Tanpa banyak bicara, Andra yang sudah gemas dengan sikap Naurin itu menarik pelan sebelah tangan wanita itu. Kemudian, Andra memanggul tubuh Naurin.
Wanita itu memukul-mukul punggung Andra sambil kedua kakinya ia ayunkan. Berharap Andra melepaskannya. Namun, Andra justru semakin kuat memegangnya dan melangkah menuju mobil.
Memaksa Naurin masuk ke dalam dan mengunci pintu. Naurin tampak kesal setengah mati dan menatap Andra tajam.
"Apa yang Anda lakukan? Kenapa memaksa saya?"
Nada bicara Naurin sedikit kencang. Wanita itu bertanya kesal kepada Andra yang menatapnya dengan lembut sambil tersenyum tipis. Membuat Naurin semakin emosi dibuatnya.
"Itu hukuman karena kamu tidak mendengarkan ucapan saya," ucapnya santai.
"Apa?"
"Tidak usah protes. Itu sudah tertera di dokumen Proyek Cinta. Setiap kali kamu membantah, saya akan memberi kamu hukuman," jelasnya.
"Anda ...."
"Sudahlah, jangan berdebat denganku. saya akan mengantarmu pulang."
"Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri."
"Atau, mau pulang ke rumahku?"
"A--"
"Zio, kita pulang ke rumahku!"
"Jangan! Ke rumahku saja."
"Baiklah, Zio. Ke rumah Nona Naurin."
"Baik, Tuan."
Setelah perdebatan cukup panjang, Naurin menyerah dan menuruti ucapan Andra, ia tidak ingin berdebat lagi karena sudah cukup lelah dengan pekerjaannya.
Zio hanya menggeleng sambil senyum-senyum melihat kelakuan majikannya yang tidak biasa ia lihat.
Senang sekali melihat Tuan Andra ceria seperti ini. Bahagia selalu, Tuan. Semoga Nona Naurin bisa terus di sisi Tuan Andra sehingga Tuan Andra bisa terus bahagia. Tuan dan Nyonya Besar pasti senang sekali dengan perubahan sikap Tuan Andra.
Zio membatin sambil memperhatikan bosnya dari spion dekat kemudi, ia senang melihat Andra kembali ceria dan menggemaskan seperti itu.
Naurin terkejut karena arah jalan itu bukan menunju apartemennya, melainkan tempat yang sama sekali belum pernah ia datangi.
"Kenapa ke arah sini? Ini bukan jalan ke arah apartemenku," ucapnya.
"Memang bukan."
"Apa Anda akan ...."
Andra menyentil pelan kening Naurin, membuat wanita itu sedikit menjerit dan memegangi keningnya yang memerah.
"Kenapa menyentil ku?"
"Supaya otakmu sadar. Memang saya semesum itu sampai kamu berpikir begitu padaku?"
Naurin memprotes sikap Andra, tetapi pria itu malah menjelaskan dengan santai, tanpa memedulikan wajah Naurin yang memerah menahan amarah.
"Lantas, kita mau ke mana?" tanyanya bingung.
"Ke rumahmu."
"Tapi, ini ...."
"Turun. Kita sudah sampai."
Naurin terbelalak, ia dan Andra memang sudah berada di depan gerbang apartemen, tetapi bukan apartemen sederhana seperti milik Naurin, melainkan bangunan mewah dan pasti mahal harganya.
"Apa maksud Anda sampai?"
Naurin bertanya bingung, ia tidak mengerti maksud ucapan Andra. Wanita itu belum bisa berpikir jernih.
"Masuk lah. Kamu akan tahu," ucapnya.
Andra menuntun pelan sebelah tangan Naurin tanpa banyak bicara. Naurin yang masih bingung hanya menurut saja.
Mereka menuju ke lantai sembilan dan melangkah ke arah bangunan nomor 1119 dan masuk menggunakan kartu.
"Mulai hari ini, kamu tinggal di sini. Saya berada di kamar depan. Jika butuh apa-apa, hubungi saya," jelasnya dingin.
"A--apa?"
"Jangan banyak berpikir. Lebih baik menurut saja, atau aku potong gaji kamu jika melawan," ancamnya.
Naurin mendengkus kesal. Kedua tangannya mengepal, rasanya ingin sekali dia memukul Andra yang selalu memaksanya. Namun, ia malas berdebat dengan Bos keras kepalanya itu.
***
Naurin tengah bersantai di sebuah kafe tak jauh dari tempat ia bekerja. Menikmati siang hari, duduk di dekat jendela sambil menyeruput secangkir latte dan kudapan di meja. Melepas penat yang mulai melanda dirinya.
Seorang pria bertubuh sedikit berisi dan tinggi sekitar 185 cm datang menghampiri, ketika ia melihat seseorang yang dikenalnya.
"Naurin," ucapnya.
Netranya menangkap sosok wanita yang sangat ia kenal. Pria itu melangkah mendekat ke arah Naurin dan berdiri di hadapan wanita berwajah cantik itu.
"Naurin. Akhirnya aku menemukanmu," ucapnya.
Pria itu menatap ke arah Naurin yang terkejut melihat dirinya. Jantungnya berdegup kencang, ketakutan melanda.
"Ka--kamu!" serunya.
Suaranya terdengar bergetar dan sedikit tersendat. Naurin masih syok melihat orang yang juga ia kenal.
"Akhirnya aku menemukanmu," ulangnya.
"Mau apa kamu ke sini?"
Nada bicara Naurin begitu ketus, ia tampak tidak suka dengan pria itu. Rasa sakitnya kembali datang dan menusuk ke relung hatinya.
"Kenapa kamu begitu ketus padaku? Kita bicara santai saja," ucapnya.
Pria itu menarik kursi dan duduk di hadapan Naurin. Wanita itu bangkit dan hendak pergi.
"Duduk sebentar. Aku ingin bicara denganmu," pintanya lembut.
"Aku harus kembali ke kantor."
Naurin mengambil tas dan hendak melangkah. Namun, pria itu menghentikan langkahnya.
"Naurin, aku mohon."
Naurin tersenyum kecut sambil menoleh ke arah pria itu. Menatapnya nanar menahan emosi.
"Sejak kapan seorang yang selalu angkuh sepertimu memohon kepada wanita sepertiku?"
Ucapannya meski pelan, tetapi dingin dan cukup membuat hati pria itu sakit.
"Naurin, aku ...."
"Jangan pernah panggil namaku! Aku tidak sudi mendengarnya!" serunya.
Naurin mengepalkan kedua tangannya dan lagi-lagi, kalimatnya terdengar semakin ketus.
"Na--"
Wanita itu melangkah pergi tanpa. Menghiraukan panggilan pria itu dengan hati kesal dan menahan amarah.
Pria itu termangu dan menatap punggung Naurin yang semakin menjauh, tidak ingin mengejarnya karena pasti akan membuat Naurin semakin kesal dibuatnya.
~~~
Naurin masuk ke ruangan dengan hati kesal, ia menjatuhkan tubuh bagian bawahnya di kursi dan menopang kan sebelah kepalanya di meja. Menghela napas sedikit kasar dan meremas ujung pakaiannya.
"Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi?" tanyanya kesal.
Andra yang baru kembali dari rapat mendapati Naurin yang tampak tidak bersemangat dan kesal, ia mendekatinya, menarik kursi di depan Naurin dan duduk sambil ikut menopang kan sebelah kepalanya menghadap Naurin.
Wanita yang tengah memejamkan kedua matanya itu sama sekali tidak menyadari kehadiran Andra. Pria itu mengangkat sebelah tangannya dan jari telunjuknya menyentuh hidung mancung miliknya.
Sentuhan lembut Andra membuat dirinya membuka mata perlahan dan ia terkejut mendapati Andra yang tengah menatapnya.
"Tu--Tuan Andra," ucapnya gugup.
Andra tersenyum tanpa melepaskan pandangannya, ia masih fokus menatap gemas wajah Naurin yang masih terlihat cantik, meski ia baru bangun tidur.
"Ma--maaf. Saat ketiduran," ucapnya gugup.
Naurin menegakkan kepalanya dan merapikan pakaian yang sedikit berantakan. Andra pun ikut bangkit dan terus menatap Naurin.
"Kamu tampak lelah sekali. Apa semalam kurang tidur?" tanyanya khawatir.
"Ahh, sa--saya baik-baik saja, hanya saja ... saya sedikit mengantuk karena kekenyangan," alasannya.
"Begitu, ya. Saya perhatikan, kamu seperti sedang menahan amarah. Wajahmu memerah dan rautnya seperti itu," jelasnya sambil kembali menatap Naurin.
"Anda salah lihat. Maaf, saya mau ke toilet cuci muka. Permisi."
Naurin yang tidak ingin diinterogasi Andra berusaha menghindar dan mencari alasan.
"Silakan."
Naurin gegas keluar ruangan. Wanita itu ke toilet dan membasuh wajahnya berkali-kali untuk menenangkan pikirannya. Kemudian, ia menatap ke arah kaca dan menghela napas sedikit panjang.
Terasa penat, seperti ada bebatuan yang menghimpit dadanya. Naurin tidak pernah menyangka akan bertemu dengan laki-laki itu kembali.
"Sial! Semuanya gara-gara dia! Aku jadi kacau begini!" serunya dengan geram.
Naurin kembali membasuh wajahnya dan mengelapnya dengan tisu. Kemudian, ia merapikan riasan wajahnya dan keluar.
"Anda ....."