang yang tidak tegang ketika menghadapi para tetua hanya Alex, Fedri dan tentu saja Adelia. "Kamu sudah menyelesaikan urusan di galeri?" Pertanyaan tenang yang diajukan oleh Tante Diana barusan, menjadi tanda bahwa sudah saatnya mereka masuk ke inti pembicaraan. Adelia berdeham, meletakkan cangkir tehnya kembali ke atas meja. Lantas mengangguk kecil. "Seperti apa yang Adel bilang di telpon waktu itu, kinerja Kevin sangat-sangat layak untuk mengambil alih galeri. Selain itu, Kevin juga terbuka kalau misalnya Oma Om dan Tante di sini mau masukkin orang pilihan kalian untuk tetap mengawasi." "Tidak perlu, kami akan percaya sama penilaianmu Nak." Ucapan itu datang dari Tri, yang duduk di seberang Adelia. "Bagaimana pun seorang anak tidak mungkin membiarkan kerja keras ibunya runtuh begitu saja kan?" Adelia tersenyum, lantas mengangguk. "Lalu Natawirya." Tatapan Adelia kini tertuju lurus pada Sonya, anggota termuda dari deretan tetua keluarganya, putri bungsu dari Oma Mayang. "Kita butuh mereka untuk bekerja sama dengan kita. Saat ini, kita bisa menangkis segala serangan keluarga lain karena orang-orang kita berhasil menutup rapat apa yang selama ini kita kerjakan. Namun, hanya menunggu waktu sampai mereka menemukan celah untuk menjatuhkan kita." Tak ada jawaban, Adelia terdiam cukup lama sebelum akhirnya buka suara. "Adelia nggak akan menolak segala bentuk kerja sama kita dengan Natawirya tante. Tapi, kalau tante Sonya berharap untuk menggunakan aku untuk memanipulasi hubungan antar dua keluarga. Maka aku akan menolak. Aku tidak mau lagi disangkut pautkan dengan Dikta Natawirya." Hening. Bohong kalau orang-orang di ruangan itu tidak menangkap nada dingin dari pernyataan Adelia barusan. Andri melirik sang adik yang berwajah tenang, menunjukkan bahwa ia sungguh-sungguh akan pernyataannya barusan. Para tetua saling bertukar pandang, sebelum serempak memandang Mayang Padmasari. Perempuan tua itu terdiam cukup lama, tampak menimbang-nimbang sesuatu sebelum akhirnya menghela napas. "Kalau begitu, kita akan menerima penawaran mereka. Dahi Adelia mengernyit, tidak paham akan maksud perkataan sang nenek. "Penawaran?" "Sebelum mereka menghilang, Julian Natawirya membuat penawaran dengan Papa dan para tetua Padma." Atensi Adelia teralih ke pada Andri. "Mereka bersedia menikahkan Fira dengan Kak Alex, membuat perjanjian yang bukan hanya bersifat sementara tapi selamanya. "Sebagai gantinya, mereka ingin kita memberikan pendidikan bisnis dan dukungan penuh pada pewarisnya. Dikta Natawirya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN