Acara ulang tahun itu berjalan meriah seperti yang sudah direncanakan. Antariksa terpaksa berdiri di depan guna menemani Zea dan juga Karina sebagai pengganti Argantara yang tidak bisa hadir. Tentu saja ada perasaan tidak nyaman karena beberapa tamu mengira jika dirinya adalah Argan. Namun, ada juga setitik perasaan nyaman yang sempat terselip membuat Antariksa merasa berdosa entah untuk apa. Perasaan yang dirinya miliki untuk Karina mungkin belum sepenuhnya menghilang. Hal yang berusaha untuk Antariksa anggap wajar karena wanita itu adalah cinta pertamanya. Kedekatan yang mereka jalin hari ini memaksa Antariksa untuk melintaskan kembali bayangan angan masa lalu, di mana dirinya selalu memimpikan hari ini, hari di mana dirinya bisa berdiri dengan Karina, dan memeluk anak mereka.
"Kamu cocok Gi berdiri di depan gitu," goda Marsya saat laki-laki itu turun dari panggung kecil dan mendekati Marsya yang baru saja mengobrol dengan sang ibu. Wanita yang melahirkannya itu kini sedang berfoto bersama Zea dan juga Karina.
"Cocok gimana maksudnya?" Antariksa tersenyum sembari menatap wajah Marsya yang terlihat lebih muda saat mengenakan pakaian santai seperti sekarang.
"Udah cocok jadi bapak-bapak," jawab Marsya dengan senyuman mengembang seperti biasa. Hal yang menular pada orang-orang di sekitarnya.
"Tadi kamu ngobrol sama ibu aku?"
Marsya yang sedang melihat aksi lucu anak-anak di depan sana seketika menoleh. "Yang tadi ibu kamu, ya?"
Senyum Antariksa berubah sedikit khawatir kali ini. "Ibuku, nggak ngomong aneh-aneh, kan?"
Kening Marsya mengernyit, "Tadi cuman bilang makasih karena udah mau dateng dan ngisi acara aja, si." Kehadiran wanita ini memang untuk mengisi acara agar lebih meriah karena sebagian besar tamu yang diundang adalah teman TK Zea.
"Memang kenapa, si?" tanya Marsya penasaran saat bisa menangkap embusan lega yang muncul di bibir Antariksa.
"Enggak, ibuku suka lucu soalnya," jawab Antariksa asal. Hal yang langsung memancing Marsya untuk tertawa geli.
"Berarti bakat kamu ngelucu turun dari ibu kamu, ya?"
Antariksa meringis tipis, lalu mengedikkan bahu. "Entahlah, tapi bisa jadi."
"Tadi juga nanya yang lain si sebenarnya." Mata Antariksa melebar saat itu juga. Dan Marsya kembali dibuat tertawa geli melihat semua itu.
"Nanya apa? Nggak yang aneh-aneh, kan?" tanya laki-laki itu dengan tatapan waspada.
Dengan senyuman geli Marsya menjawab, "Kalau nanya aku udah punya pasangan belum itu, aneh nggak, si?"
Antariksa kembali menunjukkan ringisan tidak nyaman. "Maaf, ya, ibu memang suka gitu."
Marsya menggelengkan kepala dengan tawa geli yang terus menguar. "Nggak masalah, biasa kok itu mah. Malah ada pertanyaan lain lagi."
Antariksa kembali menunjukkan ekspresi waspada. "Apa?"
"Beliau nanya, kira-kira aku tertarik nggak sama anak laki-lakinya yang satu ini." Marsya mengatakan itu dengan senyum tertahan, dan mata di balik lensa itu menatap serius Antariksa yang kini terlihat salah tingkah.
*
"Ibu ngapain, si?" Reysa yang sejak tadi merasa aneh dengan sikap ibunya seketika mengarahkan mata ke mana ibunya itu kini memandang.
"Mereka cocok, kan?" bisik Lestari yang sejak tadi memang tidak melepaskan pandang pada interaksi yang dibangun Antariksa dengan wanita bernama Marsya itu.
"Itu siapa memangnya, Bu?"
"Calon istri Abang kamu kayaknya." Reysa mengernyit sembari menoleh ke ibunya.
"Calon istri? Maksud Ibu pacar?"
"Ibu harap si begitu." Medengar jawaban itu Reysa hanya berdecap dan memilih pergi. Ibunya dan harapan jodoh untuk Antariksa itu memang seringnya menimbulkan sebuah kesalahpahaman.
*
"Ini kamu nggak terpaksa kan nganterin aku pulang?" tanya Marsya sembari menoleh ke arah Antariksa yang menunjukkan senyuman tipis. Namun, senyum itu melebar saat menoleh ke arahnya.
"Kalau terpaksa mau diturunin di sini?" ancam Antariksa tentu saja tidak bersungguh-sungguh.
"Kalau mau, apa Anda tega, Pak?" Antariksa hanya menanggapi kalimat gurauan itu dengan tawa kecil.
"Memang umur kamu berapa si, Gi?" tanya Marsya kali ini dengan nada serius.
"Memangnya kenapa tiba-tiba nanya umur aku?" Antariksa menyandarkan sikunya sembari mengusap dagunya dengan satu tangan yang bebas. Sementara tangan lainnya sibuk dengan kemudi.
"Penasaran aja, si, kok ibu kamu gencar banget mau jodohin kamu?"
Antariksa tersenyum tipis. "Biasalah orang tua. Kalau menurut kamu, aku umur berapa?"
Mendapat pertanyaan seperti itu, Marsya pun memutar tubuh untuk mengamati wajah Antariksa. Tentu saja hal tersebut membuat laki-laki di sampingnya sedikit tidak nyaman.
"Sekitar dua delapan atau dua sembilan," ujar wanita itu pada akhirnya.
"Berarti terlihat lebih muda dari aslinya dong?"
Marsya tampak memicingkan mata. "Memang aslinya berapa?"
"Udah kepala tiga," jawab Antariksa dengan senyuman tipis.
"Yap antes aja, si, kalau dikejar-kejar sama ibu kamu gitu. Usia udah siap nikah soalnya."
Antariksa kembali menunjukkan senyum tipis. "Ya kalau jodohnya belum ada, mau dikejar-kejar kayak apa juga nggak bakalan bisa nikah."
Marsya mengangguk setuju. "Iya, si, mungkin ibu kamu khawatir? Kata beliau tadi anak pertamanya aja udah punya satu anak. Mungkin udah kepengin nambah cucu lagi?"
Antariksa mengedikkan bahu. Argan dan Karina memang menikah di usia yang menurut dirinya cukup muda. Argan saat itu berusisa 25 tahun, sementara Karina baru saja lulus kuliah. Hal yang cukup janggal jika dipikirkan, dan Antariksa tahu apa alasannya. Tentu saja karena dua manusia itu melakukan sebuah kesalahan. Hal yang sempat membuat dirinya begitu kecewa dengan sosok Karina yang tidak bisa menjaga kesucian. Meski tidak ditakdirkan berjodoh dengannya, Antariksa selalu berharap Karina diperlakukan baik dan mampu menjaga kehormatan sampai dinyatakan halal dengan seseorang. Namun, itu bukan lagi menjadi urusannya, dan tidak seharusnya juga dirinya terlalu memikirkan masa lalu yang sudah terjadi.
"Kamu tiga bersaudara, ya?" Pertanyaan Marsya mengembalikan fokus Antariksa.
"Iya, adikku cewek satu."
"Yang satu abang kamu?"
Antariksa mengangguk. "Kita kem—" Kalimat itu terpotong oleh suara ponsel yang berdering nyaring, ternyata itu milik Marsya.
"Gi, aku turun di minimarket depan situ aja, ya, ada janji," ujar Marsya setelah selesai dengan panggilan teleponnya.
"Janjian sama pacar?" goda Antariksa sembari meminggirkan mobilnya sesuai permintaan gadis di sampingnya ini.
"Mau tahu banget, Pak?" Marsya melepas sabuk pengamannya lalu membuka pintu saat mobil benar-benar berhenti.
"Makasih, ya, Gi, udah repot-repot nganterin."
"Sama-sama."
"Oh ya," kata Marsya sebelum sepenuhnya turun dari mobil. Terlihat begitu serius membuat Antariksa pun memasang telinganya dengan baik.
"Sekadar info aja, kalau aku masih single. Dan ibu kamu tadi nanya apa aku tertarik sama kamu. Dan jawabanku adalah iya." Setelahnya Marsya turun begitu saja tanpa menunggu reaksi yang akan Antariksa berikan.
Semetara laki-laki itu hanya terdiam di tempatnya, bahkan sampai sosok Marsya pergi dengan mobil lain Antariksa masih diam di sana. Antariksa ,menggelengkan kepala saat kalimat Marsya tadi kembali melintas. Lalu tertawa geli.
"Dia pasti sedang bercanda," gumam laki-laki itu lalu memutuskan untuk melajukan kembali mobilnya.
*
Antariksa baru saja bertemu dengan penjual kucing saat dilihatnya sosok yang tidak asing itu duduk di salah satu kafe masih di area mal. Sembari menenteng keranjang kucing dengan jenis anggora itu, Antariksa berjalan mendekat. Sengaja tidak mengusik atau pun sekadar memanggil wanita yang kini tampak cantik saat sedang menjelaskan sesuatu pada pasangan di depannya, yang Antariksa tebak sebagai klien wanita yang tidak lain adalah Viona itu.
Sekitar satu jam mungkin pertemuan itu berakhir, dan mata Viona tampak melebar saat menemukan keberadaannya.
"Re? Ngapain kamu?" Viona mendekat dengan senyuman yang terlihat begitu cantik dan juga elegan. Wanita ini mau dilihat dari segi mana pun akan terlihat cantik dan nyaris sempurna.
"Abis ngais rejeki," ujar laki-laki itu sekenanya sembari mengedik ke arah kandang kucing yang berada di kakinya.
Mata Viona berbinar saat melihat hewan lucu itu tengah tertidur nyaman. "Kamu jual apa beli untuk pelihara?" Sedikit banyak wanita itu paham apa yang kini Antariksa geluti sebagai pencari nafkah.
"Tadi beli, mau dijual," jawab laki-laki itu terus memindai wajah cantik di depannya. Mata Viona terlihat begitu jernih dan menarik saat ini.
"Kamu suka kucing?" Antariksa menanyakan itu karena memang Viona menunjukkan sebuah ketertarikan pada hewan di depannya ini.
"Aku penyuka binatang kalau kamu mau tahu." Viona mengatakan itu dengan senyuman yang begitu manis. Hal yang membuat Antariksa ingin selalu memerangkap wanita itu untuk dirinya miliki seutuhnya. Namun, sikap Viona yang seperti terus menarik ulur dirinya membuat Antariksa hanya bisa terus berjuang.
"Terkhusus kucing?" Viona menjawab pertanyaan itu dengan anggukan.
"Mau melihara satu?" tanya Antariksa lagi kali ini mata lentik itu menatapnya.
"Mau, si, tapi kesibukanku nggak bakalan bisa dipakai untuk ngerawat binatang."
"Ya sudah, nanti meliharanya kalau sudah nggak sibuk aja." Antariksa mengatakan itu dengan senyum mengembang.
"Kapan nggak sibuknya, Re?" Viona menyelipkan rambut panjang bergelombangnya ke belakang telinga. "Kalau masih kerja begini susah untuk cari waktu nggak sibuk."
"Kecuali …," lanjut wanita itu sengaja menggantung kalimatnya.
"Kecuali?"
Viona malah tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya. "Kamu nggak pesen apa-apa?" kata wanita itu saat sadar meja Antariksa kosong.
"Enggak." Laki-laki itu terkekeh kecil.
"Ih, untung nggak diusir sama pelayannya." Viona mengulum senyuman.
"Ya udah mendingan pergi aja sebelum diusir." Antariksa bangkit dari kursinya begitu pun dengan Viona.
"Kamu balik kantor?" tanya Antariksa setelah keduanya keluar dari kafe.
Viona mengangguk, "Masih ada kerjaan soalnya."
"Aku antar."
"Boleh."
Antariksa pun segera memencet kunci mobil dan membukakakan satu pintu untuk Viona.
"Re," panggil wanita itu membuat alis Antariksa terangkat sebagai tanda tanya.
"Soal yang tadi." Viona meringis gugup saat mengatakan itu. Hal yang tentu saja membuat seorang Antariksa bingung dengan apa yang sebenarnya ingin wanita ini tanyakan.
"Aku rasa aku nggak akan sibuk setelah menikah nanti, soalnya aku mau cari pekerjaan baru yang bisa membuat aku tetep bisa menjadi wanita karir, tapi tetep bisa mengurus rumah tangga."
Antariksa diam karena sedang mencerna maksud dari kalimat yang wanita itu katakan.
"Dan aku suka laki-laki yang punya jam kerja fleksible kayak kamu." Setelahnya wanita itu masuk ke mobil, menutup sendiri pintunya. Membiarkan Antariksa dengan segala tebakan yang kini ada di kepalanya.