Naurin merasa jenuh karena ia sama sekali tidak melakukan pekerjaan apa pun selain memperhatikan Andra yang sibuk. Wanita itu sangat kesal dengan sikap Andra yang selalu membuat dirinya makan darah.
"Kamu kenapa?" tanya Andra
Pria itu menutup laptop dan memperhatikan Naurin yang tampak kesal dan tidak bersemangat. Pria itu menautkan alisnya.
Andra melangkah, mendekat ke arah Naurin dan duduk di hadapannya sambil menatap ke arah wanita cantik itu dengan lembut.
"Kenapa Anda melakukan semua ini padaku? Apa Anda ingin balas dendam denganku?"
Bukannya menjawab, Naurin malah balas bertanya, ia juga ingin tahu apa sebenarnya tujuan Andra melakukan itu semua padanya.
Andra menghela napas sedikit kasar. Mendekat ke arah Naurin dan duduk di hadapannya. Menatap wanita itu lembut.
"Balas dendam? Apa saya pernah mengatakan itu padamu?"
"Kalau Anda tidak ingin membalas dendam padaku, kenapa Anda lakukan ini padaku? Anda memindahkan pekerjaanku ke sini dan tidak memberikan sama sekali apa pun yang harus saya kerjakan. Apa saya harus menunggu dan memperhatikanmu seperti ini setiap hari?"
Naurin mengoceh, ia meluapkan semua kekesalannya kepada Andra yang sudah beberapa hari ini menguji dirinya dan membuatnya naik darah dengan sikap yang dianggap aneh oleh Naurin.
"Jadi, kamu ingin pekerjaan?" tanyanya.
"Iya."
"Baik."
Andra berjalan ke arah mejanya dan mengambil sebuah dokumen dalam map biru langit, lalu melangkah kembali ke arah Naurin.
"Ini, pekerjaan untukmu."
Andra berkata sambil menyerahkan dokumen itu kepada Naurin. Wanita itu melirik sekilas dan menatap ke arah Andra.
"Ini ...."
"Proyek yang harus kamu tangani."
"Proyek? Proyek apa?"
"Buka dan lihat sendiri."
Naurin mengambil dokumen itu dan membuka, serta membacanya. Kedua matanya membulat sempurna saat melihatnya.
"Apa? Proyek Cinta?" tanyanya ragu.
"Umm."
"Ma--maksud Anda apa?"
"Itu Proyek Cinta yang harus kamu tangani. Kamu penanggung jawabnya," jelasnya.
"S--saya benar-benar tidak mengerti maksud Anda, Tuan."
"Baca dan kamu akan mengerti."
Naurin membaca isi dokumen itu, ia merasa aneh dengan isinya. Naurin menutup map itu dan menatap ke arah Andra dengan penuh selidik.
"Aneh. Proyek macam apa ini. Sepanjang saya bekerja, belum pernah ada proyek seperti ini," ucapnya.
Naurin menggeleng, ia tidak habis pikir dengan kelakuan bosnya yang setiap hari membuat ia geleng dan sakit kepala.
"Proyek ini saya yang buat khusus untuk kamu. Saya ingin mengejar cintamu kembali," jelasnya.
"Apa? Saya sudah menikah, kenapa mengejarku?" alasan Naurin.
Andra tersenyum miring, ia mencondongkan tubuhnya, sedikit berdekatan dengan Naurin.
"Bukankah kamu sudah bercerai dengan suamimu? Lantas, apa saya salah jika mengejar kamu kembali?"
Naurin mendelik, ia tidak menyangka Andra akan mengetahuinya. Rahasia yang sengaja ia sembunyikan kini sudah terungkap.
" Dari mana Anda tahu soal itu? Apa Anda menyelidiki saya?" tanyanya curiga.
"Kamu tidak perlu tahu. Apa yang sudah dia lakukan padamu? Kenapa kamu bercerai dengannya?"
Lagi, Andra kembali bertanya kepada Naurin. Rasa ingin tahunya begitu dalam, ia sangat penasaran dan tidak sabar mendengar penjelasan Naurin.
Naurin terdiam dan tertunduk, menghela napas berat. Wanita itu sungguh tidak ingin Andra tahu masalah yang ia hadapi hingga bercerai.
"My little star," panggil Andra pelan.
Deg!
Jantung Naurin berdetak dua kali lebih cepat dari normal. Darahnya kembali berdesir setiap kali Andra memanggilnya dengan sebutan itu.
"Tolong jangan memanggilku seperti itu," pintanya lirih.
Andra melangkah, mendekati Naurin yang masih tertunduk. Pria itu meraih wajah Naurin dan menegakkannya.
"Apa dia menyakitimu? Kamu tidak bahagia dengannya hingga bercerai?" cecar Andra.
"Saya ...."
"Apa saya harus mencari tahu sendiri semuanya?"
"Tolong Anda jangan ikut campur urusan saya."
Andra tersenyum miring dan memperdalam tatapannya. Menangkup kan wajah Naurin yang sudah tampak memerah nenahan amarah.
"Mau cerita?"
Naurin menelan ludahnya. Helaan napasnya terdengar sedikit berat. Ada beban yang tidak ingin ia bagi dengan Andra.
"Saya sudah terlalu banyak membuat masalah dengan Anda. Saya tahu, Anda bisa lakukan apa pun untuk mendapatkan apa yang Anda mau. Namun, saya tidak ingin berbagi rasa dengan Anda," jelasnya pelan.
"Bukankah kamu sudah memberikan saya kesempatan mengejarmu? Kamu sudah setuju dengan Proyek Cinta itu. Apa kamu sudah membaca isi dari berkas Proyek Cinta itu?"
"Ini masalahku, tidak ada hubungannya dengan Proyek Cinta."
"Tentu saja ada. Point ke tiga dalam berkas itu tertulis, kamu harus cerita masalahmu padaku, jangan ada yang kamu tutupi, apalagi menjadi beban pikiranmu."
Naurin mendelik, Andra mengatakan itu dengan tegas, meski pelan. Naurin tidak menyangka jika pria itu akan membahasnya.
Wanita itu menepis tangan Andra dari wajahnya dan hendak melangkah, ia benar-benar tidak ingin Andra tahu semuanya. Sudah dapat dipastikan, Andra tidak akan tinggal diam.
Andra menarik pelan tangan Naurin hingga ia hampir tumbang. Lelaki iu dengan cepat menangkap dan membawa Naurin dalam pelukannya.
"Lepaskan saya!" pekiknya.
Andra tak menghiraukan, ia semakin erat medekap wanita itu dan mencium kepalanya.
"Tu--Tuan, tolong lepaskan saya!" rontanya.
"Panggil saya seperti biasa kamu memanggilku!" perintah Andra.
"Tidak mau!"
"Kalau begitu, jangan harap saya akan melepaskan kamu!"
"Anda ...."
"Masih tidak mau?"
"Saya hitung sampai tiga. Jika kamu tetap keras kepala seperti ini, saya tidak akan melepaskan dekapan ini!"
Naurin terdiam, kedua tangannya mengepal menahan amarah. Kemudian, ia memejamkan kedua matanya sejenak dan membukanya cepat.
"Satu, dua, ti ...."
"M--my bright sun."
"Ulangi!"
"My bright sun."
Andra tersenyum puas dan kembali mencium kepala Naurin. Kemudian, melepaskannya dan menggenggam kedua tangan Naurin.
"Mulai hari ini, kamu harus memanggil saya itu saat sedang berdua," pintanya tulus.
"Tapi ...."
"Tidak ada tawar menawar!"
Naurin menghela napas sedikit kasar dan mengangguk pelan. Keputusan itu sengaja ia buat agar tidak lagi berdebat dengan pria itu. Andra senang dan ia memeluk erat tubuh Naurin.
Wanita itu membiarkannya karena tidak ingin membuat Andra semakin menggila. Lelaki itu mengecup puncak kepala Naurin.
~~~
Naurin tampak tergesa keluar kantor, ia sengaja melakukannya agar tidak bertemu Andra yang pasti akan memaksa untuk mengantar dirinya. Benar saja, pria tampan bermata elang itu sudah ada di dalam mobil depan lobi ketika Naurin keluar dan langsung memberi kode kepada wanita tersebut untuk masuk ke dalam.
"Masuklah! " perintahnya.
Naurin melirik ke arah sekitar, ia takut ketahuan teman-temannya, terutama Reva yang selalu membuatnya pusing karena kecerewetannya.
Naurin menghentikan kakinya dan berlalu melewati mobil Andra. Pria itu menghela napas kasar dan meminta Zio melajukan kendaraannya mengikuti Naurin.
Tidak jauh dari kantor itu, Naurin melangkah cepat di trotoar. Andra meminta Zio menghentikan mobilnya dan turun, lalu melangkah mengikuti Naurin.
"Apa yang Anda lakukan, Tuan?"