Hilda dan Asfar sedang menghabiskan waktu Bersama, bak manusia yang tidak memiliki beban. Padahal Hilda masih menjadi pengangguran sedangkan Asfar mulai mencari pekerjaan, bukan karena untuk memenuhi kebutuhan hanya agar permainan judi Asfar tetap berjalan. Hilda pun tidak mempermasalahkan sedangkan semenjak Kinan menghilang tanpa meninggalkan jejak.
“Asfar!” Panggil seseorang dari belakang, Asfar menoleh untuk mengetahui siapa yang memanggilnya yang ternyata adalah Nura, tetangga rumahnya yang juga sedang berjalan-jalan menikmati pagi hari.
“Oh rupanya kamu, Nura!” Ucap Asfar menghentikkan langkahnya agar Nura dapat menghampirinya, sedangkan Hilda hanya tersenyum menyapa Wanita yang seusia ibu mereka bila saja ibu Kinan masih hidup.
“Ku dengar Kinan tidak pulang sudah berapa hari?” Tanya Nura menepuk Pundak Asfar, berpura-pura ikut peduli padahal siapa yang tidak mengetahui hubungan buruk antara Asfar dengan Kinan.
Asfar yang tidak memperlakukan Kinan sebagai anaknya, sang tuan rumah justru dijadikan tulang punggung keluarga. Padahal bila memperhatikan umur Kinan, gadis seusia itu harusnya benar-benar menghabiskan waktu mudanya untuk menambah wawasan Bersama teman-temannya. Faktanya, gadis itu berangkat pagi pulang malam hanya untuk menghidupi keluarga tirinya yang tidak tahu diri.
“Sudah sebulan lebih Nura kenapa?” Tanya Asfar dengan senyum palsunya.
“Kamu tidak melapor ke kantor polisi?” Tanya Nura memandang bergantian Asfar dan Hilda.
“Sudah tapi belum ada kabar selanjutnya.” Jawab Asfar berbohong, padahal sejak menghilangnya Kinan dia tidak pernah mencarinya, masih bersikeras dengan persepsinya bila Kinan sedang berada diluar bersenang-senang menghabiskan uangnya.
“Wah, aku yakin dia sudah diculik mafia malam.” Ucap Nura membuat Asfar dan Hilda saling pandang.
“Untuk apa mafia malam menculik gadis miskin seperti kita Nura?” Tanya Asfar bertingkah layaknya ia peduli kepada Kinan.
“Biasanya mereka menjualnya kalau tidak yang lain aku juga tidak tahu. Bukan justru mereka yang merampoknya.” Jelas Nura kepada Asfar yang justru mengangguk tapi dengan senyumannya yang sedikit aneh.
“Ya sudah aku duluan Far, Ayo nak Hilda.” Ucap Nura berpamitan meninggalkan Asfar yang memandang ke atas langit yang mulai berwarna cerah, seperti menemukan titik temu.
“Ayo pulang!” Ajak Asfar pada Hilda yang justru tampak kebingungan dengan tingkah sang ayahnya. Tapi gadis itu tidak banyak tanya, ia pun segera sedikit berlari kecil untuk mensejajarkan langkahnya dengan sang ayah yang sudah berada di depan.
“Ada apa Ayah?” Tanya Hilda tampak penasaran pada ayahnya yang justru mengeluarkan kunci mobil tuanya.
“Nanti kita bahas di rumah saja.” Ucap Asfar membuat Hilda diam tidak berniat untuk bertanya lebih lanjut kepada ayahnya.
Meski begitu, ia masih berusaha berfikir dan mencoba membaca apa yang sebenarnya yang direncanakan ayahnya untuk Kinan. Mereka segera menancap gas kembali ke rumah tuanya dengan menggunakan mobil tua Asfar yang kini tidak bisa digunakan untuk bepergian jauh.
Sesampainya di rumah, Asfar segera duduk di halaman belakang, Hilda masih setia mengekor pada ayahnya dan dengan setia menunggu ayahnya mengutarakan fikirannya setelah berbincang dengan Nura sebentar.
“Jika Kinan benar diculik oleh mafia malam. Kita harus ambil kesempatan.” Gumam Asfar yang masih bisa didengar oleh Hilda, Hilda memandang wajah ayahnya mencoba mencerna apa yang dimaksud dengan ayahnya.
“Maksud ayah gimana? Hilda tidak mengerti?” Tanya Hilda meminta penjelasan Asfar.
“Itu artinya mereka menjual Kinan entah untuk apa? Kita harus memanfaatkan kesempatan ini Hilda. Kita juga harus mengambil keuntungan dengan dijualnya Kinan.” Jelas Asfar dengan senyumannya dan disambut senyuman menyeramkan Hilda bak seorang penyihir yang berhasil menaklukan sang tuan putri.
“Ayah mau minta tebusan kesana?” Tanya Hilda dengan mata berbinarnya, ia semakin terlihat antusias kala mendapat jawaban Asfar dengan anggukan mantap tanpa ragu-ragu.
“Gimana ide ayah?” Tanya Asfar dengan wajah benar-benar tak tahu malu.
Apa yang dia rencanakan bukan seperti umumnya sebagai orang tua yang kehilangan putrinya, melainkan seperti penjual yang kehilangan barangnya. Asfar tidak mau rugi, Hilda sendiri duduk sambil berkhayal bagaimana dengan menghilangnya Kinan justru merubah hidupnya menjadi orang kaya dadakan.
“Kapan ayah akan kesana?” Tanya Hilda membuat Asfar menerawang jauh.
“Kamu tunggu saja, ayah akan survei dulu dan Ketika hari itu tiba, ayah akan mengajakmu menjemput uang kita.” Ucap Asfar mengusap lembut kepala putrinya, Hilda pun menghambur ke pelukan ayahnya dengan raut kegembiraannya.
Dua sejoli, ayah dan anaknya yang sama-sama memiliki pikiran tak berlandaskan hati Nurani untuk keluarga tiri mereka yang kini harus meringkuk berbulan-bulan di rumah Rega. Sudah diberikan hati meminta jantung, bukankah apa yang diberikan Kinan selama ini adalah sudah dari kata lebih yang tak harusnya umumnya sikap bagaimana menjadi tuan rumah.
“Kira-kira Kinan masih hidup atau sudah dibuang setelah dipakai beberapa laki-laki ya ayah?” Tanya Hilda dengan tawa renyahnya yang justru terdengar begitu menakutkan.
Rumahnya sudah tak seperti rumah justru seperti tempat berkumpulnya para pikrian-pikiran jahatnya. Mendengar ucapan putri semata wayangnya, Asfar tampak berfikir dan mempertimbangkan berbagai spekulasi agar ia bagaimanapun tetap memperoleh keuntungan dari menghilangnya Kinan.
“Ayah berharap ia masih hidup, agar keuntungan kita juga besar.” Ucap Asfar menghitung hari dimana Kinan pertama kali menghilang dan tak pulang.
***
Baru pukul sebelas malam, suara mobil masuk ke garansi menyita perhatian para pelayan yang sedang beristirahat dari tugas mereka yang sudah selesai dengan saling mengobrol. Melihat Rega yang masuk ke dapur semuanya diam dan menunduk memberikan hormat kepada tuan mereka. Rega hanya mengibaskan tangannya menandakan para pembantunya tidak perlu membungkuk kepada mereka.
“Tolong bawakan saya makanan ke kamar saya.” Pinta Rega sebelum lelaki itu akhirnya meninggalkan dapur dan langsung menaiki tangga menuju kamarnya.
Para pelayan saling pandang mendengar permintaan Rega, Bi Herna hanya tersenyum. Benar dugaannya semenjak kedatangan Kinan, Rega banyak berubah sayangnya baik Kinan maupun Rega tidak menyadarinya sama sekali.
“Bi Herna? Apa Wanita yang menjadi sandera Rega begitu cantik?” Celetuk salah satu pelayan muda membuat semuanya menoleh pada Herna menanti jawaban Bi Herna.
“Tentu saja.” Ucap Herna membuat semuanya tampak merasa iri dengan Wanita yang menjadi sandera Rega. Mereka semua yang bekerja disini memang tidak semuanya tapi beberapa hanya termotivasi karena menginginkan untuk bisa dekat dengan Rega.
“ Tidak hanya cantik tapi dia akan menjadi penerang dalam hidup Rega mungkin.” Gumam Bi Herna lirih entah bisa di dengar yang lainnya atau tidak.
“Aku sangat ingin bisa membersihkan kamar Rega, benar-benar.” Ucap Sarah yang sangat tergila-gila kepada Rega.
“Aku juga!” Rengek yang lainnya membuat Herna mengibaskan tangannya agar mereka segera kembali ke kamar mereka masing-masing, para pelayan muda segera membubarkan diri begitu melihat usiran halus Bi Herna memandang kepergian Bi Herna menuju kamar Rega dengan penuh keirian.
TBC