Setelah kejadian yang masih di luar nalarnya, David masih sering berpikir apakah dirinya baik-baik saja? Karena, ia sulit membedakan mana halusinasi, mana kenyataan. Meski begitu, ia tetap berusaha melakukan apa yang sudah menjadi tujuannya. "Untukmu." Ellena menyerahkan botol minum kepada David. Lelaki yang sebelumnya tengah termenung itu mendongak dan mendapati Ellena yang kini berjongkok di hadapannya. "Bukan apa-apa. Hanya teh madu. Kulihat wajahmu begitu kelelahan. Itu akan mengembalikan energimu." ucapnya seakan membaca raut wajah David yang kebingungan. "Terima kasih." "Sama-sama. Lekaslah pulih. Jangan terlalu memikirkan apa yang sudah terjadi. Itu akan merusak pikiranmu sendiri." David tersenyum tipis saat Ellena mengacak puncak kepalanya sebelum kembali berdiri. "Jangan lu

