Bab 1 Bos Besar
"Mulai hari ini, aku talak kamu! Kemasi barang-barangmu dan pergi dari rumahku sekarang juga!"
Suaranya begitu lantang terdengar. Bagai petir yang menyambar di siang bolong. Meruntuhkan pertahanan seorang wanita yang tengah duduk di tepi ranjang kamarnya.
Wanita itu menatap ke arah seorang lelaki yang berdiri dengan angkuh di hadapannya, ia baru saja mengeluarkan ajimat berduri, kalimat sakral yang seharusnya tidak pernah diucapkan dalam berumah tangga.
"Apa? Kamu mau menceraikanku?" tanyanya.
Suaranya sedikit tercekat. Menahan sakit yang sudah mulai menjalar ke hati.Wanita itu tidak menyangka jika sang suami mengucapkan kalimat itu dengan begitu lantang dan menantang.
"Aku rasa telingamu tidak tuli dan aku tidak perlu mengatakan untuk kedua kalinya!"
Ucapannya cukup tegas dan menohok. Wajah angkuhnya sama sekali tidak menunjukkkan belas kasihan dan rasa bersalah.
"Aku ...."
"Pergi dari rumah ini, sekarang!"
***
Seorang wanita berparas cantik baru saja masuk ke sebuah ruangan dan langsung menjatuhkan tubuh bagian bawahnya dengan cepat dan menopangkan wajahnya ke meja dengan raut malas dan tidak bersemangat. Seseorang yang memperhatikannya semenjak tadi melangkah mendekati sambil membawa dua gelas kertas berisi kopi.
"Pagi-pagi udah lesu, kenapa?"
Reva, gadis bertubuh mungil dengan rambut sebahu berkacamata itu berdiri di hadapan perempuan yang tengah memejamkan kedua matanya tersebut. Mentapnya dengan penuh rasa curiga. Membuatnya membuka mata dengan cepat dan mengangkat kepala, serta menyandarkan tubuhnya pada kursi.
"Kamu mengejutkan aku aja, Va."
Reva menghela napas sedikit kasar mendapatkan jawaban datar dari sahabat, sekaligus rekan kerjanya yang tampak tidak bersemangat itu.
"Nih, kopi. Biar melek tuh mata."
Reva meletakkan segelas berisi latte di meja. Wanita berparas cantik dengan rambut sepinggang yang dikuncir tinggi dan diberi poni tipis dengan menyisakan sedikit anak rambut di kanan-kiri telinganya itu mengambil dan menyeruput sedikit kopi tersebut, lalu meletakkan kembali di meja.
"Terima kasih, Va."
"Oh, iya. Aku dengar ... akan ada Bos Besar yang datang ke kantor ini. Kabarnya, dia masih muda dan tampan, tapi ... dingin dan katanya, dia masih singel."
Reva menjelaskan dengan begitu antusias tentang sosok Bos yang akan datang ke kantor mereka. Wanita cantik itu menautkan kedua alisnya, ia tersenyum tipis, seraya tak percaya dengan perkataan sahabatnya yang suka bergosip itu.
"Kenapa ketawa? Kamu nggak percaya sama ucapanku? Atau kamu ...."
"Reva, Reva. Kamu ini suka sekali bergosip. Bos Besar itu tinggal di luar negeri, dia tidak pernah ke sini. Sudah tiga tahun semenjak perusahaan ini di akusisi, aku belum pernah melihat walau sekali saja batang hidungnya. Sudahlah, Va. Sebaiknya, kamu kembali kerja, sebelum kena omel Bu Rena."
Wanita itu menyela kalimat Reva, tidak ingin berlama-lama mendengar ocehan Reva dan mencoba mengingatkan gadis mungil yang terkadang membuat dirinya pusing kepala itu.
"Kamu dikasih tahu nggak percaya. Padahal, ini kesempatan bagus, loh. Kamu bisa dekat dengan pria kaya. Siapa tahu aja, dia itu lebih baik dari si kutu kupret itu. Kamu juga bisa deket-deket dengannya. Secara, kamu itu cantik, penampilan menarik. Good locking, mana ada sih yang nggak kepincut sama kamu. Kamunya aja yang gak pernah sadar, " oceh Reva.
"Reva! Stop, ya! Ini tuh udah yang ke seratus sekian kalinya kamu jodoh-jodohin aku. Jangan terlalu tinggi berkhayal, nanti kalau jatuh akan sakit sekali terasa."
"Iya, sih. Tapi ...."
"Udah, ya. Lanjut kerja aja daripada jodohin aku terus."
Mereka mengakhiri perdebatan dan kembali bekerja. Membuat wanita itu sedikit lega karena Reva sudah tidak lagi mengganggu dirinya.
***
Jeno tampak kesal dan menghempaskan seluruh isi meja, kedua tangannya mengepal dan meninju meja cukup kuat. Sorot matanya terlihat tajam. Semburat di wajahnya tampak merah padam. Menandakan kemarahan di sana.
"Sial! Kenapa aku tidak bisa melupakannya? Padahal, aku sudah lama berpisah darinya."
Jeno bergumam dengan napas sedikit tersengal menahan amarah. Seseorang melangkah mendekat setelah ketukan pintu tak di dengar.
"Maaf, Tuan. Saya lancang masuk karena takut terjadi sesuatu dengan Tuan."
Sean, asisten pribadi Jeno tampak tersengal karena setengah berlari menghampiri Jeno yang khawatir setelah mendengar kegaduhan dari ruangan Jeno. Terlihat berantakan sekali tempat itu. Semua menghambur di lantai dan ada serpihan gelas yang ikut terpental menjadi sasaran kemarahan Jeno.
"Aku baik-baik saja. Bagaimana? Apa ada kabar tentang wanita itu?"
Jeno melangkah pelan dan duduk di kursi kebesarannya. Menatap tajam ke arah Sean yang masih berdiri dan mengatur napasnya.
"Nyonya Muda masih bekerja di tempat yang sama. Sampai sekarang, saya belum melihat Nyonya bersama laki-laki lain. Sepertinya, Nyonya masih sendiri semenjak berpisah dengan Tuan."
Asisten pribadi Jeno menjelaskan cukup rinci prihal wanita yang Jeno cari. Meski Jeno sudah berpisah dengannya. Namun, ia masih belum bisa melupakannya dan terus berusaha untuk mencari informasi tentang wanita itu.
"Selidiki terus wanita itu. Berikan informasi sekecil apa pun. Jangan sampai ada yang terlewatkan!"
"Baik, Tuan."
Jeno memberikan perintah kepada Sean. Pria hitam manis itu pun pamit undur diri usai memberi laporan kepada Jeno.
~~~
Sementara di kantor lain, tampak semua staf dan karyawan sedang berjajar di pinggir lobi, di tengahnya terdapat karpet merah yang membentang dari ujung pintu masuk hingga depan lift. Seorang pria berwajah tampan, dengan rahang kuat, berhidung mancung, berkulit putih dengan mata setajam elang terlihat memasuki lobi dengan diikuti seorang asisten pribadi di sampingnya. Sementara di belakangnya terdapat sekelompok orang berseragam serba hitam mengekor.
Terihat gagah, berwibawa, dan memesona. Semua mata tertuju dan berdecak kagum dengan ketampanan pria itu yang tampak cool . Melangkah dengan tenang dan elegan. Langkahnya terhenti ketika netranya menangkap sosok wanita cantik di hadapannya tersebut, lalu kembali melangkah menuju lift.
Semua kembali ke ruangan masing-masing dan kembali bekerja. Wanita itu tampak sedikit pucat dengan tatapan pria tampan yang ia temui di lobi.
"Yang habis di tatap Bos sampai pucat begitu wajahnya."
Reva menghampiri wanita yang tengah melamun itu dan menggodanya. Membuatnya sedikit terperanjat dan menghela napas sedikit kasar.
"Kamu itu, bisa nggak kalau nggak mengejutkan aku?"
Wanita yang terkejut itu melayangkan tatapan tajam ke arah Reva, membuat gadis mungil itu semakin gemas dan tersenyum penuh arti.
"Aku ...."
"Naurin! Kamu disuruh ke ruangan Bos sekarang!"
Rena, menejer divisi grafis datang menghampiri Reva dan Naurin yang tengah berbincang.
"Apa? Ke ruangan Bos? Ada apa?"
Naurin, wanita yang selalu menjadi obyek godaan Reva mengulang kalimat Rena dengan terkejut dan penasaran.
"Saya tidak tahu. Sebaiknya, kamu cepat ke sana sebelum Bos Besar marah."
Naurin pun tak mau membuang waktu, ia lekas melangkah menemui Bos Besar itu dengan hati penuh tanya dan gelisah.
~~~
Tangan Naurin bergetar ketika hendak mengetuk pintu ruangan itu saat tiba di sana. Wanita cantik itu tampak ragu melakukannya. Memejamkan kedua matanya sejenak dan menghela napas. Kemudian, ia memberanikan diri mengetuk.
"Masuk!"
Suara bariton dari dalam ruangan itu yang meski pelan, tetapi mampu membuat jantung Naurin berdetak dua kali lebih cepat dari normal. Serasa ingin lepas dari tempatnya.
Naurin membuka pintu perlahan dan melangkah pelan mendekat ke arah pria yang duduk di kursi kebesaran memunggunginya.
"Pe--permisi, Tuan. A--ada apa Tuan memanggil saya?" tanyanya.
Naurin merasa gugup. Debaran di jantungnya semakin kuat dan ia hampir tidak mampu mengendalikannya. Pria itu membalikkan kursi dan tubuhnya ketika mendengar suara Naurin yang begitu lembut dan terdengar manja.
"Lama tidak berjumpa Nona Naurin."