Suara alunan musik yang merdu, menambah kesan romantis dalam suasana cafe yang temaram. Niat hati ingin mencari tempat yang sepi akan tetapi malah terlihat seperti pasangang yang sedang memadu kasih. Aku tak tau apa yang akan terjadi jika Om Arfan memergokiku, pasti ia akan salah paham. Serambi menunggu pesanan datang, aku sengaja mengalihkan pandanganku darinya agar tak bertatapan langsung dengan matanya, aku takut hal itu akan membuatku kembali luluh. Disaat seperti inilah aku harus menetapkan hatiku pada Om Arfan, aku tak ingin menjadi istri durhaka. Walaupun hingga saat ini aku belum menjadi istri dari Abbasya Arfan yang sesungguhnya. “Dek, lihat Kakak,” ia meraih tanganku. Segera ku tepis tangannya, “maaf Kak, bukan muhrim!” “Lebih baik kamu marah dari pada mendiamkan aku, jujur it

