Seorang wanita paruh baya menampar wajah Naurin dan menatapnya tajam. Wajahnya begitu tidak bersahabat, sementara satunya lagi tersenyum licik sambil melipat tangannya di d**a.
Kurang puas, wanita tua itu ingin menampar wajah Naurin kembali. Namun, dengan cepat Naurin menangkisnya dan mencengkeram pergelangan tangannya.
"Berani kamu melawanku! Dasar jalang!" cacinya dengan wajah memerah menahan amarah.
"Tante apa-apaan, sih? Dateng-dateng pukul dan mencaci ku. Aku bisa laporkan Tante ke polisi tahu, dengan tuduhan tidakan tidak menyenangkan dan pemukulan. Kena pasal berlapis nanti!" ucap Naurin dengan sedikit ketus.
Wanita itu masih memegangi wajahnya yang memerah dan sudut bibir yang sedikit berdarah akibat pukulan keras yang diberikan oleh Jini.
"Berani kamu mau melaporkan ku! Jalang sepergimu tidak berhak melakukan itu! Memangnya kenapa kalau aku pukul kamu? Nggak Terima? Kamu pantas dipukul bahkan diseret!" ketusnya.
"Tante nggak berhak melakukan itu padaku! Aku bukan menantu Tante lagi. Oh, Tante melakukan ini untuk membelanya? Kenapa? Tidak berani melawan sendiri, lalu meminta bantuan?" ucap Naurin sambil senyum tipis.
Wanita berpara cantik itu melirik ke arah Wita dan menunjuknya sedikit kasar.
"Kenapa memang kalau aku mau balas dendam? Jalang sepertimu memang pantas diberi pelajaran! Baru berpisah dari putraku, sudah mencari pria liar untuk memuaskanmu. Sungguh tidak tahu malu!" sarkasnya.
"Aku mencari pria lain atau tidak, itu bukan urusan Tante. Lagi pun, ngapain Tante sibuk urusin hidup aku. Kalian ya, mending urus diri masing-masjng daripada kepoin hidup aku terus!" ucap Naurin.
Meski ia berkata pelan, tetapi cukup menohok dan memancing emosi Jini dan Wita.
"Oh, sudah berani ya kamu melawan aku? Semuanya, lihat! Perempuan murahan ini berani memaki orang tua! Dia ini tidak tahu malu, mencari pria liar untuk memuaskannya. Dia meninggalkan putraku karena ingin bebas bersama pria liar yang lebih kaya. Bahkan dia bertindak kasar padaku. Lihatlah! Dia mencekal tanganku. Aduh, sakit sekali."
Jini mengeluarkan kata-kata menghina dan berusaha memojokkan Naurin. Berharap semua orang yang banyak memperhatikan sejak tadi mau membantunya dan membuat Naurin tidak bisa berkutik.
"Benar sekali! Dia juga menggoda kekasihku. Perempuan ini benar-benar tidak tahu diri. Lihat penampilannya, dia berbelanja sesuka hati dan menelantarkan suaminya," lanjut Wita.
Wanita ssksi itu ikut membantu Jini memojokkan Naurin agar semua bisa memaki dan menghina perempuan tersebut.
"Dasar tidak tahu malu! Lepaskan tangannya! Kamu tidak takut berdosa menyakiti orang tua seperti itu?" maki salah seorang dari mereka.
"Benar! Kamu jalang tidak punya perasaan. Menelantarkan suami demi kesenangan sendiri!"
"Iya, benar."
Wita dan Jini tersenyum licik, merasa menang berhasil membuat Naurin malu dan dihina. Sementara Naurin, dia tetap tenang dan menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis.
"Berhenti memakiku! Asal kalian tahu, wanita tua ini adalah mantan mertuaku dan wanita di sebelahnya, dia adalah wanita yang sudah merebut suami dan menghancurkan rumah tanggaku! Dia sudah memukulku! Lihat ini, bekas pukulannya. Aku hanya mencegahnya melakukan itu lagi!" seru Naurin menjelaskan.
"Jadi seperti itu ya. Kita salah paham."
"Iya, ya."
"Jangan dengarkan! Dia hanya mencari pembelaan agar tidak di salahkan. Dia ...."
"Terserah kalian mau percaya atau tidak. Di sini ada banyak CCTV. Silakan kalian periksa siapa yang salah! Aku malas berdebat dengan Anda, Tante."
Naurin menghempaskan sebelah tangan Jini yang ia cekal. Kemudian berlalu meninggalkan dua wanita menyebalkan itu yang masih terdiam dan kerumunan orang yang masih bergosip.
~~~
Naurin menghempaskan tubuhnya di sofa dan membuang asal tasnya. Meletakan belanjaan di meja. Menghela napas kasar dan kedua tangannya mengepal. Tampak sedang menahan amarah.
"Dasar menyebalkan! Bisa-bisanya aku ketemu dua wanita itu? Pakai pukul aku lagi! Sial!" ocehnya dengan geram.
Andra yang sudah pulang dan keluar dari kamar menghampiri istrinya dan melihat kesayangannya itu sedang menggerutu dan mengepalkan kedua tangannya.
"Sayang, kamu sudah pulang? Kenapa? Sepertinya, kamu sedang tidak senang?" tanya Andra penasaran sambil duduk di samping Naurin.
"Ka--Kak Andra. Kamu sudah pulang?" tanyanya balik.
"Emm. Lagi kesel sama siapa, sampai nggak lihat saya?" tanyanya lagi.
Naurin menghela napas kasar dan melipat kedua tangannya di d**a. Wanita itu melirik sekilas dan membuang muka. Tidak mau menatap Andra lebih lama.
"Tunggu! Wajah kamu kenapa? Kok seperti memar gitu? Itu bibir kamu juga kenapa, kok berdarah?" Penasaran Andra.
"Emm, ini ...."
"Jujur, kamu kenapa?"
"Aku ... ini--"
"Naurin," panggil Andra lembut.
Naurin menarik napas dalam. "Tadi, aku ketemu Tante Jini dan Wita. Datang-datang dia menampar dan memakiku. Dia dan Wita juga hampir memprovokasi orang-orang untuk menghina dan memakiku. Untung saja aku bisa mengatasinya," jujur Naurin.
"Apa? Maksud kamu Tante Jini mamanya Jeno dan Wita kekasihnya Jeno? Mereka nyerang kamu?"
Lagi, Andra melayangkan pertanyaan yang belum dijawab Naurin. Pria itu geram mendengarnya.
"Coba saya lihat wajahmu."
Andra berkata sambil memaksa wajah Naurin menghadap dan menangkupkannya. Tampak memar memang dan masih ada bekas gambar tangan di sana. Sudut bibirnya juga masih ada sisa darah dan sedikit sobek.
Pria itu menahan kesal dan marah melihat kondisi istrinya yang cukup serius.
"Ahh! Sakit!" seru Naurin meringis.
"Maaf, tunggu sebentar!"
Andra melangkah ke ruang keluarga dan mengambil kotak obat di dalam lemari. Kemudian, membawanya ke ruang tamu. Pria itu duduk kembali di samping Naurin dan memberikan obat ke wajah wanita itu.
"Aww!" pekik Naurin.
"Maaf."
Andra meniup pelan pipi Naurin sambil terus menyapu obat. Hatinya sakit melihat Naurin terluka.
"Lain kali, jangan pergi sendiri. Saya akan siapkan orang untuk menjagamu, supaya hal ini tidak terjadi lagi," ucap Andra.
Andra merapikan kembali obat-obatan itu dan menaruhnya dalam kotak obat. Kemudian, ia mengecup puncak kepala Naurin.
"Tidak perlu. Lagipun, ini hanya luka kecil saja," tolak Naurin berusaha terlihat baik-baaik saja.
"Luka kecil katamu? Kamu sampai meringis begitu kamu bilang luka kecil. Dengar, ya! Tidak ada yang boleh menyakitimu dan membuat kamu terluka, meski hanya seujung kuku kuku. Saya tidak akan memaafkan siapa pun yang menyakitimu!"
Andra merasa sedikit kesal dengan penolakan Naurin. Pria itu merasa sedikit bersalah karena tidak bisa menjaga dengan baik istrinya.
"Aku minta maaf membuatmu khawatir. Namun, sungguh tidak usah. Aku tidak suka ada yang selalu mengawasiku. Tolong jangan ...."
"No debat! Tidak ada penolakan. Kamu tidak boleh pergi sendiri! Mulai hari ini, kamu harus pergi sama pengawal dan supir. Jika kamu tidak mau nurut, saya tidak akan mengizinkan kamu keluar rumah. Paham!"
Andra memberikan ulti pada Naurin, ia yang begitu mengkhawatirkan istrinya mulai posesif dan sedikit ketat. Sungguh, dia tidak ingin melihat Naurin disakiti apalagi sampai terluka seperti itu.
"Aku ...."