MANUSIA SERAKAH

1052 Kata
Mata sang pemilik rumah masih lengket dan belum juga terbuka, namun hiruk pikuk di depan rumah membuat mau tidak mau Rega membuka matanya. Pertama kali ia membuka mata di pagi hari ini, lelaki itu disuguhkan dengan Kinan yang tampak memandang jendela luar dengan tatapan cemas. Tidak seperti pandangan yang Rega baca dari mata gadis itu. “Ada apa?” Tanya Rega beranjak berdiri kemudian mengikuti arah pandang Kinan yang sejak tadi tidak megalihkan pandangannya dari sana. Mata Rega menyipit setelah menangkap ada beberapa manusia yang sedang berbincang di depan gerbang rumahnya, termasuk Sam. “Siapa mereka?” Tanya Rega pada Kinan yang terhenyak dari lamunannya. “Ayah dan kakak tiriku.” Jawab Kinan dengan lemah namun masih bisa didengar oleh Rega. Rega menghela nafas dan menatap dengan jeli apa yang sebenarnya sedang dibicarakan mereka disana, meski usaha Rega sama saja sia-sia karena percuma jarak yang jauh tidak bisa membuat Rega mendengar ucapan mereka yang sedang berunding di luar sana. “Jangan!” Cegah Kinan tiba-tiba begitu menyadari Rega akan beranjak pergi dan pergi menemui ayah dan kakak tiri Kinan. Bukannya menjawab, Rega justru mengangkat sebelah alisnya menandakan ia sedikit heran dengan tingkah Kinan yang justru melarangnya untuk keluar rumah. Rega juga tidak melihat ada perasaan Bahagia di wajah polos Kinan kala ayah dan kakak tirinya menjemputnya. “Kenapa? Bukankah kamu senang ayah dan saudara tirimu menjemputmu?” Tanya Rega dengan wajah sinisnya, Kinan menggeleng. Kinan sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh ayahnya hingga mereka menyempatkan diri untuk datang ke rumah Rega pagi-pagi. Kinan justru teringat, bagaimana usaha ayahnya hampir saja menggandaikan dirinya untuk perjudian konyol ayahnya itu. Kinan hanya bisa berandai-andai bahwa ibunya tidak akan menikahi lelaki yang bukan meringankan kebutuhan keluarganya justru menjadi bebannya. “Dia tidak datang untuk menjemputku.” Ucap Kinan lemah membuat Rega menyilangkan kedua tangannya di depan d**a, kemudian duduk di tepi tempat tidurnya. Lelaki itu memilih mengurungkan niatnya untuk turun, hanya sementara lebih tepatnya ia sedang menundanya saja. “ Mari kita bertaruh!” Ajak Kinan semakin membuat Rega tidak mengerti dengan jalan piker Kinan yang selalu berusaha menutupinya sendiri. “Bertaruh? Sepertinya menarik.” Ucap Rega mempertimbangkan keinginan Kinan. “Ah tidak, terlalu menyeramkan untuk bersaing denganmu.” Ucap Kinan mengurungkan niatnya untuk bertaruh dengan Rega, ia sudah membayangkan bagaimana jika justru bukan dirinya yang menang dan Rega yang menang. Bukankah lelaki itu akan bertindak seenaknya seperti sekarang dan mungkin lebih parah bukan? “Oke, aku turun saja!” Ucap Rega berniat mengancam pada Kinan bahwa ia akan menemui ayah dan kakak tirinya, namun dugaan Rega salah gadis itu hanya mengendikkan kedua bahunya menandakan ia tidak peduli dengan apa yang akan dilakukan lelaki itu. Kinan menyipitkan matanya, sejak tadi ia terus memandang keluar jendela, menunggu Rega keluar dan menemui mereka. Namun sampai sekarang, lelaki itu tak kunjung muncul. Ia mendengar suara pintu kamar Rega terbuka. “Bi Herna, Kinan kira Rega kembali.” Ucap Kinan pada asisten Rega yang sekaligu seperti keluarga sendiri bagi Rega. “Ah, tadi Bi Herna juga lihat Rega turun. Ini sarapan dulu! Kamu tahu rupanya jika ayah dan kakakmu datang.” Ucap Bi Herna menyadari rupanya Kinan memandangi luar jendela sejak tadi. “Apa mereka benar keluarga kamu?” Tanya Bi Herna sekali lagi, menanyakan kebenarannya pada Kinan yang mengangguk lemah. “Iya, mereka ayah dan saudaraku Bi, tapi tiri.” Ucap Kinan dengan tatapannya pada Bi Herna yang tampak sayu atau hanya pandangan Bi Herna saja. “Apa hubungan kalian tidak baik?” Tanya Bi Herna tepat pada sasaran, mampu membuat Kinan bungkam. Kinan mengalihkan pandangannya keluar jendela, memandang jauh mengingat kembali apa ada momen-momen diantara mereka yang terbilang baik-baik saja. Tidak ada, lebih tepatnya tidak ada. Sekalipun mendiang ibunya masih ada mereka memakai topeng berujung kekerasan yang Kinan terima, Hilda yang mengulurkan tangan kepadanya dengan pandangan tulus justru melemparkan bara peringatan bahwa hubungan mereka akan semakin buruk ke depannya. *** Rega turun dan mampir ke dapur rumahnya, membuat semua pandangan pelayan menatapnay dengan kekaguman dan juga ketakutan secara Bersama-sama. Mengapa? Tentu saja mereka takut jika dalam pekerjaan mereka Rega menemukan sebuah kesalahan yang bisa jadi berakibat fatal. “Rega!” Panggil Sam yang berlari dari luar. Rega memandang sebentar Sam yang sedang terengah-engah mengatur nafasnya. Rega tampak tenang, kembali meneguk pelan kopi yang dibuatkan oleh salah satu pegawai ruamhnya. “Ada apa?” Tanya Rega berprua-pura menanyakan hal apa yang membuat Sam berlari kearahnya di pagi hari, bahkan sang Mentari belum terbit dengan sempurna. “Diluar ada orang yang mencarimu, mereka mengaku sebagai keluarga dari Kinan.” Jelas Sam menjelaskan keadaan diluar. Rega hanya mengangguk tak segera menanggapinya, Sam mengangkat sebelah alisnya tidak menduga dengan respon Rega yang tampak biasa saja. “Kamu sudah mengetahuinya?” Tanya Sam pada Rega yang tersenyum ambigu, membuat Sam terdiam mencoba memahami gerak-gerik Rega yang tampak tenang dan tidak terkejut. “Aku tidak akan menemuinya.” Ucap Rega membuat Sam mengangguk. “Tapi mereka mengancam akan melaporkan polisi.” Ucap Sam membuat Rega menoleh kepadanya kemudian tertawa sinis membuat Sam semakin tidak mengerti dengan bosnya ini. “Sam! Ayolah kita sangat sering berurusan dengan polisi apa yang kamu takutkan?” Tanya Rega membuat Sam tersenyum tenang. Benar. Apa yang sedang ditakutkan Sam sekarang? Bahkan ini masalah yang begitu sepele tidak perlu Rega untuk turun tangan. Hanya saja, ada hati kecil Sam yang sedikit terusik karena mengetahui mereka adalah keluarga Kinan. “Lalu apa yang harus aku perbuat Ga?” Tanya Sam pada Rega kemudian meletakkan cangkir kopi yang sejak tadi ia genggam. Rega mengaitkan jari jemarinya, ia sedang berfikir. “Biarkan saja, aku sedang tidak berselera untuk menemui mereka. Mereka pasti kembali besok.” Ucap Rega pada Sam membuat Sam hanya mengangguk pelan. Alasan yang mempengaruhi Rega tidak mau menemuinya bukan semata-mata karena moodnya sedang tidak baik, hanya saja ia menunggu waktu yang tepat. Juga kali ini ia menuruti permohonan gadis yang menjadi sanderanya beberapa hari ini. Kehadiran gadis itu rupanya cukup mempengaruhi hati dan fikiran Rega, padahal tidak ada hal-hal berarti yang dilakukan Kinan kepada Rega namun membuat apapun yang dilakukan Kinan menjadi berarti bagi Rega. Lelaki itu sedang terhanyut pada Kinan, Rega tidak menepisnya ia mencoba mengikuti alurnya. Lelaki itu percaya bahwa yang ia lakukan hanya sementara dan akan bosan seperti sebelum-sebelumnya. Masa sandera Kinan akan berakhir seperti sandera Rega sebelumnya dan gadis itu akan Rega buang sesuka hatinya. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN