9. Sumpah Konyol

1459 Kata
Antariksa terus memikirkan arti dari kalimat yang Viona katakan siang tadi. Ingin membenarkan isi kepalanya kini, tetapi laki-laki itu takut salah. Namun, mau dipikir berapa kali pun, rasanya Viona memang seperti memberi kode jika tengah menyukainya.   "Bengong mulu." Reysa yang baru saja muncul dengan sepiring rujak buah, menjejalkan sepotong mangga asam ke mulut kakaknya.   Antariksa hanya berdecak, lalu meletakkan manga di mulutnya kembali ke piring. Reysa pun seketika melotot kesal.   "Abang jorok!" teriak gadis itu sembari membuang potongan mangga tadi ke tempat sampah yang berada di sisi teras. Keduanya memang sedang duduk sembari menikmati sepoi angin malam di depan rumah.   "Rey." Mengabaikan kejengkelan adiknya, Antariksa lantas memutar sedikit posisi duduknya agar bisa berhadapan  dengan adiknya yang sedang menikmati rujak buah di malam hari.   "Kenapa?" Gadis itu ikut menoleh karena tahu kakak yang dirinya panggil abang ini seperti ingin mengatakan hal yang serius.   Ngomong-ngomong soal panggilan, Antariksa memang sengaja Reysa panggil abang karena sikapnya yang sedikit urakan, entah mengapa gadis itu merasa sebutan abang lebih cocok. Sementara Argantara yang kalem, lebih cocok dipanggil mas.   Ayah mereka memang keturunan betawi dan ibunya asli jawa. Dulu kedua kakaknya Reysa panggil mas, tetapi membingungkan saat keduanya dalam kondisi duduk bersama. Itu kenapa Reysa memilih untuk membedakan panggilan.   Kembali pada topik, Reysa masih sabar menunggu kakaknya yang terlihat seperti berpikir keras untuk mengatakan sesuatu.   "Ih, Abang nih mau ngomong apa, si?" kesal Reysa saat tidak satu kalimat pun muncul dari bibir kakaknya. Rasa penasaran dan sensasi pedas di mulut sungguh menjadi perpaduan yang membuat mulut gadis itu ingin terus mengomel.   "Abang lagi bingung," ujar Antariksa bertele-tele.   "Karena?" Meski gemas, Reysa berusaha untuk tetap sabar.   "Tadi siang ada yang ngomong gini sama Abang." Antariksa menjabarkan kalimat Viona yang masih teringat jelas di kepalanya.   "Itu si dia lagi ngode, masak gitu aja nggak paham, payah banget," cibir Reysa sembari mencolek sambal yang tersisa di piring karena potongan buahnya sudah habis. Melihat itu Antariksa bergidik geli, tetapi tidak berkomentar apa pun karena lebih tertarik dengan kalimat yang adiknya ucapkan tadi.   "Sebenernya Abang juga mikir gitu, cuman takut kegeeran aja." Antariksa mengatakan itu dengan senyum yang menghias. Melihat hal itu Reysa tentu saja merasa ada yang aneh.   "Abang naksir cewek itu, ya?" tebak gadis itu tepat sasaran karena tanpa ragu Antariksa mengangguk.   "Cantik banget pasti?" Lagi, Antariksa mengangguk tanpa ragu.   "Marsya atau Marisha?"   "Viona," jawab Antariksa cepat. Mendengar satu nama baru tentu saja mata Reysa melebar.   "Buset! Baru lagi?"   Antariksa berdecak mendengar reaksi berlebihan itu. "Cuman satu, baru lagi apanya?"   "Nah itu yang Marsya sama Marisha siapa?" Reysa terus mengamati wajah kakaknya yang terlihat biasa saat dirinya menyebut kedua nama itu. Sepertinya dua wanita ini tidak memiliki tempat khusus, Vionalah yang sedang kakaknya incar kali ini.   "Mereka kenalan biasa, nggak sengaja kenal juga kok. Kamu tahulah ibu kayak apa."   Reysa mengangguk mengerti, ibunya memang akan selalu heboh jika Antariksa terdengar dekat dengan seorang wanita. "Jadi seriusnya sama Viona?"   Senyum muncul di bibir Antariksa, membuat adiknya yakin jika wanita bernama Viona itu sudah menempati tempat khusus di hati abangnya. "Maunya si gitu, tapi Viona ini agak susah didapetin."   "Justru yang kayak gitu yang bagus, nggak jual murah. Bukannya cewek yang kayak gitu bikin penasaran?"   "Iya, bener. Makanya kamu kalau sama cowok jangan murah-murah." Antariksa menarik hidung adiknya. Reysa pun berdecak kesal sembari menepis tangan kakaknya.   "Kenapa jadi aku?"   "Yah kamu kan cewek. Udah punya pacar, kan, ngaku," goda Antariksa yang sebenarnya pernah melihat adiknya dibonceng sebuah motor besar, tetapi hanya berani turun jauh dari pintu gerbang komplek. Alasannya apalagi jika bukan takut dengan ceramahan ibunya.   "Siapa?" Reysa mencoba mengelak, tetapi hal itu malah ditertawakan oleh kakaknya.   "Abang pernah lihat loh yang pakai ninja merah itu."   Mata Reysa sontak melebar, tetapi selanjutnya memilih untuk bersikap biasa saja meski susah. "Kenapa jadi bahas aku, kan tadi lagi bahas Viona."   "Viona siapa lagi ini?" Tentu saja suara itu bukan berasal dari dua orang yang sejak tadi mengobrol. Namun, dari Nyonya rumah yang langsung menunjukkan wajah kepo saat mendengar satu nama wanita kembali tersebut.   "Pacarnya Abang, Bu." a mengikik geli saat melihat tatapan penuh peringatan dari kakaknya.   "Kamu laku juga ya, Ta. Ibu pikir nggak ada yang mau," ujar ibunya. Antariksa hanya bisa berdecak kesal dalam hati.   "Ibu ini jahat banget sama anaknya, nggak tahu apa kalau dulu Abang ini idola kampus." Reysa mengatakan itu sembari tertawa kecil.   "Saking banyaknya idola sampai nggak laku-laku sampai sekarang?" sindir sang ibu tidak sungguh-sungguh. Reysa hanya tertawa dan Antariksa diam di tempat.   "Tapi Ibu penasaran sama Viona ini." Lestari menarik lengan Reysa agar berdiri dan menempati tempat duduk untuk bisa menginterogasi anak laki-lakinya.   "Bu, nggak usah mulai." Antariksa mulai malas karena meski Viona adalah target, tetapi belum ingin ia ceritakan pada sang ibu yang pasti langsung akan memupuk harapan. Dirinya hanya takut akan kembali membuat kecewa, meski keyakinan pada pilihannya yang satu ini cukup besar.   "Ya kan, biar Ibu bisa bantu doa."   Antariksa meringis, lalu mendesah kecil. Beruntung ponselnya berdering dan memunculkan salah satu nama teman sehingga bisa kabur tanpa perlu mencari-cari alasan.   *   "Makasih banget loh Regi, udah susah-susah bantuin kamu," ujar Marisha tulus sembari memandang bangunan rubuh di depannya yang sebentar lagi akan dibangun.   Antariksa yang kini berdiri di samping wanita itu tersenyum tipis. "Aku cuman bantu nyari orang aja kok." Telepon yang semalam dirinya dapat adalah kabar tentang donatur yang sudah temannya dapat untuk membantu pembangunan panti ini.   "Tetep aja, kamu ada andil di balik semua ini." Marisha menoleh dengan senyuman, dan langsung mengalihkan pandang saat laki-laki di sampingnya balik menatapnya.   "Sama-sama kalau gitu," ujar Antariksa pada akhirnya.   "Oh, ya, maaf sebelumnya, kamu yang ngelola panti ini?" tanya Antariksa hati-hati setelah hening yang begitu lama.   "Bukan," jawab Marisha dengan gelengan ringan, ada senyuman malu-malu seperti biasa yang wanita itu tunjukkan. "Dulu aku pernah tinggal di panti ini," lanjut wanita itu.   Antariksa yang mendengar itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa memperpanjang obrolan karena tahu hal ini akan menjadi pembahasan yang sensitif. Dan lagi, bukan ranahnya juga untuk mengetahui kehidupan Marisha lebih jauh lagi.   "Oh ya, aku ada sesuatu buat kamu," ujar Marisha sembari berjalan ke arah mobil panti yang tadi membawanya ke tempat ini.   Antariksa hanya berdiri di tempatnya, menunggu Marisha yang seperti tengah mengambil sesuatu. Tidak lama, wanita itu kembali dengan membawa kotak, sepertinya berisi makanan.   "Ini aku ada kue yang aku buat sendiri, anggap aja buat ucapan terima kasih." Wanita itu tersenyum malu, bahkan tidak berani menatap wajah lawan bicaranya.   Antariksa mengangguk, lalu menerima kotak itu. "Harusnya nggak usah repot begini, tapi makasih loh." Laki-laki itu membuka kotak tersebut, dan aroma kopi langsung menguar.   "Itu roti kopi, ada banyak varian rasa. Mudah-mudahan kamu suka," ujar Marisha dengan ringisan khawatir, takut Antariksa tidak menyukai apa yang dirinya buat.   Jauh dari kekhawatiran yang wanita itu rasakan, Antariksa malah tersenyum lebar. "Ini justru favorit aku banget loh. Kamu tahu aja, aku ini penikmat kopi."   Marisha tampak tersenyum senang mendengar hal itu. "Berarti favorit kita sama. Aku juga pecinta kopi."   "Beneran?" tanya Antariksa dengan senyuman aneh, malah seperti tengah mengingat sesuatu.   Marisha mengangguk sembari menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. "Kalau gitu, nanti wajib mampir ke kafe yang lagi aku rintis," ujarnya.   "Kamu lagi buka kafe?" tanya Antariksa mengabaikan rasa aneh yang kini menjalari hatinya. Ini disebabkan karena kalimat yang tadi Marisha ucapkan tentang pecinta kopi.   Marisha mengangguk masih dengan senyuman manis, jenis senyum yang akan membuat teduh siapa pun yang ada di sekitarnya. Dan sepertinya, Antariksa mulai terpengaruh. "Kecil-kecilan kok, dan nanti, sebagian menunya terbuat dari olahan kopi."   "Kalau begitu aku wajib mampir nanti."   "Mungkin sekitar bulan depan buka, lokasinya nggak jauh dari toko ayam kamu."   Antariksa kembali menunjukkan jenis senyum yang sama. "Jadi kamu buka usaha katering sama kafe?"   "Katering itu cuman kalau ada pesanan, kafe ini yang aku utamain."   Antariksa hanya mengangguk, tanpa sadar jika obrolan kali ini terasa lebih nyaman dan juga berjalan lebih banyak dari pada pertemuan mereka sebelumnya.   "Kayaknya aku harus balik sekarang." Antariksa memeriksa jam yang melingkar di lengan kanannya saat ingat hari ini ada janji bertemu seseorang yang akan membeli kucingnya.   "Iya, silakan, sekali lagi terima kasih." Marisha mengucapkan itu dengan ekspresi lain, tidak ada genture malu-malu seperti yang biasa wanita itu tunjukkan. Hal yang entah mengapa membuat Antariksa sedikit gelisah dibuatnya.   Laki-laki itu pun hanya mengangguk dan mulai berjalan ke arah mobilnya terparkir. Dalam diam mencoba menghapus kalimat yang terus melintas di kepalanya. Ini adalah sumpah yang pernah dirinya ucap di masa lalu yang sempat terlupa, tetapi kembali teringat saat Marisha mengatakan jika wanita itu juga pecinta kopi.   'Pokoknya, gue kepengin punya istri yang sama-sama pecinta kopi. Biar setiap hari rumah gue aromanya kopi yang menenangkan. Kalau enggak, mendingan gue nggak usah nikah sekalian.'   Antariksa memukul dahinya dengan kepalan tangan. Merasa bodoh karena mengkhawatirkan sumpah yang dibuatnya saat masih remaja. Bukankah waktu itu semuanya seolah berjalan tanpa pikiran? Yah, itu hanya sumpah konyol yang tidak akan mempengaruhi apa pun.        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN