Oh, why?

1355 Kata
Memangnya, suka pada seseorang itu butuh alasan dan latar belakang, ya? Apa harus selalu seperti itu? Apa alasan debar-debar pada pandangan pertama serta terpesona oleh penampilannya tidak boleh termasuk dalam salah satu alasan itu? Apakah harus seperti menyusun laporan yang ada pembukaan, pengenalan, sebab akibat dan solusi untuk menjabarkan perasaannya pada Bang Varrel saat ini? Dia hanya suka, dan … terperangkap, tanpa bisa dicegah ataupun dihentikan begitu saja. Lalu seperti ada yang tumbuh dalam hitungan nano detik di dadanya, sesuatu yang membuncah, membuat mulutnya gatal-gatal jika dia tetap nekat untuk bungkam dan menahan diri untuk tidak mengungkapkannya. Ya memang cinta seperti itu, kamu tidak perlu alasan untuk perasaan cinta dan sayang. Termasuk kurang dan lebih akan suatu hal. Seromantis kaum anshor yang akan setia menjadi pengikut Rasul, “Dan kami ridho dalam pembagian ini, dan kami ridho menjadi bagian dr Rasulullah.” Ipeh ingat nenek pernah berbicara soal ini, saat papa dan mama harus berpisah dulu dan mendongengkan soal cinta kepadanya. Namun, apakah tidak terlalu cepat menyimpulkan perasaannya ini sebagai cinta? Toh, Ipeh hanya bocah SMA, perasaan yang tumbuh di dadanya, pasti masih dangkal sekali.  Dan, apakah alasan seperti itu saja tidak cukup? Bukankah di novel-novel dan film romantis mereka menggambarkannya demikian? Apakah harus selalu ada latar belakang seperti … Ipeh pernah bertemu dengannya dulu dan menyimpan perasaan diam-diam atau karena … dia sudah lama mengenal Bang Varrel yang bersikap baik lalu salah paham pada kebaikannya itu. Apa Ipeh harus punya alasan yang sama untuk menyukainya? Untuk mengajaknya berpacaran di hari pertama berjumpa? Ipeh terlalu ngegas dan … tidak tahu malu?  Dia tidak punya alasan semacam itu, sungguh. Bahkan tidak terpikirkan sama sekali. Ipeh bertemu dengannya siang itu, lalu Mia dan Ayu bisa membaca perasaan Ipeh hingga mendukungnya untuk mengutarakan pada Bang Varrel sebelum terlambat. Iya, karena Niar punya mata-mata di mana pun Ipeh berada. Begitu dia tahu Ipeh menyewa gaun dari butik kakaknya Bang Varrel, Niar pasti akan ke sana, dan pasti bertemu dengan Bang Varrel juga. Dan kalau sampai Niar tahu Ipeh menyukai Bang Varrel pada pandangan pertama, dia pasti akan langsung nyeruduk seperti banteng gila. Niar jauh lebih agresif daripada Ipeh, demi ambisinya untuk terus jadi pemenang. Apakah alasan seperti itu diperbolehkan? Tapi Ipeh tidak boleh terus terang mengatakannya pada Bang Varrel, kan? Bisa-bisa dia marah. Memangnya Bang Varrel barang, apa? Niar selalu menjadikan manusia sebagai piala mereka. Entahlah, kenapa persahabatannya dengan Niar jadi kacau seperti ini. Dulu Ipeh sangat menyayangi dan memercayainya, menceritakan semua rahasianya—yang sekarang tentu saja bukan rahasia lagi, karena Niar membongkar segalanya dengan barbar. Mulai dari hal kecil seperti Ipeh yang suka makan upil, sampai hal besar kenapa papa Ipeh bercerai dengan mamanya. Niar membongkar itu semua tanpa merasa berdosa. Sahabat dekat, berpotensi jadi musuh paling berat. Ipeh lupa pada pepatah itu. Dulu ia hanya ingat kalimat gurindam dua belas karya Raja Ali Haji yang sering disenandungkan neneknya, carilah sahabat yang bisa dijadikan obat. Dia kira, Niar lah orang itu. Sahabat gurindamnya. Ipeh menyimpan patah hatinya dari Kak Kevin berbulan-bulan, dan kehadiran Bang Varrel bisa melenyapkan itu semua dalam sekejap, dalam sekali tatap, entah kenapa. Ada rasa ingin memiliki, ingin perhatikan, ingin disayangi. Apakah itu tidak wajar? Apa Ipeh tidak boleh seperti ini? Apa dia terlalu memaksakan? Apa itu hanya perasaan kagum sementara saja? “Peh, Ipeh … itu liat, yang pake motor N-max kan?” Mia menyenggol bahunya kencang, saat ini mereka sedang bertingkah seperti penguntit di balik post satpam sekolah, menunggu Bang Varrel datang—karena, Athifah minta jemput hari ini. Tentu saja atas saran Mia dan Ayu yang kadang-kadang malah menjerumuskannya. “Yang pake N-max?” Niar, entah muncul dari sebelah mana tiba-tiba kedapatan menyahuti kalimat Mia barusan dan tatapannya terarah pada cowok yang sedang duduk di atas motor gendut di luar gerbang sekolah. “Jadi gak bisa dapetin Kak Kevin, lo pacaran sama tukang ojeg sekarang?” Niar meledek Ipeh beberapa detik sebelum pergi, dan untungnya sambil memeriksa keadaan, Bang Varrel belum melepas helm. Yang artinya, Niar tidak tahu seberapa ganteng cowok dengan setelan mirip tukang ojeg itu. Syukurlah. “Si Niar gak tau aja kalo keringatnya Bang Varrel yang nyiprat doang bahkan bisa bikin si Kevin jadi hina dina. Sembarangan ngatain tukang ojeg!” “Sstttt….” Mia menempelkan telunjuknya di bibir. “Ipeh, suruh masuk dulu sebentar, tungguin tuh di situ, deket pagar.” “Oh … oke.” Sebagai teman yang baik, Ipeh menuruti permintaan Mia dengan patuh, dia segera mengetik pesan pada Bang Varrel dan menyuruhnya menunggu seperti kata Mia. Ipeh pura-pura di toilet dulu. “Udah?” “Udah, udah.” “Jawab apa dia?” “Oke katanya.” Lalu Mia dan Ayu mengambil alih, mereka jongkok bersebelahan dan mengintip dari jendela pos satpam. Memandangi Bang Varrel yang hanya berjarak sepuluh meter saja, sudah membuka helmnya, memakai jaket olahraga dan tampak menunggu Ipeh dengan tenang. Aduh, kalau sudah begini sih, gak ada yang perlu minum cendol meski cuaca sedang panas-panasnya. Memandangi muka adem Bang Varrel saja membuat mereka semua sejuk sampai ke lambung. Kata Mia, Bang Varrel masih milik bersama karena Ipeh bahkan belum berhasil memenangkan hatinya. Yang sekelas Ipeh saja, cantiknya paripurna, belum bisa meluluhkan hati Bang Varrel, gimana dengan Mia dan Ayu yang bentukannya saja masih lebih absurd daripada t**i kukunya Ipeh? Mungkin Bang Varrel bahkan tidak tahu kalau mereka ada dan hidup. “Buset, itu hidungnya dong, bagi dikit ngapa, Bang? Hidung gue cuma seperempat hidungnya Bang Varrel!” Ayu berseru pelan sambil memegangi hidungnya yang—memang agak minimalis. Dan hidung jenis itu sangat ramah lingkungan, hemat oksigen. “Mukanya dong, duile cakep bener dah! Perpaduan ubin masjid, ubin ATM, dan ubin-ubin adem lainnya di Jaksel. Duh, Ipeh … masa depan lo terbentang cerah secerah wajahnya Bang Varrel.” Ipeh tertawa sebelum memutuskan untuk keluar dan merasa teman-temannya sudah cukup mendapat hiburan serta asupan vitamin yang berasal dari pesona Bang Varrel, dia pergi dari tempat itu dan berjalan memutar, seolah dia muncul dari dalam sekolah. “Bang Varrel!” Ipeh melambaikan tangan dengan senyum mengembang nyaris selebar daun teratai. “Hai, gapapa naik motor? Panas gini.” Memperhatikan keadaan sekitar yang memang sangat terik, meski sudah lewat tengah hari. Matahari bukannya meredup malah semakin menyala-nyala, membakar kulit. Alamat kulit gelap Ipeh akan semakin gelap dibakar sinar UV. “Gak apa-apa, jadi adem soalnya bareng Abang.” Varrel terkekeh pelan. “Gombal terus, ayo ah pulang, udah hampir sore.” “Ada yang mau Ipeh omongin, jangan pulang dulu, ya?” “Emang gak bisa chat, ya?” Ipeh menggeleng. “Pulang dulu, ganti baju terus kita baru ngobrol habis itu.” Lalu Ipeh mengangguk, sebelum dia melihat wajah Bang Varrel tiba-tiba berubah, seperti teringat sesuatu. “Ada yang mau Abang omongin juga ke Ipeh, ke rumah Abang dulu ya temenin ganti baju.” Temenin Abang ganti baju? Aduh, tunggu dulu, kenapa pikiran Ipeh jadi melayang ke mana-mana gini? Jadi, nanti Ipeh akan ke rumah Bang Varrel, dan mungkin bertemu dengan ... kakaknya? Atau bisa jadi mereka hanya berduaan di rumah dan Bang Varrel buka baju? Ini tidak seperti yang dibayangkan dalam komik romantis itu, kan? “Ipeh, kenapa? Ayo!” Athifah mengangguk, duduk di jok bagian belakang dengan menjarakkan sedikit posisi duduknya dari sang pacar. Jujur saja, meskipun dia berani dan agresif di awal, tapi Ipeh tidak seberani itu juga. Wajar sih kalau tadi Niar bilang Bang Varrel hanya tukang ojeg jika dilihat dari posisi duduk mereka sambil berkendara begini. Dan lagi, body motor Bang Varrel yang kelewat gendut membuat kaki Ipeh mengangkang lebar, roknya tersingkap cukup tinggi dan dia agak risih. “Ipeh, pegangan aja gak papa.” Memang ideal banget, Bang Varrel cukup peka akan kekhawatiran itu. Dan Ipeh, sebelum menggerakkan tangan, menarik napas dalam-dalam lalu memegang ujung baju di bagian pinggang pacarnya, tanpa ingin menyentuh daging atau anggota tubuh cowok itu, karena dia bisa mati jantungan di jalan. Aduh, terus gimana nanti pas di rumahnya Bang Varrel dan dia ganti baju? Oke, fokus. Ipeh mulai menata debar jantungnya seiring dengan kendaraan yang membawa mereka melaju, tapi ia juga mulai bertanya-tanya apa yang kira-kira akan dikatakan pacarnya? Kenapa Bang Varrel mendadak serius? Tapi apa punlah, semoga saja bukan hal buruk.    ****      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN