"Joko memang nggak masuk hari ini?" tanya Antariksa pada Lili, pegawai yang menjaga toko frozen foodnya. Biasanya ada dua orang, satu lagi laki-laki bertubuh gempal bernama Joko.
"Enggak, Mas, makanya saya hubungin Mas Anta."
"Jadi mana yang mau dikirim?" Antariksa biasanya mengecek toko ini dan satunya lagi beberapa kali dalam satu minggu. Jika dirinya sedang sibuk, ibunya yang akan datang ke toko untuk memeriksa stok yang ada juga melihat laporan penjualan setiap minggunya. Bergantian antara satu toko dan toko yang lain, lokasinya juga tidak terlalu jauh.
"Itu, sudah saya siapin, Mas."
Antariksa menoleh ke arah Lili menunjuk, dan segera mengangguk. "Ya sudah, biar saya aja yang antar."
"Nggak papa ini, Mas? Nggak saya aja? Panas loh diluar."
Antariksa langsung tertawa kecil mendengar celetukan bernada polos itu. "Kamu pikir kerjaan saya apa si, Li, sampai takut panas?"
Gadis dengan hijab berwarna biru itu hanya meringis, kadang lupa kalau bos tampannya ini seringnya memang melawan matahari. Terlihat dari kulit putihnya yang tidak terlihat putih lagi. Bahkan jika dibandingkan saudara kembarnya, akan langsung terlihat yang mana Argantara dan mana Antariksa. Perbedaan mencolok dari warna kulit itu lebih mudah untuk mengenali dua laki-laki dengan wajah nyaris identik. Padahal ada satu perbedaan lagi yang sering orang-orang lupakan. Yaitu t**i lalat yang Argantara miliki di ujung alis sebelah kanan, sementara Antariksa tidak memiliki itu. Banyak yang berkata, jika t**i lalat itu membuat sosok Argantara lebih terlihat manis dan tampan dibanding Antariksa. Hal yang saat kecil membuat Antariksa sering membuat sebuah t**i lalat di ujung alisnya menggunakan spidol. Hal konyol yang tentu saja tidak pernah ia pikirkan semenjak beranjak dewasa.
*
Antariksa terus mengedar pandang ke kanan dan kiri rumah di komplek yang sedang ia lalui dengan sepeda motor. Alamat seseorang yang memesan ayam dengan jumlah yang cukup banyak. Nama Risa tercantum sebagai pemesan dan semuanya sudah dibayar.
Laki-laki itu berhenti tepat di sebuah bangunan besar yang bertuliskan panti asuhan. Kening laki-laki itu mengernyit dalam karena baru menyadari ada panti asuhan di dalam komplek yang sering dirinya lalui saat ini.
"Permisi!" teriaknya karena tidak menemukan bel atau pun lonceng untuk dijadikan alat pemberitahuan jika ada tamu datang.
Beruntung tidak lama seorang wanita keluar dan segera mendekati tempat Antariksa berdiri.
"Dari Fresmarket, Mbak." Kening Antariksa kembali mengerut saat sadar jika wanita yang kini tengah membuka pintu pagar di depannya adalah sosok yang tidak asing.
"Marisha?"
"Regi?" Wanita itu awalnya melebarkan mata, terlihat terlalu terkejut. Lalu menunjukkan senyum kikuk seperti biasa sebelum membuka lebar pagar agar motor Antariksa bisa masuk.
"Ini ayam pesanan kamu?"
Wanita itu sepertinya sungguh tidak menyangka pertemuan tidak sengaja seperti ini akan terjadi. "Iya," jawab wanita itu singkat. Dan selanjutnya hanya memperhatikan gerakan Antariksa yang sedang menjalankan kendaraan roda dua itu untuk memasuki halaman panti.
"Biasanya Mas Joko yang ngantar," ujar wanita itu malu-malu.
Antariksa tersenyum sembari mengangkat karung berisi ayam potong. "Dia karyawanku, libur katanya abis kecelakaan kemarin."
Mata Marisa melebar saat itu juga. "Kecelakaan? Gimana kondisinya?" Wanita itu terlihat begitu khawatitr. Bahkan ekspresi malu-malu dan kikuk yang biasanya terlihat tidak lagi nampak.
"Aku belum tahu, belum jenguk soalnya."
"Boleh kabarin kalau dia kenapa-napa?"
Meski agak bingung dengan reaksi yang wanita di depannya berikan, Antariksa hanya bisa mengangguk dengan senyuman tipis. "Jadi ini ditaruh mana?"
"Di dalem aja." Marisha menunjukkan jalan karena dirinya tidak akan kuat mengangkat karung berisi ayam yang jumlahnya tidak sedikit itu.
*
"Aku baru tahu kalau di sini ada panti asuhan," ujar Antariksa yang urung langsung pergi karena Marisha menawarkan secangkir teh. Mata laki-laki itu kini tengah melihat ke arah anak-anak panti yang sedang melakukan kegiatan di dalam sebuah ruangan yang pintunya sengaja dibuka.
Marisha yang kini duduk di samping Antariksa tersenyum, mata wanita itu juga tertuju ke arah yang sama. Tidak bisa dikatakan duduk berdua karena jarak tempat duduk keduanya begitu jauh seolah ada sebuah pembatas tak kasat mata yang membuat keduanya tidak bisa berdekatan.
"Sebenarnya ini tempat sementara, panti yang mereka tempati kemarin rubuh dan butuh perbaikan," jelas Marisha membuat Antariksa segera menoleh.
"Rubuh?"
Marisha mengangguk, kesan canggung yang biasanya terlihat sudah tidak lagi terlihat. Mungkin karena ini adalah interaksi ke sekian kali yang mereka lalui.
"Bangunannya memang udah nggak bagus. Udah lama panti nggak dapat donator baru."
Antariksa mengerjab, lalu kembali menoleh ke arah Marisha yang kali ini tampak gugup. "Jadi bangunannya belum direnovasi?" Marisha menggeleng dengan sebuah ringisan miris.
Mendengar itu tentu saja Antariksa merasa prihatin dan satu ide muncul. "Aku akan coba bantu," katanya. Marisha yang merasa terkejut tidak langsung merespon.
"Bukan untuk bangun panti dengan uangku," jelas laki-laki itu cepat saat tatapan tidak enak kini Marisha tunjukkan. "Selain bisa bangkrut, aku juga belum mampu." Antariksa tertawa kecil. Dan Marihsa tertegun untuk wajah tampan yang kini tengah laki-laki itu tunjukkan.
"Aku akan bantu untuk carikan donator, seenggaknya penggalangan dana lah."
Marisha menunjukkan senyum penuh haru. "Makasih banget ya Regi, kamu baik."
Antariksa hanya menanggapi kalimat itu dengan senyuman tipis. "Ya udah aku pamit dulu, ya, masih ada kerjaan."
Marisha ikut bangkit dan segera mengantar Antariksa untuk ke luar. "Emm, Regi."
Antariksa yang sudah berdiri di depan motornya segera menoleh dengan alis terangkat.
"Boleh kabarin aku kabar Mas Joko, nggak?" tanya Marisha sedikit malu-malu.
Antariksa yang bingung memilih mengangguk, "Tentu, nanti aku kabarin kamu."
"Ini nomor aku, tolong kalau kamu udah jenguk Mas Joko segera kabarin aku." Hari itu mereka hanya makan bersama dan Antariksa lupa untuk meminta ulang wanita ini.
Antariksa menerima secarik kertas dengan barisan nomor itu lalu kembali mengangguk. "Secepatnya aku kasih kabar."
"Makasih, ya. Maaf ngerepotin."
"Nggak masalah, ya udah aku pamit, ya." Antariksa lalu melajukan motornya sembari berpikir, apa Marisha tidak tahu kalau Joko sudah mempunyai tunangan dan sebentar lagi akan menikah?
*
"Li, kamu kenal sama orang yang pesen ayam tadi?" tanya Antariksa saat sudah sampai di toko. Sebentar lagi ada yang harus dirinya kerjakan, tetapi ada rasa penasaran yang mengganggu.
"Oh, itu kenalannya Mas Joko, katanya buka katering gitu." Lili masih berkutat dengan laporan mingguan yang harus disetor pada bos mudanya ini besok.
"Maksudnya kenalan?"
Lili kali ini mendongak untuk menatap Antariksa, lalu terlihat mengingat-ingat. "Kenal di mana gitu, terus ngobrol-ngobrol, dan akhirnya jadi langganan deh di sini."
Entah mengapa Antariksa harus mengurusi hal yang sebenarnya bisa dikatakan tidak penting karena memang bukan urusannya. Namun, melihat sosok Marisha yang baik, ramah, dan juga terlihat polos, rasanya tidak bisa dibiarkan jika Joko benar-benar mempermainkan wanita itu.
"Memangnya kenapa, Mas? Mas Anta kenal juga sama Mbak Marisha?" Ada nada kepo yang coba gadis mungil itu tutupi saat mengatakan hal itu. Pasalnya seorang Antariksa dan pembahasan tentang wanita itu jarang sekali terjadi.
Antariksa mencoba untuk terlihat biasa saja karena memang tidak terjadi apa-apa. Sepertinya laki-laki itu bisa membaca isi pikiran gadis di depannya ini. "Cuman kenalan biasa, nggak ada yang istimewa."
Senyuman Lili membuat Antariksa merasa menyesal saat itu juga karena melakukan pembahasan yang benar-benar tidak penting ini.
"Orangnya keliatan baik, jadi kasihan aja kalau sampai Joko main-main sama dia." Antariksa masih mencoba untuk membela diri agar Lili tidak berpikir yang tidak-tidak tentangnya dan Marisha.
"Memang baik, cantik lagi. Tipe orang yang ramah banget. Enak ngobrol sama Mbak Marisha mah, orangnya nggak sombong."
Antariksa hanya mendengkus samar. Penilaiannya tentang Marisha tentu saja berbeda. Wanita itu di matanya sedikit membosankan karena sering terlihat gugup dan malu-malu. Memang cantik, tetapi terlalu kalem, jadi rasanya kurang menantang saat didekati. Berbeda dengan Viona yang terlihat energik, dan sangat menyenangkan untuk diajak mengobrol.
Keduanya Antariksa akui sama-sama cantik, hanya saja kecantikan yang dimiliki berbeda. Marisa tipe cantik yang terlihat lemah dan seolah membuat laki-laki ingin sekali melindunginya. Sementara Viona terlihat mandiri dan juga smart, tipe yang susah diatur dan malah itulah tantangan yang harus dirinya jatuhkan. Bisa menaklukkan wanita seperti Viona adalah sesuatu yang membuat hidup Antariksa seperti memiliki semangt baru.
"Ehem!" Lili memperkeras dehamannya yang tidak juga diindahkan atau malah tidak didengar oleh orang di depannya.
"Cie Mas Anta, senyum-senyum gitu," goda gadis 22 tahun itu salah mengartikan ekspresi yang kini Antariksa berikan.
"Apa si kamu." Antariksa memutuskan untuk pergi, lagi pula mau Joko sedang mendekati Marisha atau tidak bukan menjadi urusannya.
"Tapi kata Mas Joko, kalau dia gagal nikah, dia bakalan kejar Mbak Marisha buat dijadiin calon istri, Mas." Tentu saja itu hanyalah keusilan yang sedang Lili laklukan untuk melihat ekspresi apa yang akan bos mudanya itu berikan.
Antariksa yang sudah berjalan mencapai pintu keluar pun berhenti, lalu memutar tubuh untuk menatap Lili. "Si Joko udah gila apa gimana?" ujarnya.
Lili terkikik saat melihat reaksi itu. "Abisnya orangnya cantik katanya, Mas."
Kali ini Antariksa hanya menggelengkan kepala lalu segera pergi saat sadar gadis berhijab itu hanya sedang menggodanya.
Lili yang masih tertawa kecil seketika mengambil ponselnya guna menghubungi seseorang. Seorang ibu yang hampir setiap waktu menanyakan apakah anak laki-lakinya pernah menyebut-nyebut nama wanita.
"Bu, Lilia da berita seru," bisik wanita itu seolah takut Antariksa akan kembali dan memergokinya. Padahal suara motor l;aki-laki itu sudah menjauh.
"Apa, Li?" Orang di seberang terdengar sedang sibuk entah melakukan apa.
"Ini soal Mas Anta dan seorang cewek." Lili berjengit saat terdengar suara panci jatuh menimbulkan ribut.
"Kamu beneran ini? Nggak lagi bohong, kan, Li?" Tedengar suara langkah, sepertinya ibu Antariksa memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya demi fokus pada kabar yang Lili bawa. Dan gadis itu pun segera menceritakan detail yang terjadi pada Antariksa hari ini.
"Jadi namanya Marisha?"
"Iya, Bu."
"Kamu tahu alamatnya?" Lili tidak langsung menjawab karena tengah membuka buku catatan pemesan yang selalu tertulis di buku.
"Ada, Bu," jawab gadis itu yang dibalas antusias oleh orang di seberang sana.
"Makasih infonya ya, Li."
Lili segera mengangguk, tetapi—
"Bu! Ini pancinya kenapa pada di bawah!" Teriakan cempereng dari seberang membuat gadis itu tertawa geli. Lili pun memutuskan untuk menutup telepon, lumayan, sebentar lagi bonus pulsa akan masuk ke ponselnya. Hal yang dijanjikan oleh ibu Antariksa jika dirinya atau pun Joko bisa mengabarkan informasi tentang Antariksa dan pembahasan wanita.