LXIII

2252 Kata

“Cokelat...” Langkah Haikal terhenti. Kepalanya refleks terangkat pada tangan yang menyodorkan cokelat ke arahnya. “Biar gak sedih lagi,” tambah gadis yang sekarang menundukkan pandangannya, hanya tangannya yang masih berada di posisi tadi. “Buat aku? “ tanya Haikal. “Iya.” “Kenapa? Kemarin kan udah.” “Hem, anggap itu hadiah. Jadi kamu gak bisa nolak,” katanya pelan. Namun seketika mampu merubah lipatan pada dahi Haikal menjadi senyum geli. Pasalnya, meski bukan anak pesantren Haikal pernah mendengar hadis kalo kita tidak boleh menolak hadiah. “Oh, kalo gitu aku terima. Btw, makasih ya.” “Iya, sama-sama.” Gadis itu mengangkat pandangan hanya memastikan cokelat itu diambil dengan selamat. “Kalo gitu, aku balik ke kelas ya...” “Eh, jadi kamu ke sini cuman mau kasih cokelat ke a

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN