Bab 2 Bertemu Dengannya

1128 Kata
Naurin menelan salivanya dan tertunduk, tidak berani menatap ke arah pria tampan di hadapannya itu. Pemuda tersebut berdiri dan melangkah mendekat ke arah Naurin. Wanita tersebut memundurkan sedikit tubuhnya tanpa melirik sedikit pun ke arah sang pria. "Kenapa menunduk dan menghindariku? Apa ada yang ingin kamu katakan padaku?" Pria itu menatap Naurin, meski wanita tersebut masih belum berani menatapnya, ia terus mendekat dan hendak menyentuh Naurin. Namun, dengan cepat Naurin menghindar dan mendongak perlahan. Naurin berusaha mengatur napasnya agar tetap tenang dan menelan dengan susah payah salivanya. Meremas ujung pakaiannya. Pria itu menghela napas sedikit kasar dan tersenyum tipis. "Masih seperti dulu. Diam jika ditanya dan meremas ujung pakaian. Tidak berani menatap dan berusaha menghindar. Tidak bisakah kamu menggantinya dengan trik lain?" Kalimatnya memang lembut, tetapi cukup mengena di hati Naurin. Pria itu meraih cepat kedua tangan Naurin dan menggenggamnya erat. Wanita itu berusaha melepaskan. Namun, pemuda tersebut semakin erat menggenggamnya. "Ma--maaf, Tuan. Jika tidak ada yang ingin Tuan bicarakan, saya akan kembali bekerja." Dengan cepat, saat pria itu lengah, Naurin melepaskan genggaman. Berkata sedikit gugup. Pemuda tampan nan memesona, meski terlihat dingin tersebut kembali menatap Naurin yang berusaha berpaling. Kemudian tersenyum miring. "Berpura-pura tidak saling mengenal dan acuh. Kamu pikir, trik kamu itu bisa mengecoh saya?" "Jika tidak ada yang ingin Anda bicarakan, saya permisi." Dengan cepat pria itu meraih tangan Naurin dan medorong sedikit tubuhnya ke arah dinding. Kemudian menguncinya. Mengangkatnya ke atas, lalu menahannya dengan sebelah tangan. Sebelahnya lagi ia gunakan untuk meraih dagu Naurin dan memaksanya untuk menatap dirinya. "Lepaskan saya!" pekiknya. "Apa karena kamu sudah menikah, lantas saya tidak boleh menyentuhmu?" tanyanya dingin. "Saya ...." "Masih mau berpura-pura dan bersikap dingin serta acuh padaku?" Pria itu menyela kalimat Naurin dan terus mengintimidasi dirinya. Kedua matanya terus menatap Naurin, seolah meminta penjelasan dari wanita berparas cantik nan memesona itu. "Maafkan saya." "Ada yang mau kamu jelaskan padaku?" "Tolong lepaskan saya dulu. saya akan jelaskan semua padamu." Pria itu melepaskan cekalannya dan menuntun Naurin duduk di sofa. Kemudian, ia mengambil dua botol air mineral dan membuka tutupnya. Menyerahkan satu kepada Naurin. "Minum dulu untuk menenangkan dirimu," pintanya. Naurin menenggak air tersebut hingga habis setengah botol. Kemudian, meletakkan botol di atas meja. "Bisa jelaskan sekarang?" "Saya---saya mau minta maaf kepada Anda atas kejadian tiga tahun lalu. Semua begitu tiba-tiba hingga saya terlalu tergesa mengambil keputusan. Semua salahku, tidak seharusnya saya melakukan itu padamu. Sekarang, Anda pasti marah dan ingin membalas dendam padaku." Naurin menjelaskan dengan setenang mungkin, meski hatinya berkecamuk dengan pikirannya. Pria itu menelan ludah dan menghela napas sedikit kasar. Kemudian, menatap Naurin. "Saya sudah tahu semua yang sebenarnya terjadi. Saya tidak menyalahkanmu soal itu. Maaf, saya terlambat mengetahuinya hingga tidak bisa mencegah pernikahanmu dengan lelaki itu," sesalnya. Naurin mendongak. "Anda tidak salah. Justru saya lah yang bersalah. Anda memang pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dariku." Pria itu terbelalak. Menatap Naurin penuh arti. Tampak terkejut dengan kalimat terakhir Naurin. "Wanita lain? Bukannya kamu yang menikah dengan pria lain? Tapi, kenapa tubuhmu tampak kurus? Wajahmu juga terlihat sedikit pucat. Lingkar matamu sedikit hitam. Apa kau kurang istirahat? Kenapa harus bekerja?" Andra, nama pria itu. Mencecar Naurin, meluapkan rasa penasarannya kepada wanita di hadapannya tersebut yang sudah sejak awal bertemu ia pendam. Naurin tersenyum kecut, meratap getir, kala ia harus mengingat pernikahannya dengan lelaki yang salah dan membiarkannya tenggelam ke dalam jurang penderitaan. "Apa yang kamu tertawakan?" "Saya sedang menertawakan hidupku. Anda pun pasti tertawa melihat nasibku sekarang, bukan?" ucapnya dingin. "Saya tidak mengerti maksudmu. Saya ...." "Maaf, Tuan. Saya ...." "Kemarilah!" perintahnya. "Ada apa?" lanjutnya. ""Begini, Tuan ...." "Emm, Sa--saya prmisi dulu, Tuan." Zio datang tiba-tiba dan langsung menghampiri Andra setelah mengetuk pintu dan mendapat izin darinya. Naurin berdiri dan pamit undur diri. Ini kesempatan bagus untuk Naurin melarikan diri dari Andra. "Ehh ...." Belum sempat Andra menyelesaikan kalimatnya, Naurin dengan cepat melangkah, sebelum Andra menahannya kembali. "Dasar wanita!" umpatnya. ~~~ Naurin menghela napas lega dan menjatuhkan tubuh bagian bawahnya ke kursi. Reva yang terkenal sebagai Miss Kepo itu menggeser kursinya dan mendekat ke arah Naurin. "Yang habis ketemu Bos. Mukanya tegang sekali. Kenapa lama? Kalian melakukan apa saja?" Jiwa keingin tahuannya meronta-ronta ingin segera meminta dijelaskan. Naurin menautkan alisnya sambil menggeleng. Meraup wajah Reva yang semakin mendekat ke arahnya. "Bisa di rem nggak mulutnya?" kesal Naurin. "Kok kesal, sih? Jangan-jangan kamu ...." "Ngomong lagi aku cabein mulut kamu," ancamnya. "Galak amat, sih. Awas ya, kalau kamu sampai beneran jatuh cinta sama Bos itu," balas mengancam. ~~~ "Selidiki segera tentang Naurin, terutama tiga tahun belakangan ini!" perintah Andra. "Baik, Tuan." "Naurin, kali ini, aku tidak akan melepaskanmu," gumam Andra. ~~~ Seorang wanita seksi menerobos masuk ke dalam ruangan Jeno, membuat pria itu terkejut dan sedikit kesal, ia langsung mendekati Jeno dan duduk di pangkuannya, lalu bergelayut manja, membuat Sean yang berada di sana merasa risih. "Saya permisi, Tuan." Sean keluar ruangan dengan sedikit kesal dan menghela napas kasar. Merasa heran dengan kelakuan majikannya itu. Sebenarnya apa maunya Tuan Jeno ini? Aku diminta mengawasi wanita itu, tapi dia malah main gila dengan Nona Wita. Sean membatin sambil melangkah pergi meninggalkan ruangan Jeno. Meski ia heran dengan kelakuan pria itu. Namun, Sean tidak ingin mencampuri urusan pribadi bosnya tersebut. "Kenapa datang kemari?" tanya Jeno dingin. Wanita seksi itu turun dari pangkuan Jeno dan duduk di meja. Membuka dua kancing bajunya, sengaja menggoda Jeno. Wita, nama wanita itu, menarik dasi pria di hadapannya hingga tubuh Jeno sedikit mendekat ke arah Wita. Wanita seksi tersebut menatap genit ke arah Jeno. "Aku merindukanmu. Kenapa kamu tidak menemuiku? Sudah dua minggu kita tidak bertemu." Wita mencecar Jeno, ia sudah tidak sabar mendengar penjelasan Jeno. Menahan kekesalannya dan terus berusaha menggoda pria itu. "Aku sibuk. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan," jawabnya singkat. "Apa kamu lelah? Aku akan membantu merenggangkan otot-ototmu yang tegang dan membuamu rileks." Wita menarik kuat kembali dasi Juno hingga wajah Jeno begitu dekat dengannya dan hampir tidak berjarak. Wanita itu dengan cepat mencium bibir Jeno dengan begitu agresif. Jeno berusaha melepaskannya, tetapi Wita semakin mengganas, membuat Jeno tidak berdaya dan meladeni permainan Wita. *** Pagi hari, Naurin sudah berada di ruangannya dan mulai sibuk dengan pekerjaannya. Reva pun tidak usil menggodanya karena mereka sedang fokus dengan pekerjaan masing-masing. Zio, asisten Andra datang menghampiri Nauirn. "Permisi, Nona Naurin. Tuan Andra memanggil Anda," ucapnya sopan. Naurin menghentikan aktivitasnya dan mendongak, menatap ke arah Zio, di sebelah Naurin, Reva sudah memasang kedua telinga, mendengarkan obrolan Naurin dan Zio. "Memanggilku? Sepagi ini?" ulangnya. "Iya, Nona." Ada apa pagi-pagi Tuan Andra memanggilku? Naurin bangkit dan melangkah mengikuti Zio menuju ruangan Andra. Setibanya di sana, Zio mengetuk pintu dan mereka masuk setelah mendapat perintah dari yang empunyanya. "Permisi, Tuan. Ini Nona Naurin nya," jelas Zio. "Kau boleh keluar dulu. Saya mau bicara empat mata dengan Nona Naurin," pintanya. "Baik, Tuan." "Ada apa memanggilku?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN