Kak Vio sepertinya menyukai Ipeh pada pandangan pertama, dia masih ingat kunjungan Ipeh waktu ke butik kemarin lalu, dan saat Varrel membawanya ke rumah sebentar—untuk berganti pakaian, kakaknya ada di sana. Mereka berkenalan dan Kak Vio, meskipun pada awalnya sempat meragukan kebenaran soal Varrel yang yang punya pacar secantik Ipeh, bahkan tertuduh menjadi tersangka raibnya parfum ajian bulu perindu yang ada di rumah, pada akhirnya menyetujui hubungan pasangan anak muda itu.
Kakaknya pasti akan lebih kaget kalau tahu yang sebenarnya terjadi. Bahkan bukan Varrel yang menyukai Ipeh duluan—meski sempat terpesona oleh visualnya yang menawan, apalagi kalau tahu Ipeh yang ngotot dan memaksa untuk dijadikan pacar, mungkin Kak Vio bisa pingsan saking tidak percayanya.
Dan demi merayakan euforianya, Kak Vio—seperti hari lebaran, membekali Varrel dengan uang tunai dan kartu ATM tanpa mengatakan berapa limit yang boleh dihabiskannya saat bilang ingin jalan-jalan dengan Ipeh hari ini. Kakaknya sedang kemasukan kabaikan hati mimi peri—sepertinya. Jujur saja, Varrel cukup kagum pada the power of Ipeh bahkan ketika dia hanya duduk manis di ruang tamu tanpa melakukan apa-apa.
Hal itu adalah sesuatu yang sangat langka terjadi, nyaris sama langkanya seperti gerhana matahari total, hanya terjadi beberapa periode sekali dalam kurun waktu puluhan tahun. Kak Vio memang sangat apik pada uang, dia pintar mencari, mengelola dan menyimpannya. Jauh berbeda dengan Bang Alan yang sangat memanjakan Varrel.
Varrel mau apa pun, dia berikan. Bahkan sepeda motor besar kekinian yang dijanjikannya saat Kak Vio ke Manado juga sudah dibeli oleh Bang Alan. Spesial untuknya agar bisa jalan-jalan di Jakarta tanpa harus menunggu kakak atau abang pulang. Belum lagi barang-barang kecil seperti Apple Smartwatch, Airpods baru, gundam, voucher game untuk persenjataan, dan kuota internet. Bang Alan seperti tidak pernah kehabisan uang untuknya.
Namun hal itu justru malah mengundang kecurigaan, kata Kak Vio sih Bang Alan punya ketertarikan pada sesama jenis, Varrel jadi ngeri sendiri membayangkannya. Walaupun rasanya tidak mungkin, Bang Alan sangat menyukai Kak Vio dan siapa pun pasti tahu kalau dia bucin dalam sekali lihat. Masa sih sekarang Bang Alan suka dunia perbatangan?
“Bang, Kak Vio tuh lucu, ya? Ngomongnya cepet banget, Ipeh sampe bingung mau jawab yang mana dulu.”
Ipeh terkekeh begitu turun dari sepeda motor gendut milik Varrel, dan parkir di luar pagar rumahnya.
“Iya, dia berisik banget.”
“Tapi itu tandanya dia suka sama Ipeh apa enggak, sih?”
“Suka, kok.”
Varrel tersenyum sembari melepas pengait helm di kepala Ipeh, tanpa menyadari bahwa gadis di hadapannya sudah berwarna keunguan, merona malu. Omong-omong, ini bukan kali pertama keduanya naik motor berboncengan, kenapa Ipeh bertingkah malu-malu begitu?
“Apa Kak Vio tipe yang ramah ke semua orang, Bang?”
“Enggak.” Varrel menyangkalnya cepat. “Enggak sama sekali.”
Kak Vio bukan jenis orang yang mudah didekati, meskipun dia banyak bicara dan terkesan ramah, itu hanya tuntutan pekerjaannya. Bahkan dalam keluarga pun dia cenderung tertutup, tidak suka bicara banyak hal soal hidupnya, dia lebih suka menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Tapi bertemu dengan Ipeh tadi lumayan membuat prestasi. Kak Vio terlihat sangat menyukainya, bahkan antusias. Ya, siapa sih sebenarnya yang tidak suka saat pertama kali bertatap muka dengan Athifah?
“Bang, Mama lagi gak ada di rumah, Ipeh barusan izin sama si Bibi aja.”
“Oh, gitu. Mama kerja, ya?”
Ipeh mengangguk.
“Ya udah, Mamanya kasih tau di chat aja, bilang kita gak akan pulang lewat jam tujuh.”
Ipeh mengangguk lagi, lalu mulai mengetik pesan singkat sambil berdiri tidak jauh darinya. Dia begitu penurut, terkesan lugu malah, dan tindakannya yang tiba-tiba mengajak Varrel berpacaran memang cukup mengejutkan. Padahal aslinya, Ipeh justru seperti ini, seperti anak kecil, seperti adiknya.
Dia hanya masuk ke rumah beberapa menit lalu keluar lagi setelah berganti pakaian. Dan pakaiannya, Varrel tahu itu semua. Kemeja kotak-kotak coklat hitam berbahan flanel dengan logo Fendi dari perunggu kecil di bagian saku. Celana jeans hitam dan sepatu yang sangat menonjol. Ipeh punya selera memilih sepatu yang bagus, dan Varrel menyukainya. Sore ini dia memakai Nike Jordan setelah sebelumnya mengenakan Adidas Yeezy ke sekolah.
“Abang udah makan belum? Ipeh belum makan, semalam bikin tortila gulung, tadi diangetin si bibi tiga puluh detik di microwave, semoga aja dalemnya gak beku lagi.”
Varrel terpaku pada kotak berwarna oranye yang dibawa gadis itu, dan merasa takjub mendengar dia membuatnya sendiri. Dengan keadaan finansial sebagus ini, memiliki asisten rumah tangga, Ipeh masih mau bergerak untuk memperjuangkan perutnya sendiri.
“Udah cuci tangan?” tanyanya setelah membuka kotak itu. Wangi telur, tumis daging dan saos sambal menyeruak di udara. Varrel hampir meneteskan liur melihatnya.
“Belum.” dia menggeleng, bahkan tangannya masih dibungkus sarung tangan agar tidak basah dan berkeringat ketika menyetir motornya. “Ini beneran buatan Ipeh sendiri?”
“Iya.” Ipeh mengangguk polos. “Ipeh suka masak lho, Bang. Resep-resep di i********: tuh Ipeh cobain, terus Abang tau kan kafe kucing punya Ipeh di Kemang? Itu menu-menunya dari Ipeh sebagian besar. Makanan dan camilan kesukaan Ipeh.”
Varrel suka gadis yang bisa memasak. Seperti mama, seperti kakaknya, karena dia suka makan. Dan hari ini Ipeh seperti menambah satu poin plus dalam hatinya.
Catat ya, dalam hatinya.
“Aaa….” Ipeh menyodorkan potongan tortila gulung telur itu ke hadapan Varrel, dan karena terlalu mendadak, Varrel justru mundur sedikit untuk menghindar.
Untuk seperempat detik, ada raut kecewa di matanya dan itu sungguh-sungguh membuat Varrel menyesal. Andai saja Ipeh tahu kalau beberapa detik sebelum itu Varrel sedang memujinya diam-diam, apakah akan berbeda?
“Abang kan belum cuci tangan, sini Ipeh suapin, abis ganjel perut kita berangkat. Ipeh sih laper, Bang.”
Entah kepalang basah atau kepalang malu, Ipeh kembali menyodorkan tortila itu ke hadapannya. Dan demi apa pun, meskipun Varrel sangat ingin, tapi dia malu untuk membuka mulut, dia malu untuk mangap. Nanti wajahnya kelihatan seperti apa? Apakah jelek? Seperti kudanil menguap? Nanti kalau Ipeh ilfeel, bagaimana? Kalau di mata Ipeh jelek, gimana? Ipeh kan menyukainya karena Varrel ganteng.
“Engh—”
“Aaaa….”
Varrel menggigit tortila itu dengan gaya sejaim mungkin, membuat Ipeh tertawa cekikikan, sepertinya ia gagal ganteng kali ini.
“Enak, Bang?”
Varrel mengangguk karena mulutnya penuh, tidak bisa dipakai bicara. Dan tiba-tiba saja, Ipeh menyuapkan sisa tortila tadi ke mulutnya, sampai masuk semua, penuh, tanpa jaim sedikitpun, dan terlihat tidak jelek sama sekali. Justru sangat imut, sangat menggemaskan, sangat natural dan alami, dia bukan jenis manusia fake yang banyak beredar akhir-akhir ini.
Varrel memandanginya sampai lupa mengunyah, dan kabar buruknya dia baru ingin mengingatkan kalau Ipeh tidak boleh makan makanan sisa orang lain, seperti barusan.
“Peh, jangan makan bekas gigitan orang kayak gitu. Gimana kalo orang itu penyakitan? Nanti Ipeh tertular penyakit, hati-hati ya lain kali.”
Ipeh tersenyum sambil mengunyah. “Kalo ketularan penyakitnya Bang Varrel sih gak apa-apa, terjangkit virus Bang Varrel hehehe. Kali aja langsung dinikahin kan buat cara penyembuhan satu-satunya?”
“Kamu tuh ya, bisa aja ngelesnya.” Varrel tertawa, dan tangannya tidak bisa menahan saat melihat ada saus sambal di sudut bibir Ipeh. Hanya saja dia tetap ragu, tangan kanannya justru menggantung di udara, di sebelah wajah Ipeh.
“Belepotan ya, Bang?”
“Iya, sini.” Dia mengulurkan tangan, membuang keraguannya, membersihkan sudut bibir gadis itu, dan tiba-tiba suasananya jadi berbeda. Ipeh menatapnya dalam diam, entah apa arti tatapannya itu. Biasanya sorot mata Ipeh selalu menunjukkan banyak ekspresi dan pendar-pendar bintang. Sorot mata yang bahagia.
“Boleh ya lap di sini aja?” dia mengelap seluruh bagian bibirnya di tangan Varrel yang terbungkus sarung tangan, membuat suasana cair lagi, dan Varrel terkekeh pelan. Mati-matian tidak menyentuh pipinya dan mencubit gadis itu, berhubung Ipeh sangat menggemaskan.
****
Varrel dan Ipeh akhirnya bisa duduk setelah menyingkirkan kucing-kucing peliharaan di kafe itu, menyambut kedatangan sang empunya—Ipeh, bergelung manja dan menggosok-gosokkan kepala mereka di kakinya, seolah Ipeh adalah Madam Theressa dan kucing-kucing peliharaannya adalah anak panti yang sedang mereka kunjungi.
Jumlahnya mungkin ada sekitar dua puluh ekor, lebih mirip petshop dibanding kafe, karena jumlah kucing lebih banyak daripada manusianya. Dan kucing-kucing Ipeh sangat cantik, entah jenis apa, yang Varrel kenali hanya si Maine coon abu-abu yang memandangnya jahat sejak tadi, lalu si bengal yang menggesek-gesekkan bokongnya di sepatu Ipeh—sedang birahi, dan sisanya hanya ia kenali sebagai persia. Persia peaknose, dan peaknose extreme. Varrel tidak tahu banyak soal kucing.
“Gitu ya, Bang? Ipeh kira pulangnya lusa lho.”
“Besok, Peh. Abang harus ke Manado besok.”
Jadi, Varrel bersedia menjemputnya di sekolah hari ini karena mungkin ini hari terakhir mereka bertemu. Besok, dia harus kembali, ada kuliah pagi hari senin. Anggap saja perpisahan, karena Varrel sendiri tidak yakin kapan dia akan kembali ke sini, entah mungkin saat liburan semester, seperti biasa.
Menjemput Ipeh dan mengajaknya jalan-jalan sebentar, ia pikir cukup sebagai bentuk kompensasinya. Entah kenapa dia berpikiran sampai ke sini, padahal awalnya ingin menghindari Ipeh habis-habisan. Berhubung Bang Alan adalah panutannya, dan Bang Alan sangat bucin, yang tidak Varrel ketahui adalah kebucinan itu ternyata menular.
“Ipeh ada satu permintaan, Bang. Boleh gak?”
“Apa?” Varrel menjawabnya sigap.
“Ipeh kan sebelumnya gak tau tuh kalo Abang tinggal di Manado, jadi Ipeh setuju aja sama waktu dua minggu yang Abang kasih. Tapi kalo gini sih, Ipeh gak sanggup, Bang.”
Kenapa rasanya kafe kucing ini jadi senyap? Tidak ada bunyi-bunyian jenis apa pun, bahkan si Mr. Maine coon memandanginya tanpa berkedip, tapi tatapannya berganti, bukan jenis tatapan jahat seperti tadi. Dia terlihat iba, sampai Varrel bingung kenapa dadanya juga sesak dipandangi seekor kucing sampai begitu.
Jadi, maksudnya Ipeh ingin mengakhirinya di sini? Dan kenapa Varrel justru merasa tidak senang? Harusnya dia lega, bukan?
“Oke,” kata Varrel kemudian, mencoba tegar, melengkungkan senyuman tabah di bibirnya. Mengerti arah pembicaraan Ipeh.
“Ipeh belum selesai, Bang! Emang udah tau apa permintaannya?”
“Belum.” Varrel menggeleng. “Emangnya apa?”
“Ipeh minta waktu lebih … untuk ukuran pasangan LDR ya, Bang, jangankan yang belum punya perasaan kayak Abang ke Ipeh, yang udah cinta mati juga bisa renggang karena jarak yang misahin mereka. Dan dua minggu itu cuma beberapa hari lagi, Ipeh minta tambahan waktu.”
Tanpa sempat disadarinya, Varrel tersenyum, lebih tepatnya senyum lega. Dia juga tidak tahu kenapa, tapi setelah mendengar Ipeh bicara begitu, ada bagian dalam dirinya yang bersorak, sebagian lagi terasa seperti dilepas dari ikatan tali yang mencekik. Dan ketika Varrel menatap si Mr. Maine coon tadi, kucing itu kembali menunjukkan tatapan tidak bersahabat padanya. Mungkin dia cemburu karena Ipeh tidak jadi mencampakkannya.
“Abang! Kok senyum-senyum aja, sih? Boleh gak minta tambahan waktu?”
“Iya.” Varrel mengangguk, semudah itu. “Mau nambah berapa minggu lagi?”
“Tiga bulan,” jawab Ipeh dengan tampang serius.
Dan sontak saja, tawa Varrel meledak di sana. Dari dua minggu ke tiga bulan sangat amat jauh selisihnya. Namun anehnya, Varrel justru tidak merasa keberatan. Kenapa sih dia?
“Gimana, Bang? Boleh gak? Kalo dalam tiga bulan itu Ipeh tetep belum bisa memiliki hati Abang, Ipeh bakal nyerah, Ipeh mundur, gak akan gangguin Abang lagi. Ipeh janji.”
“Tapi kita masih bisa temenan, kan?”
“Dan Ipeh bakal liat Abang jalan sama cewek lain? Nikah sama cewek lain? Ipeh datang ke nikahan Abang sebagai tamu undangan? Seriously? Abang gak takut nanti calon istrinya tiba-tiba muntah paku sekarung?”
Varrel tertawa, ekspresi Ipeh saat mengatakannya terlihat sangat serius. Menggebu dan penuh kekecewaan, sangat mengantisipasi hal itu terjadi.
“Gak apa-apa Peh kalo muntah pakunya sekarung, Abang bisa buka toko matrial.”
“Terus Abang selingkuh sama Ipeh ya selama periode istri Abang muntah paku?”
Ipeh ikut tertawa kali ini. Entah kenapa setiap obrolan yang dibangun bersamanya terasa menyenangkan, ringan dan sedap untuk ditertawakan. Semua yang Ipeh lakukan selalu berakhir lucu, menghibur jiwa tandus Varrel yang kering kerontang kekurangan kasih sayang dan belaian.
“Jadi, tiga bulan, ya? Deal?”
“Deal.”
Tangan mereka berjabat, ini untuk kali kedua setelah jabatan tangan ketika perkenalan waktu itu. Dan yang ini terasa berbeda, ada getaran seperti listrik merambat di sela-sela telapak tangan keduanya, membuat bulu kuduk Varrel meremang.
“Ipeh harus gimana sih, Bang? Biar Abang suka sama Ipeh? Sekarang … belum, ya?”
Ipeh menatapnya lurus, tatapan penuh harap di bola matanya yang hitam dan jernih, dengan banyaknya kebaikan tergambar di sana. Menyukai seseorang seperti ini, pasti tidak sulit, Varrel tahu. Tapi yang lebih penting daripada itu adalah, dia harus memastikan semuanya terlebih dahulu. Ia takut ini hanya euforia sesaat karena si cantik menemukan pangeran yang selama ini tidak dilihatnya. Jenis ketertarikan fisik semata, tidak didasari hal-hal lain.
“Abang suka tortila gulung buatan Ipeh.” Varrel memutuskan untuk memberinya kode-kode kecil sederhana setelah lama memikirkan jawabannya. “Abang suka cewek yang bisa masak.”
Detik itu juga, Ipeh menarik dirinya, duduk bersandar di kursi sambil melengkungkan senyum dan membuang pandang ke luar jendela. Ada rona keunguan lagi yang muncul di sana, di wajahnya, serta lesung pipi yang kali ini tidak malu-malu untuk menunjukkan diri karena dia sedang tersenyum sangat lebar, saking senangnya.