7. Marisha atau Marsya?

1514 Kata
"Om!" Zea berlari dengan mata berbinar saat melihat kedatangan Antariksa dengan sebuah kado yang begitu besar.   Antariksa segera merentangkan tangan dan menangkap gadis kecil itu ke dalam pelukannya. "Selamat ulang tahun keponakan Om yang paling cantik." Dengan gemas diciuminya pipi Zea yang sedikit gembul.   Gadis kecil itu tertawa geli lalu melirik sesuatu yang omnya bawa. "Itu kado buat Zea, Om?"   Antariksa mengangguk dan menyorongkan bungkusan sebesar badan Zea itu dengan senyum mengembang. "Sesuai pesanan," ujarnya sembari mengusap sayang puncak kepala keponakannya yang baru ada satu ini.   "Ta, kamu bisa temenin di depan, nggak?" Karina yang tampil cantik dengan dress princes senada dengan yang Zea kenakan terlihat cemas saat mengatakan hal itu.   "Memangnya kenapa?" Antariksa bangun dari posisi bersimpuhnya dan membopong Zea untuk masuk ke restoran cepat saji yang disewa untuk acara ulang tahun ke enam gadis ini.   "Mas Argan lagi ke luar kota," ujar Karina dengan sorot kecewa yang begitu nyata terlihat.   "Dia tahu kan Zea ulang tahun?"   Karina segera mengangguk. "Tahu, tadi udah ngucapin lewat video cal."   "Tapi Zea marah sama papa," celetuk gadis berambut panjang sepunggung itu sembari melingkarkan lengan pada lerher omnya. Karina yang melihat itu segera mengambil alih kado pemberian Antariksa.   "Nggak boleh gitu dong, kan papa lagi cari uang untuk Zea sekolah, jajan, beli mainan. Kalau papa nggak kerja gimana?"   Antariksa duduk dengan Zea yang duduk di pangkuannya. Gadis itu diam dengan mata berkaca-kaca.   "Tapi papa bohong, bilangnya mau dateng pas Zea ulang tahun," bisik gadis kecil itu dengan nada kecewa. Antariksa segera mendongak untuk melihat Karina yang juga tengah menunjukkan hal sama.   "Bukannya papa bohong, tapi memang tempat kerja papa yang nggak ngebolehin papa pulang, Sayang. Nanti pasti papa juga bawain hadiah yang bagus buat Zea."   Mata Zea seketika menatap ke arah Antariksa, tetapi sepertinya bukan tertarik dengan kalimat yang omnya itu katakan. "Om juga kerja, tapi Om selalu ada kalau Zea mau Om dateng."   Antariksa meringis, lalu kembali menoleh ke arah Karina untuk meminta pertolongan. Zea memang sedang berada pada masa di mana segala macam hal harus dijawab dengan begitu jelas.   "Sayang, Om Anta sama papa kan kerjaannya beda."   "Kenapa beda? Kenapa papa nggak kerja kayak Om aja biar bisa selalu nemenin Zea?"   Antariksa menyerah, tidak mau terlibat dalam kekritisan Zea. Dan Karina dengan sabar menjelaskan pertanyaan itu.   "Apa karena papa nyari duitnya lebih banyak?" Pertanyaan baru yang muncul sebelum ada penjelasan di pertanyaan sebelumnya.   Awalnya Antariksa dan Karina tidak mengerti, hanya saling melembar pandang untuk menanyakan satu sama lain apa maksud dari kalimat itu.   "Papa kan mobilnya lebih bagus dari Om." Zea mengatakan itu dengan begitu polos. Antariksa yang mendengarnya hanya bisa tertawa geli sementara Karina bingung harus bagaimana menjawabnya.   "Iya bener banget, pekerjaan papa itu lebih menghasilkan banyak uang. Makanya bisa beliin apa aja yang Zea mau asalkan Zea jadi anak yang pinter."   "Jadi Om duitnya nggak banyak? Kalau gitu harusnya Om nggak usah beliin aku hadiah, nanti uang Om abis lagi,." Antariksa hanya tergelak, sementara Karina memejamkan mata dengan senyum geli yang terpatri.   *   "Kenapa ya, Bu, aku nggak pernah liat pemandangan kayak gini kalau Mbak Karin sama Zea lagi bareng sama, Mas." Celetukan itu muncul dari bibir seorang gadis berusia 20 tahun yang kini sedang duduk dengan ibunya.   Wanita di sebelahnya ingin mengangguk, tetapi entah mengapa seperti aneh jika melakukan hal itu. Maka, Lestari memutuskan untuk diam sembari terus memperhatikan interaksi antara menantu, cucu, dan juga anak laki-lakinya.   "Kalau mereka lagi sama Abang, malah keliatan seperti keluarga yang harmonis," celetuk Reysa lagi dengan mata tersorot penuh kepada tiga orang yang sejak tadi dirinya dan ibunya amati dari kejauhan. Lagi-lagi Lestari hanya diam meski apa yang dikatakan anak gadisnya itu memang benar.   Argantara memang lebih pendiam dari Antariksa yang mudah membaur di keadaan apa pun. Namun, untuk segi prestasi, Argan lebih menonjol dibanding Antariksa yang sering membolos saat sekolah dulu. Argan juga lebih mudah diatur, apa pun yang kedua orang tuanya katakan, jarang sekali dibantah oleh anak laki-lakinya yang satu itu. Berbeda dengan Antariksa yang memiliki sikap lebih condong seperti dirinya yang memang senang memutuskan apa pun sendiri tanpa campur tangan orang lain.   "Ibu tahu nggak kalau dulu Abang pernah suka sama Mbak Karin?" Pertanyaan yang tidak perlu dijawab. Karena hal tersebut hanya menyisakan sebuah sesal, karena fakta sepenting itu Lestari dapat tepat di hari pernikahan Karina dan juga Argantara. Itu kenapa wanita ini gencar sekali mendekatkan Antariksa dengan wanita lain. Perasaan bersalah karena tidak peka terhadap perasaan anaknya membuatnya ingin sekali melihat Antariksa bahagia dengan wanita baik. Dan jika bisa sosoknya harus seperti Karina.   "Udah, kamu itu ngomongnya ngawur mulu." Lestari memilih bangkit untuk mendekati tiga orang yang terlihat begitu akrab itu. Entah kenapa kekhawatiran itu sering muncul begitu saja. Takut jika kedekatan yang  terjadi antara Antariksa dan Karina bisa menimbulkan efek yang buruk.   "Ini pada seru banget pada ngobrolin apa, si?" Lestari mendekat dan Karina pamit untuk melihat kesiapan acara yang akan mulai sebentar lagi.   "Kalau nanti Om Anta kehabisan uang, Zea minta sama Uti, ya. Uti uangnya banyak." Meski dikatakan dengan nada berbisik tentu saja Lestari masih bisa mendengarnya dengan jelas.   "Jangan dong! Kan Uti nggak kerja, nanti Zea minta sama Eyang Kung aja," ujar gadis kecil itu dengan mata berbinar. Mata Antariksa pun melarikan diri pada sosok ayahnya yang sejak tadi tampak sibuk dengan ponselnya entah sedang menelpon siapa.   "Ayahmu lagi ada bisnis tanah sama orang," jelas Lestari menjelaskan sesuatu yang tidak terucap dari bibir anak laki-lakinya. Antariksa hanya tersenyum tipis dan kembali fokus pada Zea yang kini tengah berceloteh.   "Oh ya, Om, Mama ngundang Bu Marsya loh!" ujar Zea tiba-tiba. Hal yang langsung memancing kekepoan seorang wanita.   "Bu Marsya siapa, Sayang?" tanya Lestari dengan senyum mengembang.  Hal yang sudah bisa Antariksa artikan apa maksudnya.   "Bu gurunya Zea, Uti! Waktu itu ditraktir makan es krim sama Om." Antariksa yang mendengar itu hanya bisa berdecak dalam hati dan tidak berani menatap mata ibunya yang dia yakini tengah mengarah padanya.   "Oh, ya? Om Anta traktir es krim Bu Marsya?"   Zea mengangguk semangat. "Nganterin Bu Marsya pulang juga Uti."   Lestari terlihat semakin antusias, sementara Antariksa ingin tenggelam ke dasar bumi saat ini juga.   "Bu Marsya itu cantik?"   "Bu …," tegur Antariksa yang mulai paham ke mana arah pikiran ibunya kini berjalan. Namun, ibunya sama sekali tidak mau mendengarkan.   "Itu cuman bentuk terima kasih, Ibuku, Sayang," ujar Antariksa gemas. Hal yang memancing ibunya untuk mengalihkan fokus padanya.   "Terima kasih untuk?"   "Karin waktu itu minta tolong aku jemput Zea, waktunya telat banget, jadi Zeanya dijagainn gurunya itu lama. Masak aku nggak ngucapin makasih?" Pembelaan yang berharap bisa menghapus harapan yang terlihat jelas muncul dari sorot mata sang ibu.   "Padahal itu kan memang tugas dia sebagai guru, ngapain kamu pakai acara traktir segala?" Lestari tidak akan kehilangan akal untuk mendebat.   "Ya soalnya nggak cuman sekali dia jagain. Lagian itu udah di luar jam kerja bu gurunya loh, Bu."   Kalimat yang Antariksa ucapkan malah memancing senyum ibunya kian lebar. "Jadi maksud kamu, siapa pun yang jagain Zea kayak gitu bakalan kamu traktir? Walaupun Bu gurunya itu udah tua?"   Ibunya memang paling pandai untuk urusan mendebat. Kali ini Antariksa mati kutu dan tidak bisa menjawab.   "Berati karena gurunya cantik, kan?"   "Cantik Uti!" Zea yang menjawab dengan antusias.   "Cocok nggak Sayang sama Om Anta?"   "Bu …," tegur Antariksa yag merasa jengah. Dan lagi hal seperti itu kenapa dibahas dengan Zea?   Gadis kecil itu mengangguk kencang. "Zea pengin jalan-jalan sama Om terus sama Bu Marsya nanti."   Lestari mengulum senyum, sementara Antariksa hanya memijat pangkal hidungnya yang mulai berdenyut. Jika Zea sudah mengatakan hal itu maka sebentar lagi akan ada rengekan seperti yang gadis kecil itu ucapkan barusan.   "Ibu nggak usah ngarep dan mikir yangn enggak-enggak, deh," celetuk Antariksa dengan wajah malas.   "Memang Ibu mikir apaan?" Senyum tertahan yang wanita itu tunjukkan membuat Antariksa yakin jika ibunya sedang memikirkan hal atau sebuah rencana konyol.   "Kemarin Marisha, sekarang Marsya, kok namanya mirip, ya?" gumam Lestari yang masih bisa terdengar oleh telinga anak laki-lakinya.   "Kok Ibu bisa tahu Marisha?" tanya Antariksa curiga.   "Marisha? Marisha siapa? Orang Ibu bilang Marsya." Dari cara ibunya yang tidak berani menatapnya saja Antariksa tahu jika wanita yang sudah melahirkannya itu berbohong.   "Jelas-jelas Ibu tadi nyebut nama Marisha loh."   Lestari yang merasa keceplosan enggan mengaku. "Kamu itu yang kupingnya salah denger. Memangnya itu wanita siapa? Yang lagi deket sama kamu? Jadi yang bener Marisha apa Marsya?"   Antariksa berdecak saat merasa terjebak dengan kalimatnya sendiri,.   "Nggak papa kalau masih kandidat, mau banyak juga nggak masalah, Ta! Asalkan kalau uda nikah cukup satu aja, ya."   Memilih tidak menanggapi, Antariksa bangkit sembari memabawa Zea dalam gendongannya untuk mendekati Karina yang terlihat sibuk memeriksa semua hal. Tamu undangan yang terdiri dari bocah-bocah kecil sudah mulai menempati satu-satu kursi mini yang tersedia.   "Om, itu Bu Marsaya!" Namun, celetukan itu menghentikan langkah Antariksa. Laki-laki itu menoleh, lalu melempar senyum lebar pada wanita yang kini melambai ke arahnya. Melupakan sejenak kehadiran ibu di sampingnya yang terus mengamati perubahan ekspresi yang dirinya lakukan.   "Oh, jadi ini, cantik si, perlu Ibu bantu menyeleksi?" Namun, saat kalimat itu terucap Antariksa melunturkan senyumnya dan merasa ingin kabur saja karena yakin sebentar lagi sang ibu akan membuat dirinya malu di depan teman wanita yang tidak memiliki arti khusus di hatinya ini. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN