Bab 3 Kesal

1111 Kata
Andra menghela napas sedikit kasar dan menautkan jemarinya. Menyandarkan dagu lancipnya pada tangan dengan meja sebagai penyangganya. Menatap intens ke arah Naurin. Wanita itu menunduk sambil meremas ujung pakaiannya. "Apa saya begitu membuatmu takut sampai kamu selalu menunduk saat melihat saya?" Bukannya menjawab, Andra malah balik bertanya, membuat Naurin semakin tidak berani menatapnya. Jantung wanita itu berdetak hebat. Andra memajukan sedikit tubuhnya. Membuatnya lebih dekat sedikit dengan Naurin. "Nona Naurin," panggilnya lembut. Naurin masih menunduk, ia sama sekali tidak mau menatap Andra yang terus menatapnya tanpa berkedip. "My little star," panggil Andra kembali. Naurin mendongak, kedua matanya membulat sempurna dengan panggilan Andra. "Kenapa? Kamu masih ingat dengan panggilan itu?" tanyanya lembut. Naurin menelan salivanya. Darahnya berdesir, napas wanita itu bergemuruh. Debaran di dadanya semakin kuat. Panggilan yang sudah lama tidak terdengar. Membawa Naurin dalam ingatan masa lalu. Membuat hatinya menjadi sakit, bagai tersayat belati. Andra menghela napas sedikit kasar, ia berdiri dan melangkah ke arah Naurin, berdiri tepat di hadapannya. Tubuhnya ia condongkan sedikit ke depan, kedua tangannya menggenggam gagang kursi. Mempertajam tatapannya kepada wanita yang pernah ia rindukan siang dan malam itu. Pemuda itu memajukan wajahnya hingga begitu dekat dan hampir tidak berjarak dengan Naurin. Wanita tersebut memalingkan wajah dan memejamkan kedua matanya. Tenggorokannya terlihat naik turun, menelan dengan susah payah ludahnya yang terasa sedikit pahit. "Ada yang ingin kamu katakan padaku?" tanyanya. Terdengar dingin, meski lirih, tetapi mampu membuat Naurin bergetar hebat. Embusan napas yang terasa ketika Andra bicara, menusuk kulit leher Naurin. Jiwa yang pernah terlena karena buaian, kini kembali bergejolak, hanya dengan suara lembut Andra yang berbisik di telinganya. Jantung Andra pun ikut bergemuruh, detaknya cukup kencang, seperti genderang mau perang. Ketukan nadinya berdenyut di atas normal. Darahnya berdesir menahan rasa, ketika ia menatap dengan begitu dekat wanita yang pernah ia puja dan ratukan dengan begitu hebat. Sebelah tangannya terangkat, bergetar ketika hendak menyentuh wajah Naurin. Menegakkan dagu wanita cantik yang kini wajahnya merona itu. Memperdalam tatapannya dan memaksa Naurin ikut melakukannya. Keduanya bersitatap. Bola mata yang bulat seperti mata kucing, bulu mata yang lentik, dan wajah yang mulus itu begitu tampak jelas di mata elang milik Andra. "Sempurna." Satu kata yang meski terucap pelan, tetapi mampu membuat Naurin menatap lelaki itu dengan tajam. "Apa yang Anda lakukan, Tuan?" tanyanya pelan. Pertanyaan Naurin membuyarkan lamunannya. Pria itu menghela napas sedikit kasar, tetapi tidak melepaskan tangannya dari dagu Naurin. "Menurutmu?" Naurin lagi-lagi menelan ludahnya. Debaran itu semakin kencang, tetapi kali ini, bukan perasaan suka, melainkan takut. Kenapa Andra berubah? Aku jadi takut menatapnya. Padahal, dulu aku sangat suka sekali dan ingin selalu ditatap olehnya. Naurin bergumam dalam hati. Merasa ngeri dengan tatapan dan ucapan Andra, meski ia berkata pelan dan lembut. "Naurin," panggilnya lembut. "Tu--Tuan. Tolong lepaskan saya. Saya ...." Kenapa wajah Naurin tampak pucat? Apa saya membuatnya takut? Tidak, saya harus bersikap lebih lembut dan hati-hati lagi, tidak boleh membuatnya takut. Kali ini Andra yang membatin. Pria itu merasa terkejut dengan perubahan wajah Naurin yang tampak ketakutan sekali. "Maaf, saya tidak bermaksud membuat kamu takut." Andra melepaskan tangannya dari dagu Naurin perlahan dan berdiri di hadapannya, lalu melangkah ke arah kursi dan duduk. Naurin menghela napas sedikit lega. "Saya mau bilang, mulai hari ini, kamu akan menjadi asisten pribadi saya," ucapnya dingin. "A--apa? Asisten pribadi?" Naurin terbelalak, mengulang kalimat Andra. Pria itu mengangguk yakin. "Tapi ... bukankah ada asisten Zio? Kenapa harus saya?" "Zio tetap asisten saya. Kamu juga asisten saya yang akan membantu menyiapkan keperluan saya. Kenapa saya memilih kamu? Karena saya tidak mudah mempercayai orang lain dan saya hanya inginkan kamu. Kamu pasti mengerti maksud saya," jelasnya serius. "Ta--tapi ...." "Ini perintah! Mulai hari ini kamu akan bekerja satu ruangan dengan saya." "Apa?" "Kenapa?" "Sa--saya belum siap. Barang-barang saya juga masih belum dibereskan." "Semua sudah diatur. Biar Zio yang membereskannya dan kamu bisa duduk di sebelah sana sebagai tempat kerjamu." Andra menjelaskan dengan tenang dan rinci, ia menunjuk ke arah sudut kiri tidak jauh dari mejanya. Naurin tidak dapat berkata-kata lagi, ia masih syok dengan semua ucapan Andra hari ini. *** Hari kedua Naurin menjadi asisten pribadi Andra, ia hanya duduk diam memperhatikan Andra yang sibuk dengan pekerjaannya. CEO muda itu tidak memberikan pekerjaan apa pun pada Naurin sejak wanita itu datang. Naurin merasa jenuh dan kesal dibuatnya, ia melangkah mendekat ke arah Andra dan duduk di hadapannya. "Kenapa Anda tidak memberikan pekerjaan kepadaku sedikit pun sejak saya datang?" tanyanya sedikit kesal. Andra menghentikan aktivitasnya dan menatap ke arah Naurin. Menghela napas sedikit kasar. "Pekerjaanmu hanya melihat saya bekerja saja," jawabnya santai. "Apa? Mana ada pekerjaan seperti itu?" "Ada." "Anda ...." "Tidak usah protes, nikmati saja. Saya Bos perusahaan ini, jadi terserah saya mau buat aturan apa pun," jelasnya kembali. "Dasar aneh," umpatnya sambil memonyongkan bibirnya. Andra tersenyum melihat pola tingkah Naurin yang menggemaskan. Naurin bertambah kesal dibuatnya. "Kalau begitu, cari orang lain saja. Saya tidak mau makan gaji buta begitu," protes Naurin. Wanita itu berdiri, ia hendak melangkah keluar ruangan Andra karena sudah jengah dengan sikap Andra yang dianggap seenaknya saja. "Kamu boleh keluar, tapi hanya sepuluh menit, ah tidak, lima menit saja. Lepas itu kembali." Naurin menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Andra dan menatap kesal. "Apa?" "Kenapa? Kalau begitu tiga menit saja." "Anda ...." "Lima menit atau tiga menit, kamu pilih saja." "Baik, lima menit." Naurin kembali melangkah. Namun, lagi-lagi langkahnya terhenti mendengar kalimat Andra. "Jangan telat! Potong gaji lima puluh persen kalau telat!" Naurin mengepalkan kedua tangannya, ia kesal sekali dengan ucapan Andra yang mengintimidasinya. Wanita itu melangkah sambil sedikit menghentakkan kakinya dengan perasaan semakin kesal. Andra tersenyum gemas melihat tingkah Naurin yang dianggapnya lucu. ~~~ Naurin kembali ke rumahnya dengan hati kesal. Seharian ia dibuat tidak karuan oleh Andra. Bahkan, pria itu memaksa untuk mengantarkan Naurin, meski wanita tersebut tidak mau. Apalagi, Andra seperti mengejeknya karena tinggal di apartemen sederhana. Satu jam yang lalu. "Jadi, kamu tinggal di sini?" tanyanya. Andra menatap ke arah bangunan sederhana di hadapannya yang tampak menjulang tinggi. "Iya, memang kenapa? Anda ingin mengejekku?" ucap Naurin ketus. Andra menghela napas sedikit kasar, ia menatap ke arah Naurin yang membuang muka dan tampak kesal dengan sikap dirinya. "Saya tidak berkata begitu, hanya bertanya saja. Kenapa kamu tampak kesal sekali?" "Ucapanmu seperti mengejekku." "Kamu terlalu perasa." "Terserah. Saya masuk dulu. Terima kasih sudah mengantarku." Naurin berlalu begitu saja, membuat Andra geleng kepala, tetapi ia tidak mencegah wanita itu pergi. Pria tersebut kembali menatap ke arah apartemen itu. Jadi, kamu selama ini tinggal di sini? Bukankah kamu sudah menikah? Kenapa suamimu membiarkan kamu tinggal di tempat ini seperti ini? Andra membatin, ia merasa prihatin dengan kondisi Naurin, tetapi tidak berani menanyakan lebih dalam, ia takut menyinggung perasaannya. "Saya akan mencari tahu sendiri tentang apa yang sebenarnya terjadi padamu, Naurin."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN