LXIV

1127 Kata

Bel pulang berbunyi nyaring, kali ini Haikal tersenyum lebar, tangannya dengan cepat memasukkan beberapa buku ke dalam tas. “Mau langsung pulang? “tanya Dzawan saat melihat Haikal sudah berdiri dari bangkunya, menyandang tas di punggung dengan senyum seterik matahari siang. Hari ini Haikal bisa langsung pulang karena tidak ada jadwal ekskul. “Iya, gue mau pulang. Duluan ya, takut gak dapat angkot kalo lama.” “Eh, Lo naik angkot?” tanya Dzawin, Haikal mengangguk tanpa menoleh. “Gak mau bonceng tiga bareng kita aja? Lumayan hemat uang. Uangnya bisa buat beli cokelat.” Dzawin cekikikan. “Gak deh, gue masih sayang sama nyawa,” sahut Haikal terus berjalan keluar kelas. “Kabarin gue ya kalo Lo gak lagi sayang sama nyawa Lo, barang kali mau di lelang.” “Nyawa Lo aja gue lelang! “ Haik

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN