5. Mengejar hati kamu

1618 Kata
"Kayaknya kita beneran jodoh deh, Gi. Selalu ketemu di waktu yang nggak disangka-sangka."   Andai saja yang mengatakan itu orang lain, Antariksa mungkin akan langsung berpikir aneh. Namun, karena ini adalah Marsya, orang yang dirinya tahu adalah wanita yang senang bercanda, maka tanggapan laki-laki itu hanya tertawa kecil.   "Kamu jualan motor bekas ternyata?" tanya Marsya sembari menyedot jus jeruk yang baru saja Antariksa beri sebagai tanda serah terima pembelian motor. Hal konyol seperti itu sepertinya terjadi karena efek Marsya yang suka bercanda.   "Aku kan pengangguran. Ini cara aku bertahan hidup." Antariksa mengatakan itu dengan wajah yang dibuat muram.   Marsya tertawa, lalu meninju pelan lengan Antariksa. "Ngakunya miskin, tahunya anak konglomerat lagi."   "Konglo melarat mungkin?" Keduanya tertawa untuk hal receh seperti itu. Marsya memang cocok untuk dijadikan teman pembangkit mood.   "Aku jualan apa aja sebenarnya, motor, mobil, kucing, sepatu, pokoknya apa pun yang menghasilkan uang," ujar Antariksa, kali ini dengan nada serius.   Marsya yang mendengar penjelasan itu lantas mengangguk. "Tipe yang nggak mau terikat kerja, ya? Nggak mungkin kalau kamu nggak diterima kerja di mana pun."   "Aku memang nggak punya keahlian apa pun, jadi terpaksa kayak gini," jelas Antariksa kembali ke tipe usil.   Marsya tertawa, "Serius kenapa?"   Antariksa pun ikut tertawa, lalu kembali pada mode serius. "Bener. Kerja di kantor, punya atasan, berangkat dan pulang terjadwal, itu bukan aku banget."   "Aku paling nggak suka sama aturan yang monoton kayak gitu," imbuh Antariksa sembari menoleh dan mendapati seorang Marsya sedang menatapnya dengan sorot kekaguman.   "Tipe cowok pembangkang kayaknya?" cibir wanita itu mengingkari sorot kagum yang jelas sekali terlihat meski matanya terhalang lensa bening.   Antariksa yang mendengar itu kembali tertawa. "Seratus buat kamu," katanya. Bahkan hubungannya dengan ayahnya merenggang karena hal ini.   "Ini ada garansinya kan motor?" Marsya berdiri untuk memeriksa motor yang sudah sah menjadi miliknya ini.   "Nanti kalau ada apa-apa kamu bilang aja ke aku." Antariksa ikut berdiri, dan memeriksa sekali lagi jika motor warna merah itu memang benar-benar sudah rapi.   "Gimana caranya aku komplen coba?"   Antariksa mendongak guna menatap wajah Marsya. "Wa aja," ujarnya. Lalu mengeluarkan ponsel dari saku bajunya. "Nomor kamu berapa biar aku save."   Marsya pun menyebutkan deretan angka yang menjadi nomornya. Dan setelah Antariksa mendial nomornya untuk melakukan miss call, wanita itu segera menyimpannya.   "Oke, nanti jangan kaget kalau aku komplen."   Antariksa menunjukkan senyum lalu mengacungkan jempolnya. "Tapi semoga enggak, ya. Aku yakin ini masih bagus kok."   "Paling aku komplennya buat alasan hubungin kamu doang," ujar wanita itu dengan nada serius. Antariksa yang mendengar itu seketika tertegun. Namun, detik selanjutnya tawa Marsya menggema.   "Serius banget, Mas! Becanda woi!"   Antariksa yang merasa tertipu lantas menggeleng dengan senyuman geli.   "Memang situ punya pacar nggak boleh saya godain?" Kali ini Marsya mengatakannya dengan nada bercanda yang biasa.   "Calon pacar si udah ada, kalau pacar beneran belum."   "Wah, saya bisa daftar dong, Pak."   Antariksa hanya tersenyum tanpa mau merspon. Lalu setelahnya keduanya mengobrolkan hal-hal ringan yang membuat masing-masing bibir itu terus tertawa.   *   Hari di mana ada Viona di dalamnya adalah hari baik menurut Antariksa. Wanita yang begitu sulit untuk ditemuinya itu hari ini libur dan tidak menolak saat dirinya ajak jalan. Hal yang membuat seorang Antariksa nyaris tidak memejamkan mata malam tadi.   Entah sudah berapa lama laki-laki itu tidak merasakan semangat semacam ini. Atau lebih tepatnya, kapan terakhir kali dirinya dibuat seperti ini oleh pesona seorang wanita? Entahlah, yang Antariksa ingat dirinya pernah dibuat tergila-gila oleh sosok Karina, wanita yang ternyata ditakdirkan untuk menjadi iparnya. Dulu, bertemu dengan Karina adalah hal yang akan membuat harinya menjadi penuh warna. Dulu, mengikuti apa pun yang wanita itu mau adalah kesenangan yang tidak tergantikan oleh apa pun. Namun, sayangnya segala kebahagiaan itu harus berakhir saat hari itu datang, hari di mana Argan pulang, dan membawa Karina sebagai orang yang saudara kembarnya itu cintai.   Saat itu Antariksa begitu hancur. Untuk pertama kalinya ia merasakan apa itu cinta, dan bersama Karina pula dirinya mengetahui rasa patah hati. Dan semenjak saat itu, kekecewaan seperti menutup mata hati Antariksa untuk bisa menerima keberadaan wanita lain. Beberapa yang hadir dan mencoba menerobos hatinya tidak ada yang benar-benar bisa dirinya jadikan kandidat untuk dijadikan pendamping hidup. Dan setelah tahun-tahun itu berlalu, Viona muncul dan memberikan rasa yang nyaris sama.   "Jadi kita mau ke mana?" tanya Antariksa pada Viona yang baru saja duduk di dalam mobil. Seperti biasa, wanita itu menyuruh Antariksa untuk menunggu di luar. Belum memperbolehkannya masuk dan menjemput langsung ke apartemen. Antariksa mencoba untuk mengerti, mungkin wanita yang sedang memakai sabuk pengamannya ini belum sepenuhnya percaya terhadap dirinya. Dan tugasnya saat ini adalah membuat wanita itu yakin dan percaya jika niatnya untuk mendekati bukanlah dengan tujuan bermain-main.   "Emm, mau anterin aku nggak?" Viona menanyakan hal itu dengan senyum cantik yang langsung membuat d**a Antariksa bergemuruh oleh rasa bahagia.   "Tentu saja, mau ke mana memangnya?" Antariksa tersenyum geli, lalu mulai melajukan mobilnya.   "Aku mau ada yang dibeli, takutnya kamu bosen." Viona kembali menunjukkan raut yang membuat Antariksa gemas sendiri.   "Ke mall?"   Viona mengangguk dengan senyuman cantik yang tidak juga luntur. Antariksa pun mau tidak mau tertawa kecil lalu segera meluncurkan mobilnya ke salah satu mal yang ada di kota Tangerang.   "Tapi kalau kamu bosen nanti ngomong, ya," ujar Viona ditengah mobil yang melaju. Jalanan tidak terlalu macet karena memang ini bukan weekend. Viona memiliki hari libur yang tidak pasti setiap minggunya. Namun, jarang sekali mendapat jatah libur di tanggal merah karena tanggal itu biasa dijadikan waktu untuk pasangan menikah. Bisa dibilang, hari libur orang lain adalah hari tersibuk untuk wanita ini.   "Nggak bakal bosen, kan kita bisa nonton." Antariksa bersyukur karena dirinya pun memiliki pekerjaan yang fleksible, jadi bisa menyesuaikan libur yang Viona miliki.   "Wah, ide bagus, aku juga ada film yang pengin ditonton." Antariksa tersenyum mendengar kalimat yang diucapkan dengan nada ceria itu. dan tanpa sadar mengulurkan tangan untuk mengusap puncak kepala wanita itu. Keduanya sempat tertegun sebelum kecanggungan itu tiba-tiba merajai.   *   Antariksa yakin jika kini yang ada di sampingnya adalah ibu atau adiknya, maka sekarang dirinya sedang merasa bosan. Sedari tadi Viona terus keluar masuk dari toko yang satu ke toko lainnya untuk mencari baju serta sepatu yang akan dipakai untuk bekerja.   "Kamu belum bosen, kan?" tanya Viona dengan wajah khawatir.   Antariksa yang memang tidak merasakan bosan segera menggeleng. "Enggak, santai aja, aku malah seneng liat kamu antusias gitu."   Viona tidak langsung merspon karena sedang mencari kebohongan yang mungkin tersembunyi di balik iris hitam laki-laki di depannya. Namun, baik senyum atau pun gesture yang Antariksa tunjukkan, tidak menunjukkan jika laki-laki itu bosan. Malah, Antariksa seperti menikmati betul kegiatan berbelanja ini.   "Jangan lama-lama liatinnya, nanti naksir," celetuk Antariksa dengan senyuman tertahan. Viona pun seperti tersadar dari apa yang dilakukannya sejak tadi. Wanita itu menunjukkan senyum malu lalu memukul pelan bahu Antariksa.   Wanita itu pun kali ini menarik Antariksa untuk masuk ke sebuah toko sepatu. Lalu saat matanya menangkap dua benda yang menarik, disodorkannya ke arah Antariksa untuk menilai.   "Cocokan yang mana?" Viona menunjukkan dua sepatu berhak tinggi dengan warna putih dan juga abu.   "Jangan bilang cocok semuanya, ya!" imbuh wanita itu cepat sebelum Antariksa menjawab. Laki-laki itu pun tidak bisa untuk tidak tertawa.   "Bukannya kalau cewek itu suka ngepasin sama bajunya?"   "Iya, si. Tapi menurut kamu yang cocok dipakai untuk semua baju yang mana?"   "Yang warna abu. Itu cantik, simple, tapi elegan, kayak kamu."   Viona memutar bola matanya malas, tetapi ada senyuman yang terpatri di bibir wanita itu. "Kalau gitu aku mau pilih yang putih, biar nggak digombalin terus."   Antariksa hanya tertawa dan membiarkan Viona untuk membayar sepatu yang sudah terpilih. Namun, saat mata laki-laki itu menangkap sepatu berwarna abu yang tadi sempat Viona lihat dirinya segera memanggil pelayan toko.   "Mbak, saya bayar yang ini, ya!"   *   Selesai dengan acara belanja keduanya memilih untuk membeli tiket menonton di bioskop. Dan karena film masih akan diputar dua jam lagi, maka keduanya memilih untuk makan terlebih dulu di sebuah restoran fast food yang ada di mall.   "Kamu beneran nggak bosen kan, Re?" tanya Viona yang entah mengapa harus membahas hal itu lagi. Padahal sejak tadi Antariksa terlihat sangat menikmati kegiatan mereka.   Antariksa tersenyum sembari menatap wajah Viona yang tidak pernah membosankan di matanya. "Enggak lah, aku malah seneng kok nemenin kamu begini."   Viona menunjukkan senyuman cantik, lalu berkata, "Bener loh jangan bohong." Antariksa langsung menggeleng yakin sebagai jawaban.   "Aku nggak suka cowok munafik soalnya." Entah hanya perasaan Antariksa, atau memang Viona terlihat menyimpan kemarahan saat mengatakan itu.   "Kamu sepertinya pernah mengalami hal buruk?" tebak Antariksa hati-hati.   Wanita itu mengangguk sebagai jawaban. "Ada satu cowok b******k yang sangat aku benci di dunia ini." Sorot yang Viona tunjukkan benar-benar membuat Antariksa tidak nyaman. Wanita ini seperti memiliki sisi lain yang tersembunyi. Dan kali ini sisi itu terlihat samar.   "Duh, sory, aku suka begini kalau ngomongin orang yang nggak aku suka," ujar wanita itu mencoba untuk memperbaiki ekspresinya sebelum Antariksa takut dan kabur.   Antariksa yang melihat itu malah mengulurkan tangan untuk menggenggam jemari Viona yang kini ada di atas meja. "Apa pun hal buruk di masa lalu yang pernah kamu lalui, semoga aku bisa mengubahnya dengan kenangan manis."   Viona tersenyum, lalu mengangguk. "Makasih ya, Re. Dengan kamu nggak nanya apa yang terjadi di masa lalu aku, itu udah cukup kok buat aku."   "Itu hak kamu untuk bercerita atau enggak. Yang jelas aku akan berusaha untuk selalu ada buat kamu."   Viona kembali menunjukkan senyuman penuh haru.   "Oh ya aku punya sesuatu." Antariksa mengambil tas plastik yang teronggok di kakinya. "Buat kamu," katanya sembari menyorongkan benda yang membuat kening Viona mengerut dalam.   "Tolong jangan ditolak, aku hanya mau kamu selalu inget aku di setiap langkah yang kamu pijak. Kamu harus percaya kalau aku tulus buat ngedapetin hati kamu."   Viona tertegun, entah untuk kalimat yang Antariksa ucapkan, atau untuk benda yang kini ia tahu adalah sepatu yang tadi dirinya lihat.   "Aku benar-benar akan ngejar kamu sekarang, jadi siapkan hati kamu untuk menyambut kedatanganku."    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN