“Mereka memberikan sesuatu untuk menukar dengan pekerjaan.”
“Tubuh mereka misalnya!”
Kinan menghela nafas, kalimat Rega benar-benar terngiang-ngiang di dalam kepalanya. Berputar-putar terus-terusan, membuat Kinan semakin dirundung sebuah rasa, dilemma besar. Untuk mendapatkan sebuah pekerjaan yang menurutnya adalah hal yang wajar mengapa ia harus berkorban dengan sesuatu yang tak lazim digunakan sebagai sesuatu yang alat untuk barter.
Kinan tidak tertarik lagi untuk mengetahui tujuan ayah tirinya datang kembali ke rumah sanderanya, lagipula tidak ada tanda-tanda ia akan dilarikan ke lelaki langganan Rega. Dia hanya dikurung disebuah sangkar emas. Tidak ada penyiksaan, perlakuan kasar, hanya saja Rega merenggut kebebasannya.
Kinan tak bisa bergerak bebas sesuai dengan keinginan hatinya, ia hanya menghirup udara segar dari jendela kamar Rega yang terhalang teralis. Kinan menyadari adanya Sam yang sejak tadi duduk di sofa pojok kamar Rega, Sam juga tidak ingin mengajaknya bicaranya. Mereka sedang menunggu Rega yang tengah membersihkan diri, ah bukan lebih tepatnya Sam saja tidak dengan Kinan.
“Sam!” Panggil Kinan dengan seperti biasa, suaranya begitu lembut terdengar samar.
Sam hanya menatap Kinan yang sejak tadi membelakangi dirinya, entah mengapa gadis itu sangat tertarik dengan jendela kamar Rega. Padahal Sam sudah mengikutinya, namun tetap saja Sam tidak melihat ada yang menarik dari sana.
“Apa semua pegawai pernah tidur dengan Rega?” Tanya Kinan kemudian menoleh ke belakang.
Mendengar ucapan Kinan yang tampak terucap begitu saja membuat Sam semakin terkejut. Ia tidak menyangka Kinan akan menanyakan sesuatu hal yang sama sekali tidak ada dalam fikiran lelaki itu sebelumnya.
“Apa maksudmu, Kinan? Jangan sampai Rega mendengar asumsimu!” Tegur Sam yang bergedik ngeri hanya membayangkan apabila bosnya sampai mengetahui Kinan yang berfikiran buruk tentangnya.
“Kenapa? Rega sendiri yang mengatakannya!” Bantah Kinan tidak merasa bersalah.
“Rega?” Tanya Sam dengan pelan yang langsung dibalas sebuah anggukan oleh Kinan dengan wajah polosnya.
“Rega yang menyatakan seperti itu?” tanya Sam lagi memastikan bahwa ia tidak salah tangkap dengan pemahamannya mengenai ucapan Kinan.
“Iya! Dia bilang kalau aku ingin bekerja sebagai salah satu pelayan disini harus melakukan pertukaran…”
“Dengan itu.” Lanjut Kinan pendek, ia merasa malu padahal hanya untuk berucap saja. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana bisa hidupnya terjebak pada lingkungan yang menurutnya sendiri terlalu sulit untuk ia telan.
“Mengapa Rega mengucapkan itu?” Tanya Sam dalam hati sibuk dengan fikirannya tidak menyadari Kinan yang sejak tadi menatapnya menunggu penjelasan dari Kinan.
“Ah! Itu!..” Ucap Sam menggantung begitu ia menangkap tatapan Kinan yang rupanya sejak tadi menunggu ucapannya.
“Dia memang lelaki iblis.” Desis Kinan bersamaan dengan Rega yang keluar kamar mandi. Kinan mengucapkannya dengan penuh dendam menatap Rega yang langsung melemparkan pandangan sinis kepadanya.
“Ah rupanya! Kamu masih penasaran dengan yang aku ucapkan?” Sindir Rega dengan tatapan sinis membuat Kinan langsung membuang muka.
“Sam? Apa yang dia tanyakan kepadamu?” Tanya Rega beralih pada Sam yang langsung gelagapan begitu Rega menatapnya.
“Ah! Kinan bertanya apakah bos tidur dengan para pelayan.” Jelas Sam menatap Kinan takut gadis itu akan kecewa dengan penuturannya, namun persepsi Sam salah! Kinan sama sekali tidak peduli bila Sam melaporkan apa yang ia ucapkan.
“Sam bisa tinggalkan kami berdua!” Ucap Rega kepada Sam seraya melempar handuk yang sejak tadi ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya.
Sam dan Kinan saling pandang, Sam langsung bergegas keluar kamar meninggalkan Kinan yang wajahnya langsung berubah ketakutan begitu Rega mendekatkan dirinya kepadanya. Rega mengangkat wajah Kinan kemudian mendekat, ia menopang wajah Kinan dengan satu jarinya menatap lekat Kinan yang kini memejamkan matanya.
“Apa kita langsung mencoba yang kamu bicarakan dengan Sam saja?” Tanya Rega dengan nada sinis melihat raut wajah Kinan yang benar-benar ketakutan, gadis itu tampak gelisah karena jarak Rega dengannya begitu dekat.
“Tidak!” Tolak Kinan membuka matanya lebar. Ia tidak bisa menepisnya, tangannya saja terborgol sampai sekarang, belum dibuka semenjak Kinan membuat Rega marah kepadanya.
“Kenapa? Bukankah kamu penasaran?” Tanya Rega dengan wajahnya yang benar-benar terlihat seperti lelaki yang sedang bersemangat untuk melampiaskan hormonnya.
“Aku bilang tidak!” Tegas Kinan sedikit menaikkan nada bicaranya membuat Rega segera memberikan jarak antara dirinya dan Kinan. Kemudian lelaki itu tertawa menggelagar menggema di seluruh penjuru kamar, membuat suasana semakin menakutkan. Kinan yang menatap Rega hanya bisa ternganga, ia benar-benar melihat sosok iblis dalam diri lelaki yang telah menyanderanya dengan tujuan tidak jelas.
“Kenapa? Aku akan berjanji berhati-hati pada seorang pemula sepertimu!” Ucap Rega menyentuh bahu Kinan dengan mengusapnya kuat meninggalkan rasa yang membuat Kinan bergedik ngeri.
“Bukankah kamu ingin bekerja di rumahku?” Tanya Rega membuat Kinan semakin bimbang.
Ia benar-benar tergiur dengan tawaran Rega untuk bekerja di rumahnya, namun pertukaran yang diucapkan Rega juga membuatnya ragu. Haruskah ia seperti pelayan yang lain demi bekerja di tempat rega mengorbankan sesuatu hal.
“Kapan kamu akan membebaskan aku?” Tanya Kinan dengan wajah yang tampak memelas meminta belas kasih dari lelaki dihadapannya yang justru memandangnya rendah.
“Sudah tidak ada keinginan bekerja saja ditempatku?” Tanya Rega kembali mengulur, menarik ulur sebuah harapan kepada Kinan, padahal jelas dalam hatinya, ia tidak akan membebaskan gadis di hadapannya itu sampai rasa bosan menghampiri dirinya.
“Tidak! Aku tidak mau melakukan hal keji seperti itu! Apalagi dengan lelaki iblis sepertimu!” Tegas Kinan semakin membuat Rega kesenangan karena melihat betapa naifnya gadis di hadapannya ini, mempertahankan sesuatu yang berujung persepsi Rega adalah Kinan gadis kolot yang sok suci.
“Kamu tidak mau melakukan hal seperti itu?” Tanya Rega dengan nada sarkasnya. Merendahkan Kinan yang masih berfikiran bahwa putih itu bersih dan hitam adalah kotor.
“Tidak aku bilang tidak! Kecuali…” Ucap Kinan menggantung membuat Rega mengangkat alisnya sebelah menunggu Kinan yang rupanya belum selesai berucap.
“Kecuali…?” Tanya Rega tidak sabar membuat Kinan menghela nafas.
“Kecuali kamu menikahiku!” Tegas Kinan dengan wajah tampak dingin, jual mahal sedangkan Rega hampir tenggelam, lelaki itu sempat tertegun.
“Ya Tuhan Kinan! Apa yang sedang kamu bicarakan? Astaga!” Ucap Kinan dalam hati merutuki dirinya yang asal berbicara tanpa memikirkan secara panjang. Bukankah ucapannya barusan seperti mencerminkan Kinan berharap agar Rega menikahinya.
“Apakah kamu benar-benar bermimpi aku akan menikahimu? Aku sama sekali tidak ada niatan untuk menikah!” Tegas Rega dengan raut wajah serius, Kinan tertegun dikala senyuman yang meskipun sinis pada wajah Rega, lenyap begitu saja.
“Dan lagi kubur saja dalam-dalam keinginanmu untuk terbebas dariku! Karena persayaratan untuk bebas masih sama dengan persyaratan untuk bekerja disini!”
TBC