KEPUTUSAN KINAN

1034 Kata
“Heuuhhh…” Kinan menghela nafas melihat menu sarapan yang ia santap, tidak ada yang salah dengan makanannya. Masih enak dan juga segar hanya saja Kinan mulai bosan denagn hidupnya yang seperti ini. Hidupnya benar-benar terasa monoton. Bagaimana tidak! Kinan bangun, makan dan menghabiskan waktunya di kamar Rega. Untuk meminta diizinkan kepada Rega agar lelaki itu memperbolehkan Kinan hanya sekedar keluar dari kamar saja begitu susah. Meminta hal-hal yang tidak bisa dituruti oleh Kinan bagaimana tidak Rega meminta sesuatu yang tak lazim yang dengan mudah diberikan. Kecuali para pelayan di rumah Rega yang mengabdikan dirinya kepada Rega dengan menghalalkan berbagai cara. “Kinan!” Panggil Bi Herna yang masuk ke dalam kamar Rega. Kinan menoleh dengan senyumannya membalas sapaan Bi Herna. Setidaknya bagi Kinan, Rega masih memperbolehkan beberapa orang di dekatnya untuk boleh menyapa Kinan atau sekedar mengobrol sebentar kala mereka masuk ke dalam kamar Rega. “Bi, apa menjadi pelayan di rumah Rega seperti Bi Herna harus tidur Bersama dengan Rega?” Tanya Kinan membuat Bi Herna membelalakkan matanya terkejut, reaksi Wanita parubaya itu hampir sama dengan reaksi Sam kala Kinan bertanya kepadanya. “Teori darimana itu Kinan?” Tanya Bi Herna dengan wajah tidak percaya. “Rega yang memberi tahu.” Ucap Kinan dengan suara lirih tidak mau disalahkan. “Memang kamu sangat ingin bekerja disini? kalau sekedar berkeliling aku bisa mengantarmu!” Ucap Bi Herna menawarkan diri, ia tidak kuasa melihat Kinan yang tampak suntuk dengan suasana kamar Rega, terkurung disini tanpa diperbolehkan keluar meski hanya sebentar. “Benarkah?” Tanya Kinan mulai kegirangan dengan tawaran Bi Herna, Bi Herna pun mengangguk mantap. Entah mengapa perempuan tua itu begitu percaya dan simpati kepada Kinan semenjak bosnya menjadikan gadis malang itu sebagai sandera. Terlebih kejadian beberapa hari dimana orang tua tiri Kinan datang bukan untuk menjemputnya dan mengajaknya pulang. Justru meminta uang tebusan sebagai ganti karena telah menjual Kinan. “Tapi, hanya sebentar ya Kinan? Kamu harus janji tidak akan kabur! Bisa hilang nyawa aku bila Rega tahu kamu kabur!” Ucap Bi Herna memberikan sebuah peringatan dan Batasan agar Kinan bisa jalan-jalan di sekitar rumah mewah Rega yang terdiri dari tiga lantai. “Iya, Bi Herna! Bi Herna tenang saja. Kinan tidak akan kemana-mana. Kinan akan membantu pekerjaan Bi Herna.” Ucap Kinan tampak senang setidaknya Kinan tidak perlu tidur Bersama dengan Rega hanya sekedar untuk jalan-jalan bukan? Bi Herna tersenyum, ia mendekati Kinan lebih tepatnya kaki gadis itu yang masih dirantai dan juga tangan yang masih terborgol. Kinan terus memasang senyuman manisnya, ia begitu tulus. Akhirnya impiannya untuk sekedar keluar terpenuhi. Kinan langsung berdiri kala Bi Herna melepas rantai di kakinya. Kinan menunggu Bi Herna untuk keluar kamar terlebih dahulu. “Ngomong-ngomong Rega kemana Bi?” Tanya Kinan menyadari sejak tadi tidak melihat Rega. “Biasa tuan Rega pasti bekerja mengurus perusahaan. Dulu sebelum ada kamu! Rega tidak pulang tiga hari pun biasa.” Ucap Bi Herna sambil menuntun Kinan menuruni tangga. Kinan tampak berbinar kala menuruni tangga, mereka keluar rumah dan berada di perkarangan. Kinan benar-benar takjub dengan pemandangan yang ada di hadapannya, semuanya tertata rapi dan begitu luas. Beberapa pelayan disana mencuri-curi pandang pada Kinan, mungkin mereka berusaha menerka siapa yang tengah Bersama dengan Bi Herna. Rumor bahwa Rega menyandera seseorang itu sudah biasa, namun rumor Rega mengurung gadis sampai di dalam kamarnya itu masih asing bagi mereka. “Seger banget ya perkarangan di sini Bi, sayang beberapa hari yang lalu aku keluar dengan Rega waktu malam hari.” Ucap Kinan masih tak bisa menutupi rasa kagumnya. “Bi Herna mau apa sekarang?” Tanya Kinan melihat Bi Herna mengambil gunting tanaman. “Kamu jangan jauh-jauh ya Kinan. Saya disini!” Ucap Bi Herna kemudian duduk di sekitar Bi Herna yang sibuk dengan benih-benih yang Kinan sendiri kurang tahu benih apa yang mereka tanam. “Iya Bi Herna saya disini aja kok!” Ucap Kinan seraya duduk di bibir kolam, menengggelamkan setengah dari kakinya. Ia tampak senang bukan kepalang, Bi Herna pun menatapnya dengan tatapan senang juga. Ia seperti sedang mengajak putrinya seraya bekerja. Kinan pun tidak bisa berhenti kagum, senyumannya yang merekah sejak tadi hilang begitu saja kala matanya menatap jendela dapur tampak para pelayan sedang mengintipnya dengan tatapan takjub. Kinan berusaha mengabaikannya namun tetap saja tidak bisa. Cukup menganggu, seperti dirinya menjadi pusat perhatian. Kinan melihat tukang kebun yangs edang bekerja pun juga diam-diam meliriknya. Ada apa? Apa ada yang salah pada dirinya? “Neng Kinan!” Panggil seorang lelaki yang sepertinya seusia sama dengan Bi Herna, Kinan menoleh dengan senyuman canggung karena ini pertama kali pertemuan mereka. “Bapak tahu nama saya?” Tanya Kinan tampak tak percaya kala beberapa orang yang tidak ia kenal mengetahui Namanya. “Panggil saja saya Mahfud! Tentu saja, semua orang di rumah ini tahu kamu, Neng! Lebih tepatnya waktu Den Rega ngajak kamu keluar kamar.” Ucap Mahfud membuat Kinan semakin tidak merasa enak, ia merasa diistimewakan padahal ia sangat paham tidak ada yang istimewa pada dirinya. “Sudah Fud! Jangan ganggu dia! Waktu Kinan diluar itu terbatas! Lebih baik selesaikan pekerjaanmu!” Tegur Bi Herna yang langsung dibalas anggukan oleh Mahfud. Kinan pun tersenyum pada Mahfud yang berpamitan untuk meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda. Bi Herna pun terus mengawasi Kinan. Ia juga hanyalah seorang pelayan yang entah dapat bisikan darimana dengan lancang berani mengajak Kinan keluar kamar. Herna tidak bisa membayangkan bagaimana jika Rega mengetahuinya, tapi Herna tahu Rega akan cepat tahu melalui beberapa cctv yang dipasang di berbagai sudut yang ada di rumah Rega. “Siapa yang mengizinkanmu disini?” Celetuk suara seseorang membuat Kinan dan Bi Herna terkejut. Benar, Rega sudah berdiri tegap dengan tangan yang dimasukkan di kantong celananya menambah kesan dingin semakin terasa. Kinan mati kutu disana, ia yang tadinya tampak terus memasang senyum diwajahnya pun kini hanya diam dengan wajah yang perlahan pucat pasi. Bi Herna pun tidak bisa berkata-kata kala Rega menghampiri dirinya, ah lebih tepatnya menghampiri Kinan yang sedang merendam kakinya di tepi kolam renang. Pak Mahfud yang sejak tadi menyadari kedatangan Rega sebelum mereka, hanya bisa menunduk membayangkan kemarahan bos yang mempekerjakan dirinya saja sudah membuat bulu kuduknya merinding. “Bi Herna apa kamu yang melepas rantai dikakinya?” Tanya Rega melihat kaki Kinan yang sudah terbebas dari rantai. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN