Matahari siang ini menantang sekali, kalau kata Kak Vio sih, ngajak berantem. Itu sebabnya kakak dan abang iparnya Varrel duduk di dalam mobil, ngadem di bawah semburan AC sementara Varrel dengan murah hati menunggu di depan pagar sekolahan Ipeh yang masih digembok dari dalam, dekat gedung tata usaha yang terpisah dari bangunan utama.
Hari ini adalah jadwal keberangkatan Varrel untuk kembali ke Manado, dan Ipeh bersikeras minta ikut meski itu artinya dia harus izin membolos beberapa jam pelajaran sampai waktu pulang. Walau sudah dilarang keras, dia tetap ingin pergi dan Varrel menyesal tidak mengambil penerbangan malam untuk pulang. Rasanya tidak enak karena mengganggu dan memengaruhi Ipeh sampai seperti ini.
“Bang Varrel!” Ipeh muncul dari pintu yang lain, tidak memakai seragam sekolah. Justru dia kelihatan berdandan dan berpakaian rapi. “Maaf ya kalau lama.”
“Gak apa-apa, ayo ke mobil. Kakak sama abang udah nungguin.”
“Iya.”
Ipeh menurut dan berjalan riang di sisinya, entah apa yang gadis itu pikirkan, Varrel sedikit penasaran. Apa baginya kepergian Varrel adalah sesuatu yang besar? Apakah Ipeh akan bersedih untuk ini? Tapi dia terlihat senang, seperti anak Paud yang akan pergi piknik. Memakai pakaian bagus dan menenteng tas serta kantong berisi makanan.
Ya ampun, hampir saja Varrel melupakan hal itu.
“Sini Abang bawain.” Dia mengambil tentengan yang Ipeh bawa, sementara tasnya yang tersampir di bahu membuat Varrel agak ragu untuk mengambil dan membawanya serta.
Hanya saja dia sering melihat Bang Alan menenteng tas kakaknya kalau mereka jalan-jalan. Bang Alan bahkan tidak ragu menyampirkan tas Kak Vio yang jelas-jelas tas perempuan—kadang berwarna merah menyala atau bahkan pink neon sampai warna hijau muntah kucing juga dia punya, dan abang iparnya itu tidak kelihatan malu sama sekali untuk menentengnya.
Jujur saja, awalnya memang terlihat lucu. Bang Alan dengan postur tubuh tinggi besar dan tegap, kulit kecoklatan, roman wajah macho serta brewokan, menjepit tas perempuan di antara salah satu ketiaknya, berkeliling mall atau tempat wisata, tanpa rasa malu ataupun risih. Jenis lelaki tampang security tapi hati hello kitty, atau yang lebih tepat mungkin suami takut istri, atau hanya alasan sederhana yang sedang booming akhir-akhir ini. Bang Alan bucin. Titik.
Namun lama kelamaan kesan lucu itu justru tidak ada lagi, berganti menjadi kesan yang baik, penyayang dan perhatian. Kak Vio lebih sering menggandeng lengan suaminya dan sebelah tangan lagi memegang ponsel saat tugas menjinjing tas itu dibebankan pada Bang Alan.
Perkara tas yang membuat Varrel bahkan tidak sadar kalau mereka sudah sampai di samping mobil hitam milik iparnya, dia sigap membukakan pintu dan Ipeh menatapnya ragu beberapa detik sebelum suara Kak Vio yang cempreng meminta Ipeh agar cepat masuk.
“Ipeh cantik banget hari ini.”
Adalah kalimat pertama yang Varrel dengar saat dia masuk dan menempatkan diri di jok belakang, di samping Ipeh. Dua perempuan itu saling melempar senyum, sedangkan Bang Alan yang berada di kursi pengemudi hanya tersenyum sekilas dari kaca di atas dasbor.
“Ipeh ganti baju dulu, ya? Sempet-sempetnya.” Kak Vio membuka obrolan lagi. “Cantik banget tahu, Kakak nih kalo body nya kayak Ipeh ya pasti banyak beli baju model begitu.”
“Kenapa, Kak? Kan badan Kak Vio bagus banget.”
“Seriously? Gak lagi ngejek, kan? Kamu mau membandingkan lingkar d**a kita terus ngetawain telor ceplok punya Kakak?”
Setelahnya, yang Varrel dengar justru suara tawa Bang Alan dan Kak Vio mencubit pelan lengan besar suaminya. Melirik ke arah Ipeh, dan gadis itu tersenyum geli bercampur malu, pipinya berwarna pink keunguan, dia pakai make up—Varrel tahu. Biasanya Ipeh tidak terlihat seperti ini.
“Ketawanya paling kenceng, emang paling enak ngetawain aku, ya?”
“Apaan sih, Vi? Enggaklah.”
Bang Alan jelas-jelas bohong, dia memang yang paling keras tertawa setelah Kak Vio membahas soal lingkar d**a barusan, dan Varrel tidak paham apa maksudnya. Mungkin dia akan tanya pada Ipeh nanti, karena tampaknya Ipeh mengerti.
“Ipeh diizinin sama Mama kan buat nganter Abang hari ini?”
“Iya, Bang.” Gadis itu tersenyum kecil, baru dua kalimat yang Varrel keluarkan untuk berkomunikasi padanya hari ini. “Makanya Ipeh bawa baju ganti.”
“Ipeh kayak mau ke mana aja, ganti baju, dandan.” Varrel tertawa kecil. Sengaja menurunkan volume suara agar kakak dan abang iparnya tidak terlalu mendengar. Berhubung Kak Vio sekarang sibuk mengotak atik ponselnya dan keadaan di depan cukup hening.
“Ipeh kan mau ketemu sama Abang.”
Beberapa hari ini juga ketemu terus, kan? Setiap hari ketemu.
“Dan gak tahu kapan ketemu lagi,” ujarnya meneruskan. “Terus mau bareng sama Kak Vio, sama Bang Alan.” Dia menyunggingkan senyum manis. “Ipeh harus memberi kesan yang baik.”
“Oh, ya?” Kak Vio menyahuti, terdengar antusias. “Coba terusin.”
“Emang kenapa?” Varrel bertanya.
“Ini tuh ada filosofinya,” jawab sang kakak sambil tersenyum geli.
“Mama Ipeh bilang, pakaian, make up atau penampilan adalah realisasi dari seberapa besarnya penghargaan untuk orang yang akan kita temui. The way you dressed and the way you groom yourself is also part of attitude.”
Tawa Kak Vio pecah di udara, tawanya persis Mak Lampir dan membuat Varrel yang sedang konsentrasi mendengarkan pacarnya bicara—iya pacar, jadi pecah tak keruan. Bahkan Varrel lupa tadi Ipeh bilang apa.
“Jangan ketinggian Peh bahasanya, Iyel tuh otaknya cuma separo. Waktu masih dalam rahim dia keburu antri hidung sebelum otaknya keisi penuh.”
Setelahnya Varrel juga mendengar Ipeh tertawa, dan Bang Alan juga. Perlu diakui memang, Kak Vio punya seni berbicara yang apik, kecepatan bicara dan berpikirnya tidak seimbang. Makanya dia sering melontarkan kata-kata tidak berotak seperti barusan. Biasanya setelah bicara yang jahat-jahat dia akan menyesal dan minta maaf—untuk kemudian hari diulangi lagi.
“Maksudnya gini, Bang. Ipeh pakai baju yang bagus dan dandan untuk menghargai ketemu Abang dan Kak Vio.”
“Saya enggak, Peh?” Bang Alan menyahuti dengan iseng, tumben-tumbenan.
“Eh, iya. Bang Alan juga.”
Ipeh tersenyum, dan menatap Varrel dengan pendar-pendar bintang di matanya. Ini sangat tidak baik untuk kesehatan mental.
“Oh ... gitu,” ujar Varrel—pada akhirnya, sambil memalingkan wajah, menatap lurus ke depan. Tidak mau terlalu lama memandangi Ipeh hari ini.
“Sumpah dong dia baru ngerti.”
“Udah, Vi ....”
Varrel mendelik, dan lagi-lagi malah berserobok tatap dengan Ipeh yang sedang tersenyum. Tidak ada sorot mengejek dari matanya, meski jelas-jelas Violeva sang Mak Lampir milenial sudah merisak adiknya sejak tadi. Ipeh tampak tidak terpengaruh sama sekali, atau mungkin hatinya memang baik. Heran memang, padahal Vio dan Varrel hanya selisih beberapa tahun saja, sama sekali tidak jauh, tapi dia selalu kalah dari kakaknya. Meski kadang bisa menyerang balik, tetap saja ujung-ujungnya Varrel ditembak mati oleh Kak Vio, karena omong-omong jatah bulanannya ditanggung penuh oleh perempuan itu.
Varrel adalah jenis cinderella versi laki-laki.
“Abang gak suka, ya?” Ipeh tiba-tiba bertanya, memegangi lengan bajunya.
Butuh beberapa waktu bagi Varrel untuk mencerna pertanyaannya. Gak suka apa dulu nih? Jadi ambigu.
“Ipeh dandan kan buat Abang.” Pipinya merona lagi, dan Ipeh tidak menatap ke arahnya, justru memalingkan wajah dan melihat ke luar jendela. Tangannya—Varrel perhatikan, meremas-remas ponsel.
Eh, tunggu ... ponselnya kemarin bukan yang ini, Varrel ingat betul. Pertama kali bertemu dan minta dipacari, Ipeh memberikan ponselnya untuk dituliskan nomor HP. Iphone 11 yang setipe dengan Kak Vio, hanya beda warna. Lalu sekarang—
“Bang?”
“Yup!” Varrel refleks mengambil ponsel yang diremas-remas itu untuk memastikan penglihatannya. “Ganti?” kemudian secara tidak sadar mengalihkan topik.
“Iya, biar sama kayak punya Abang.” Ipeh tersenyum agak sedikit cengengesan, oke ini sisi bodoh Ipeh yang tidak bisa Varrel pahami sama sekali.
“Bagusan yang kemaren juga, kenapa harus ganti? Ipeh gak boleh lho kayak gitu sama barang.”
Atau singkatnya, Varrel ingin bilang, jangan b**o deh! Tanpa merasa bahwa dirinya sendiri lebih parah daripada itu.
“Hm ...”
Tidak ada jawaban lain kali ini, beberapa detik setelah obrolan itu Bang Alan memutar lagu di mobil barunya. Mobil baru tapi bekas. Mobil kenangannya dengan Kak Vio dari zaman mereka baru menikah. Mobil yang Varrel ketahui bernama Riko—mirip nama manusia, dan punya Kak Vio bernama Neng Eti. Mereka memang aneh sekali, tapi lucu, tapi aneh, tapi menyebalkan juga. Terlebih akhir-akhir ini, sering sekali berkelahi.
Lalu mereka berempat hanya mendengar suara para penyanyi favorit Bang Alan mengalun bergantian. Mulai dari Mbak Pao—Bang Alan menyebutnya, alias Faouzia dengan single andalan You don’t even know me, Alec Benjamin Let me down slowly, dan beberapa yang lainnya hingga Varrel menyadari bahwa Ipeh sudah terlelap dengan kepala menyandar di jendela. Kak Vio menoleh ke belakang sebentar sebelum tersenyum geli menatapnya yang kebingungan sendiri, bingung melihat Ipeh harus diapakan karena posisi itu tampak tidak nyaman.
“Bantalnya dipake gak, Kak?”
“Enggak, nih pakein.”
Kadang, kakak perempuan bisa sangat pengertian dan juga perhatian. Mungkin memang sebenarnya sangat baik, hanya mulutnya perlu diamplas sesekali. Varrel menyentuh Ipeh ragu-ragu pada awalnya, mencoba dengan sangat hati-hati agar bantal leher yang diberikan Kak Vio mampu menyangga kepala dengan benar. Tapi tangannya gemetar, tremor, Varrel punya kekurangan seperti ini saat tegang dan tidak fokus atau justru terlalu fokus. Itu sebabnya dia selalu gagal di praktek mengelas, sudah dua baju yang jadi korban, terbakar oleh alat las di tangannya.
Untungnya, Ipeh bukan jenis mesin las, dia tidak mengeluarkan api ataupun berisiko membakar baju Varrel. Tidak masalah memegangnya dengan sedikit gemetar.
“Makasih, Bang,” ujarnya—tiba-tiba, sambil tersenyum tipis untuk kemudian tidur lagi dengan polosnya.
What? Jadi tadi sebenarnya tidak masalah untuk dibangunkan dan beri saja bantal lehernya biar dia pasang sendiri? Setidaknya kan Varrel tidak perlu tremor kali ini.
****
Butuh waktu sekitar 1 jam lebih dari Tebet hingga sampai di Cengkareng pada siang menjelang sore. Sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya macet membuat keajaiban seperti halnya jam karet saat ini. Untung saja Bang Alan memutuskan untuk pergi lebih awal, karena selain harus kembali ke kantor, Varrel juga tidak bisa check in online sejak tadi. Pilihannya hanyalah datang lebih awal dan check in lalu menyimpan bagasi, kemudian punya waktu beberapa menit untuk mengobrol kembali.
Kak Vio turun paling dulu ketika mobil suaminya berhenti sempurna di pelataran parkir Bandara Soekarno Hatta Terminal 3, khusus keberangkatan Domestik Garuda Indonesia dan penerbangan Internasional maskapai lain. Anehnya, Bang Alan menyusul di belakang dan mereka tidak berjalan sejajar, pun tas Kak Vio tidak diapit oleh Bang Alan. Benar dugaan Varrel, mereka berdua sedang kenapa-kenapa, meski Kak Vio selalu menyangkalnya.
Sekarang, Ipeh juga berjalan mendahului Varrel, tanpa bicara apa-apa. Jadi posisinya Kak Vio paling depan, disusul Bang Alan, lalu Ipeh dan Varrel masih berdiri di dekat si Riko, rencananya ia ingin berpamitan dulu pada keluarga baru ini. Berhubung Kak Vio dan Bang Alan belum punya anak, maka mobil-mobil mereka sudah seperti anak sendiri. Untuk itulah para mobil ini dinamai, Riko dan Neng Eti. Kemarin ada si Ganteng, tapi Bang Alan menjualnya tanpa alasan. Mungkin bosan, tapi masa sih? Etios Valco bisa menggantikan Fortuner di hatinya?
“Riko, kamu ini diangkat jadi anak di keluarga kami biar membangkitkan kenangan lama Kak Vio. Biar dia sama Abangku akur lagi, jadi tolong ya jaga mereka baik-baik selama aku pergi. Terus nitip si Nino di garasi, entah siapa yang mau pake kalo aku gak di sini. Dadah Riko!”
Varrel kemudian—dengan langkahnya yang panjang, setengah berlari menyusul Ipeh yang hampir memasuki pelataran terminal. Dia berjalan pelan, dan tidak menengok ke belakang sejak tadi, kepalanya agak mendongak sedikit. Ketika Varrel bisa mensejajarkan langkahnya, Ipeh justru terlihat membuang muka, menghindar darinya.
“Ipeh, kenapa?”
Mungkin karena kondisi ramai saat itu, orang-orang berlalu lalang, di sisi sebelah terminal keberangkatan ada terminal kedatangan dan para porter saling berteriak menawarkan jasa mereka. Ipeh tampak tidak mendengar pertanyaannya, sampai Varrel beralih ke sisi yang lain dan memergoki matanya yang memerah. Tidak ada pendar-pendar bintang di sana.
“Kenapa?” Varrel mengulang.
Rasanya berlebihan sekali kalau Ipeh menangisi kepergian orang yang baru dikenalnya beberapa hari. Meskipun statusnya adalah pacar.
“Gak papa, Bang. Sedih aja mau ditinggal sama Bang Varrel.”
Varrel mengernyit. Dia sadar, bukan itu jawaban sesungguhnya.
“Duduk yuk di sana, jangan jauh-jauh dari Kak Vio, ya? Abang mau masukin koper ke bagasi sebentar.”
“Iya,” jawab Ipeh patuh, seperti biasa.
Dia berjalan mendekati kursi panjang berjejer dan duduk tepat di sebelah Kak Vio, tampak langsung mengobrol tanpa terlihat canggung atau apa. Di sebelah Kak Vio, Ipeh terlihat sangat kontras dengan kulit warna madunya. Tidak hitam sama sekali, kulitnya sehat dan terawat, berkilau dan bersih, tapi memang tidak putih. Di ujung kiri mereka, Bang Alan berdiri sambil memegangi ponselnya. Dia masih memakai setelan kerja, kemeja polos berwarna burgundy dan celana kain hitam, juga sepatu kulit, sangat keren sekali—menurut Varrel.
Baru kali ini Varrel melihat, orang-orang dengan pesona yang istimewa seperti Bang Alan dan Ipeh. Mereka berdua tidak terintimidasi oleh bening putih mulusnya masyarakat akhir-akhir ini. Semua yang menempel di tubuh mereka sangat cukup, tidak berlebihan, dan justru mengundang decak kagum sendiri. Bang Alan dengan pesona pria dewasa yang dimilikinya, dan Ipeh—gadis remaja paling cantik yang Varrel temui seumur hidupnya, tanpa terlihat banyak berusaha.
Selesai dengan proses check in serta mengamankan bagasinya, Varrel kembali menuju pintu keluar. Hanya berbekal tas ransel dan ponsel di tangan, dia punya waktu sekitar tiga puluh menit lagi sebelum harus naik ke ruang tunggu.
“Abang mau?” Ipeh mengangsurkan sebuah kue sus dari Beard Papa yang entah sejak kapan ada di sebelahnya. Kak Vio juga memakan habis kue-kue itu dalam sekali suap, sambil mengotak atik ponselnya. Kesempatan untuk Varrel, dia menyeret Ipeh menjauh dari kakaknya.
“Ipeh jangan nangis,” kata Varrel kemudian. “Nanti Abang ke sini lagi kok.”
“Abang jangan bilang gitu.” Ipeh meletakkan kue yang sedang dipegangnya. “Ipeh tadi udah lupa, sekarang inget lagi.”
Tanpa menunggu detik berikutnya mendekat, air mata Ipeh luruh begitu saja, tidak bisa ditahan atau dipaksa keluar. Seperti keran air yang dibuka dan toren penampungannya penuh, air matanya mengalir deras sampai jauh.
Dia menyekanya sesekali, dan Varrel tampak sangat t***l saat ini. Dia mengatakan itu untuk menghibur, bukan untuk membuat Ipeh semakin menangis.
“Ipeh ... kangen sama Papa.” Dia berusaha bicara dengan suara tersendat-sendat. “Abang belum tahu, ya?”
Varrel menggeleng, tentu saja.
“Ya udah,” katanya pelan.
Dan saat ini Varrel kebingungan setengah mati. “Kok ... udah?” begitu memang, hanya respons seperti itu yang keluar.
“Kan Abang belum tahu cerita soal papanya Ipeh.”
“Ya makanya Ipeh cerita ke Abang.”
Dia menggeleng. “Enggak, ah. Ipeh gak suka ceritain soal ini ke orang-orang.”
“Tapi kan Abang pacarnya Ipeh.” Varrel sendiri tidak sepenuhnya sadar setelah mengatakan hal itu.
Hanya saja dia akui, ada perasaan tidak rela mendengar soal Ipeh yang tidak mau membuka soal ini pada orang lain, karena harusnya Varrel tidak termasuk dalam kategori orang lain. Dia dan Ipeh pacaran, dan hal umum seperti berkenalan dengan orang tua Ipeh harusnya adalah sesuatu yang biasa saja.
“Papanya Abang udah meninggal waktu Abang SMP,” ujar Varrel kemudian, memberi pancingan. “Kalau Ipeh sedih pas nyampe di bandara dan tiba-tiba keingetan papanya, at least Ipeh masih bakal ketemu lagi suatu hari nanti, kan? Nanti kita tunggu papanya di sana, di pintu kedatangan.”
Varrel menunjuk ke sebelah kanannya dan Ipeh ikut melongok.
“Maaf ya, Bang. Ipeh ikut berduka.”
“Gak apa-apa, semua orang juga bakal pergi, kan? Tinggal nunggu giliran masing-masing.”
“Papa Ipeh ada di Dubai, Bang.” Ipeh memotongnya sambil menatap jadwal keberangkatan penerbangan internasional di monitor besar dekat mereka. “Papa sama Mama pisah, dan Papa ke Dubai. Katanya kerja, tapi gak pernah ada kabar. Ipeh ketemu papa terakhir tiga tahun yang lalu, Ipeh yang nganterin papa pas pergi, dan sampai sekarang belum ketemu lagi.”
Di titik ini, ada bagian dari diri Varrel yang merasa tercerahkan. Gadis di sebelahnya ini sedang merindukan seseorang, dia membutuhkan sosok orang yang harusnya ada di masa-masa remajanya, mendampinginya. Dan mungkin saja, ini alasan terbesar kenapa Ipeh langsung menyukainya dan meminta sebuah hubungan di antara mereka pada pertemuan pertama.
Di alam bawah sadarnya, dia takut kehilangan lagi. Meski nyatanya sangat aneh karena Varrel bahkan bukan miliknya, tapi kepolosan dan tekadnya meminta dijadikan pacar pada hari pertama berjumpa cukup bisa dimaklumi saat ini. Dia butuh seseorang, dia butuh laki-laki yang notabene bisa menjaganya, bisa melindunginya, seperti halnya seorang ayah, seorang kakak. Varrel pernah mendengar soal anak-anak perempuan yang gampang sekali jatuh cinta karena kehilangan figur ayah dalam hidup mereka. Bisa jadi, kasus Ipeh serupa.
“Kapan-kapan kita ke Dubai, ketemu sama papanya Ipeh. Mau gak?”
“Mau.” Ipeh mengangguk buru-buru. “Nanti kita nikah di sana aja yuk, Bang? Terus resepsinya dua kali, di Dubai sama di Jakarta. Ayo kita nabung dulu.”
Akhirnya, Ipeh dan Varrel tertawa berdua meski air mata Ipeh belum kering seutuhnya. Ah, Varrel ingin menyentuh pipinya dan menghapus air mata itu andai ... andai tangannya tidak gemetar, andai hatinya sudah pasti memilih untuk berlabuh pada Ipeh, andai dia yakin bahwa Ipeh adalah gadis yang tepat, andai Varrel tidak merasa sayang dan khawatir berlebihan seolah Ipeh adalah adik perempuannya.
Dia belum bisa memutuskan.
“Ipeh jaga diri baik-baik, ya? Belajar yang rajin.”
“Iya.” Dia mengangguk dengan ekspresi menggemaskan. “Abang jangan selingkuh, ya?”
Kenapa bocah SMA hanya mengatakan hal-hal dangkal seperti itu, sih? Setelah mereka baru saja membahas hal yang serius, pada akhirnya Ipeh kembali seperti itu lagi. Dan Varrel tidak ada pilihan selain tersenyum, lalu mengangguk untuk menyetujuinya.
****