LXIX

1259 Kata

“Kenapa Lo?” tanya Dzawin. Terheran-heran, melihat Haikal berjalan gontai masuk ke kelas, mata sayup dan kantong matanya yang sedikit sembab, sebenarnya sudah menjelaskan banyak hal. Haikal begadang tadi malam. Haikal menjatuhkan dirinya di bangku, menenggelamkan kepalanya di atas tas yang malah ia letakan di atas meja. “Kak Fauzan maksa Lo temenin main basket ya? “ tanya Dzawan. “Bukan.” “Terus kenapa? “ “Gue tahlilan ke rumah teman.” “Eh, perasaan kita gak buat tahlilan deh,” celutuk Dzawin. Haikal mendengus, malas meladeni pertanyaan panjang duo kembar. “Biar gue tebak... teman Lo itu—“ Dzawin tiba-tiba berhenti berbicara. “Fatiah...” “Hem...kok Lo tahu sih?” gumam Haikal, kepo, tapi ngantuk. Kepalanya tetap rebahan di atas tas. “Eh, bukan itu maksud gue. Buruan Lo bangu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN